9/07/2013

Rencana Fir'aun Membuat Menara Langit

Oleh Afriza Hanifa



Istana Fir'aun terguncang hebat. Sang raja dikalahkan

begitu saja oleh pemuda belia bernama Musa. Tipu dayanya memanggil para

ahli sihir dari penjuru negeri Mesir berakhir kekalahan.



Alih-alih mengalahkan Musa, para penyihir malah tertunduk sujud menyembah

Tuhan Musa dan enggan lagi menuhankan Fir'aun.



Fir'aun geram bukan kepalang. Ia mengamuk di atas singgasananya. Para

menteri dan orang-orang disampingnya menjadi luapan kemarahannya.

Semuanya dicaci kemudian diusir dari istananya.



Fir'aun menyendiri sembari menenggak anggur. Namun kemarahannya tak

kunjung reda. Ia pun memanggil kembali semua menteri dan pejabat kerajaan

untuk menghadapnya segera.



Takut-takut, para pejabat memasuki istana. Melihat rajanya yang masih

emosional, makin takut hati mereka. Sebentar lagi, raja negeri Mesir ini

pasti meledak. Wajah sang raja tertekuk geram.



Ia seakan baru saja ditampar keras oleh Musa. Sang Nabiyullah membuktikan

ketuhanan Fir'aun palsu belaka. Ia sekedar manusia lemah yang berdusta

mengaku Tuhan.



Ketika semua pembesar telah berkumpul, Fir'aun tiba-tiba bertanya pada

perdana menterinya, "Hai Haman, Apakah aku ini seorang pendusta?" teriak

Fir'aun.



Hamman, pengikut setia Fir'aun pun langsung bertekuk lutut kemudian

meyahut, "Siapa yang berani menuduh baginda Fir'aun sebagai pembohong?!"

ujarnya membela.



Fir'aun pun berkata, "Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di Surga?"

ujar penguasa negeri piramida, geram."Musa telah berdusta!" ujar Hamman

segera. Ia tak ingn tuannya marah.



Namun Fir'aun tak puas dengan jawaban Hamman. Ia pun memalingkan wajahnya

dengan wajah masih merah padam. "Saya tahu Musa itu hanyalah tukang sihir

yang berdusta," ujar Fir'aun.



Fir'aun kembali memandang Hamman dengan ide tipu daya yang lain, "Wahai

pembesarku, akulah Tuhan kalian. Bersama Hamman, bagunlah untukku sebuah

menara yang menjulang tinggi supaya aku sampai higga pintu-pintu langit.

Aku ingin melihat Tuhan Musa, dan aku tahu bahwa Musa itu hanyalah

seorang pendusta," ujar Fir'aun.



Hati Fir'aun benar-benar tertutup. Ia terhalang menuju jalan yang lurus.

Pun para pembesarnya tak dapat menolak perintah sang raja. Hamman pun

segera memperintahkan para pembesar lain untuk memenuhi keinginan

Fir'aun. Namun itu hanyalah sifat munafik Hamman.



Ia sebenarnya tahu betul bahwa mustahil membangun menara seperti yang

diinginkan Fir'aun. Bahkan meski peradaban Mesir kala itu dipandang maju,

membangun menara hingga pintu langit merupakan perkara ajaib yang tak

mampu dilakukan. Kendati demikian, ia mengiyakan perintah Fir'aun agar

sang raja tak murka padanya.



Hingga kemudian, Hamman dengan kedudukannya meemberikan pengaruh bagi

keputusan raja. Ia dengan mulut manisnya berusaha memuja Fir'aun.



"Namun paduka, untuk pertama kalinya saya merasa keberatan. Kendati Anda

telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapapun

di langit. Karena memang tidak ada Tuhan selain Anda," ujar Hamman.



Mendengarnya, Fir'aun langsung berbangga diri dan memuja diri sendiri

dengan ucapan Hamman. Fir'aun pun kemudian mendeklarasikan diri kembali

sebagai Tuhan. "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu

selain aku," ujar Fir'aun.



Fir'aun pun kemudian menyebarkan rumor di tengah masyarakat. Setiap orang

yang berani melawannya dan menyembah selainnya, maka akan mendapat

hukuman mati. Fir'aun memperketat militernya. Ia menyebar semua aparat

untuk menjaga eksistensinya sebagai Tuhan.



Bani Israil pun dirundung teror Fir'aun tersebut. Apalagi Hamman

mengusulkan agar Fir'aun membunuh setiap pria dan menodai setiap wanita

diantara para pengikut Musa.



Semakin hari, Bani Israil tak kuat dengan siksaan Fir'aun. Mereka tak

lagi sabar dengan keimanan. Bukan Bani Israil jika tak melawan nabi

mereka.



Berbondong, mereka pun menemui Nabi Musa dan berkata, "Kami memang telah

menderita masalah sebelum Anda datang kepada kami. Namun kami juga tetap

menderita setelah Anda datang pada kami," keluh mereka.



Dengan sabar, Musa hanya menjawab, "Mudah-mudahan Allah membinasakan

musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat

bagaimana perbuatanmu,"jawab Nabiyullah.



Sebagaimana diketahui dalam kisah Nabi Musa, Allah di kemudian hari

menyelamatkan Bani Israil dan membinasakan Fir'un, Hamman dan semua bala

tentara mereka.



"Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami

perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu

mereka khawatirkan," surah Al Qashshash ayat 6.



Keterangan ayat menyebutkan bahwa yang dimaksud kekhawatiran Fir'aun dan

Hamman ialah kerajaan yang akan hancur oleh Bani Israil. Oleh karena

kekhawatiran tersebut, pemerintahan Fir'aun menyiksa Bani Israil. Namun

Allah selalu menyelamatkan hambaNya dan membela nabiNya.



Kisah Hamman tersebut dikisahkan dlam kitabullah dalam beberapa surat,

diantaranya dalam Surah Al Qashshash ayat 6 dan ayat 38, Surah Al Mu'min

ayat 36-37, serta Surah Al Ankabut ayat 38. Rujuklah kitab tafsir

"Qashshashul Anbiya" karya Ibnu Katsir untuk kisah lengkap perjalanan

hidup dan dakwah Nabiyullah Musa Alaihissalam.



Redaktur : A.Syalaby Ichsan

Minggu, 01 September 2013



Sumber REPUBLIKA.CO.ID,





--

ttd.





M. Alie Marzen
 

Pertanyaan Terkait Rencana Fir'aun Membuat Menara Langit

Berlangganan

Suka dengan Jawaban di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tidak puas dengan jawaban ini?, silahkan tambahkan Jawaban alternatif lain yang lebih tepat.