9/12/2013

Memaknai Musibah Dengan Kesabaran

Oleh Syarifah SPd*



Hari berganti hari, masa berganti masa detik berganti detik. Hidup

adalah sebuah ketidak pastian, namun perpindahan adalah suatu hal yang

pasti. Cobaan datang mendera bertubi tubi, entah itu nikmat atau

musibah. Semua adalah sepaket ujian yang telah Allah siapkan untuk

kita sebagai fitrah kita manusia.



Bila dianalogikan layaknya sebuah baja. Agar menjadi baja yang bagus

dan bernilai pun harus ditempa dan di panaskan berkali kali agar

menjadi besi yang amat berharga dan bernilai jual. Begitu pula kita,

manusia, perlu di uji berkali kali agar mental menjadi lebih kuat dan

derajat kita semakin meningkat di sisi Allah SWT.



Mukmin yang kuat, tak akan terpental hanya karena pukulan badai hidup

yang menyerangnya. Ia akan segera bangkit dari keterpurukan nya dan

belajar untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan yang di alaminya.



Kasih sayang Allah tidak selalu berwujud kesenangan, melimpahnya

harta, tercapainya segala keinginan, dan jauh dari berbagai musibah.

Justru bisa jadi sebaliknya. Orang yang mendapatkan berbagai

kesenangan itulah yang tidak dicintai-Nya. Orang tersebut dibiarkan

tenggelam dalam kesenangan dunia sampai tiba ajalnya. Pada saat itu

semua kesenangan dicabut dan diganti dengan berbagai siksa yang

mengerikan, baik ketika di kubur, di padang mahsyar, maupun di neraka.



Jangan mengira pula bahwa nikmat yang di peroleh para pelaku maksiat

yang terus menerus tanpa musibah itu adalah rahmat dari Allah, bisa

jadi itu tipu daya Allah. Bisa jadi itu istidraj, dimana Allah

membiarkan hambanya memperoleh segala yang ia kehendaki sementara

adzab yang nyata telah menanti di akhirat kelak.



Sungguh celaka orang yang bermain main dengan larangan Allah. Ia larut

dan terlena oleh nikmat dunia yang menipu lagi menjerumuskan. Sungguh

beruntunglah orang orang yang bersabar menerima musibah dan memahami

hakikat bahwa musibah itu pada dasarnya adalah sebuah proses untuk

menghapuskan dosa dosanya.



"Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah

segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki

keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan

disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat." (Terjemah hadits

riwayat Muslim)



Setiap musibah sudah digariskan dan ditentukan oleh sang Pencipta

yaitu Allah SWT. Manusia tidak akan pernah tahu kapan ajal akan

menjemput karena itu merupakan sebuah ketetapan dari Allah yang tiada

mengetahui kecuali Allah semata.



Adakalanya musibah merupakan sebuah ujian dari Allah SWT dan

adakalanya pula musibah tersebut merupakan teguran atau bahkan

laknat/adzab dari Allah SWT. Musibah bisa menjadi peluang koreksi

batin. Boleh jadi kesulitan itu bersumber dari diri sendiri. Kita

sendiri yang mengundang permasalahan. Dosa-dosa menutup kita dari

kasih sayang Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita perbuat baik

terhadap Allah maupun terhadap manusia.



Musibah kadang datang untuk memperingatkan kita, sedikit mencubit

kita, agar segera tersadar dan kembali ke jalan Allah setelah beberapa

waktu tersesat. Awalnya hanya cubitan kecil. Jika kita tidak juga

merasa, kemudian diingatkan dengan dipukul sedikit keras.



Jika tidak terasa juga kemudian dipukul dengan tenaga yang lebih

besar. Bukankah kadang seseorang harus disentak atau ditendang agar

tidak terperosok ke dalam jurang yang dalam. Karena toh sakit akibat

jatuh ke dalam jurang jauh lebih fatal dibanding sakit akibat

ditendang atau disentak untuk mengingatkan, membuat kita bertafakkur,

mengistirahatkan hati sejenak dan merenungi dimana kah letak kesalahan

kita.



Sebagaimana terdapat dalam firman Allah surah an-nisa ayat 79 yang

artinya: "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah,dan apa

saja bencana yang menimpamu,maka dari (kesalahan)dirimu sendiri...(QS

An-Nisaa :79)



Kala musibah sebagai ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya

maka setiap ujian ini akan disesuaikan dengan tingkat ketakwaan

seorang hamba tersebut. Sudah barang tentu manusia yang paling

bertakwa akan diuji dengan ujian yang semakin berat sesuai dengan

tingkatan dan kadar iman serta takwanya kepada sang Kholiq Robbul

'Izzati.



Seperti halnya seorang yang masih dalam bangku sekolah setiap level

atau jenjang pendidikan memiliki instrumen ujian yang berbeda

berdasarkan tingkatan jenjang pendidikan tersebut. Ujian siswa anak

Sekolah Dasar (SD) akan berbeda tingkat kesukarannya dengan ujian

siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), demikian halnya dengan ujian dalam

kehidupan ini pasti ada tingkatan atau level.



Selain sebagai sebuah ujian, terkadang musibah merupakan suatu teguran

dari Allah SWT atas perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang

cenderung melakukan hal-hal yang menjurus pada sebuah kemaksiatan atau

kemungkaran. Bahkan yang lebih mengerikan lagi apabila musibah

tersebut merupakan suatu adzab yang diberikan Allah kepada hamba-Nya

yang tentunya adalah hamba yang ingkar, kufur, dan melanggar perintah

agama.



Terkait dengan hal tersebut wajib percaya bahwa segala sesuatu yang

telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu, menurut apa yang

telah ditentukan dan ditetapkan oleh Tuhan Allah, sejak sebelumnya

(zaman azali). Jadi segala sesuatu itu (nasib baik dan buruk) sudah

diatur dengan rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang

tertentu.



Tetapi kita tidak dapat mengetahuinya sebelum terjadi. Rencana

sebelumnya itu Qadar atau Takdir. Namun kalau kita bisa menerima

dengan ikhlas atas ketetapan-Nya,Insya Allah kita akan terhindar dari

perasaan frustasi dan putus asa karena seseorang yang putus asa akan

sendirian di dunia ini dan tidak mempunyai jalan keluar. Sungguh tidak

pantas lagi jika ada musibah yang sebenarnya akan meninggikan kita,

justru kita menghujat Allah, mengeluhkannya, membenci Allah.



Mulai sekarang mari kita ubah persepsi kita. Apakah yang akan menimpa

kita, entah nikmat atau musibah, kita hadapi dengan ikhlas, ridha

karena semuanya adalah kasih sayang dari Allah untuk meninggikan kita.

Dan mari kita syukuri dengan sikap sabar dan syukur. Bersyukur dengan

semua potensi di jasad dan jiwa kita yang Allah karuniakan, dengan

mengabdi sebaik-baiknya, bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang

sebenarnya, menjalankan Islam secara kaaffah. Insya Allah.



"....Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan

boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk

bagimu,Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui."(QS

Al-Baqarah:216)





* Penulis adalah Alumnus IAIN Antasari Banjarmasin 2010 Jurusan

Pendidikan Bahasa Inggris



Sumber : REPUBLIKA.CO.ID,



Redaktur : Heri Ruslan

Jumat, 30 Agustus 2013, 15:01 WIB







--

ttd.





M. Alie Marzen
 

Pertanyaan Terkait Memaknai Musibah Dengan Kesabaran

Berlangganan

Suka dengan Jawaban di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tidak puas dengan jawaban ini?, silahkan tambahkan Jawaban alternatif lain yang lebih tepat.