8/07/2012

Awal Punahnya Peradaban Sebuah Bangsa

Oleh : Muhammad Abdussalim



Pesatnya pertumbuhan pembangunan, pesatnya arus globalisasi dan modernisasi di berbagai daerah, menyebabkan lunturnya berbagai kebudayaan  daerah. Banyak kebudayaan yang Luhur, indah dan sangat bermakna tergantikan oleh budaya-budaya asing yang baru kita kenal dan tentunya banyak menyebabkan kerusakan moral.

  Namun, sebagian dari kita tidak menyadari akan hal tersebut. Karena masing-masing dari diri kita juga ikut "berpatisipasi" dalam melancarkan pelunturan "jati diri".  Karena kita masih berkiblat pada dunia barat yang memiliki budaya yang sangat bertentangan dengan budaya luhur kita. Beberapa faktor penyebab lunturnya kebudayaandaerah yang ditemui dan setiap hari ada di sekitar kita. Oleh karena itu, untuk menjaga agar budaya daerah kita tidak semakin memudar, perlu kita sadari serta berusaha untuk menyaring hal-hal yang kita dapatkan tiap harinya. Agar tidak kita ambil begitu saja dan melupakan kebudayaan sendiri. Akhirnya menjadi sebuah bangsa yang kehilangan jati diri. Kehilangan jati diri sama rendahnya seperti pelacur yang menjual diri dan tidak punya harga diri. Bangsa yang kehilangan jati diri menjadi bangsa budah negara lain !!. Sadarilah hal ini !!

Uneg-Uneg wong jowo

Dalam hal ini, saya mengambil contoh fenomena budaya jawa, bukan bermaksud kesukuan, tapi saya ambil contoh lingkungan di mana saya tinggal. Yaitu di kota batu jawa timur. Dekat saja, di lingkungan tempat tinggal saya merasa apresiasi masyarakat terhadap budaya jawa sudah mulai luntur. Apakah ini pengaruh dari globalisasi, mungkin salah satunya iya. Terhadap anak - anak kecil, orang tua sudah jarang berbahasa Jawa, tapi Indonesia, atau malah bahasa Inggris.

Mungkin karena mereka menganggap berbahasa Indonesia terkesan lebih terhormat begitu daripada berbahasa Jawa. Orang tua juga sibuk mengajari atau mengkursuskan anaknya bahasa asing sejak dini, bisa bahasa Inggris, Jepang atau malah Mandarin dan Jerman. Bila di tempat saya ada pelajaran muatan lokal yang dinamakan Bahasa Daerah,maka nilai raport di matpel itu akan di lihat belakangan. Menunjukkan betapa kurang pentingnya muatan lokal ini di mata mereka. Untuk orang -orang generasi saya saja ,sudah banyak di antara kami yang tidak bisa membedakan silsilah yang mana bahasa krama inggil,krama madya atau ngoko dan bingung kepada siapa saja kami harus menggunakan itu.

Di salah satu TV lokal, acara dansa nya berdurasi lebih lama daripada acara daerah seperti campur sari atau guyonan ala jawa timur. Anak - anak sekarang lebih kenal Harry Potter daripada cerita pewayangan atau babad tanah jawi. Mereka lebih kenal nyanyian Justin Bieber daripada ilir -ilir atau tembang macapat. Lebih mengenal sejarah berdirinya tembok china karena untuk pertahanan terhadap suku bar bar daripada sejarah keraton Yogyakarta atau keraton Solo. Tentu saja tidak buruk untuk mengenal peradaban dunia, tapi hendaknya sejarah daerah sendiri juga tidak dilupakan.

Sebenarnya sangat disayangkan sekali fenomena seperti ini terjadi, karena siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini kalo bukan kita sendiri. Bukankan salah satu pemicu munculnya Bhineka Tunggal Ika itu karena keragaman budaya seperti ini, kalo budaya sudah seragam kan ga ada yang namanya bhineka. Bukankah ini ciri khas, keragaman budaya kan bukan pemecah tapi malah memperkaya Indonesia. Kita sering heboh dan marah kalo budaya kita sudah di klaim negara lain. Oleh karena itu marilah kita kembali ke akar budaya kita, sambil juga belajar budaya dunia. Jangan pernah kita lupa akan kekayaan budaya sendiri.

Saudara-saudara kita yang di Suriname saja melestarikan. Bagaimana mereka begitu menghargai bahasa jawa,sekalipun sebagian besar mereka tidak pernah menginjak tanah jawa karena sudah lahir dan besar di sana. Karena mereka paham, Jawa adalah asal muasal mereka. Di salah satu acara TV, dapat kita lihat bahwa warga suriname terutama yang berasal dari Jawa masih sangat menjunjung budaya Jawa, entah itu melestarikan ludruk (drama jawa timur an),kuda lumping, reog, campur sari,dan beberapa menteri mereka yang keturunan Indonesia masih lancar dan fasih berbahasa Jawa sesuai etika. Padahal di negara mereka, beragam asal penduduknya , di sana orang jawa juga bukan mayoritas, tentu budaya dari banyak negara sangat mungkin membuat mereka lupa budaya asal. Tapi ternyata mereka, saudara - saudara yang berasal dari negara kita mampu mempertahankannya, tentunya jika kita mau, disini , di Indonesia lebih mudah untuk mempertahankan.


Kehidupan ala Barat dan Kerusakan Moral

Melihat kenyataan sekarang ini sungguh memprihatinkan. khususnya terhadap moral dan perilaku generasi penerus bangsa yang mulai gemar bertingkah laku dan perpakaian dan berbahasa gaul ala barat. Akan tetapi malu dengan budaya sendiri hanya karena malu dibilang "norak","kuno" "jadul" dan sebagainya. Inilah zaman modernisasi atau zaman globalisasi. Yang bercirikan cepatnya perubahan sosial dan teknologi informasi. Segalanya berlalu begitu cepat. Yang hari ini muncul dan hari besok sudah dibilang ketinggalan jaman. yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan cepat tertinggal peradaban modern. Bisa dibilang orang "gaptek" atau gagap teknologi (tidak tahu menahu seluk beluk teknologi dan informasi modern). Karena anak seusia TK saja barangkali jaman sekarang ini sudah kenal namanya chatting-an atau facebook-an apalagi yang ABG / remaja. Dan yang saya heran orang dewasa bahkan kakek nenekpun ikut-ikutan tren masa kini dengan bergaya ala remaja dengan membawa telepon genggam atau hp sambil chatingan dan sms atau facebookan dengan  teman mereka. Sungguh hal yang agak janggal namun tidak semua orang mau menyadari hal ini. Karena seharusnya yang lebih tua, yang dewasa, apalagi yang tua renta seharusnya menjadi panutan bagi generasi penerusnya supaya jangan sampai terlalu terperosok dalam arus kebudayaan barat namun melupakan jati dirinya sebagai orang indonesia. Bangsa kita adalah sebuah bangsa yang mempunyai perdaban dan budaya, adat istiadat  yang beragam. Namun sebanyak apapun kekayaan budaya yang kita miliki akan sirna ditelan jaman jika tak ada yang mau melestarikan.

Hanya sedikit orang yang mau menyelamatkan "identitas diri" atau "jati diri" ditengah cepatnya perubahan peradaban sosial. Yaitu segelintir diantara kita yang tidak terlalu mempersoalkan gengsi ala barat dan segala tiruannya namun lebih cenderung gemar melestarikan budaya adat istiadat sendiri. Sedangkan budaya asing yang masuk tidak langsung saja dikonsumsi mentah-mentah, melainkan disaring dan dicocokan dengan budaya luhur sendiri. Yang jelek dibuang, yang baik dipakai. dan juga tidak terlalu fanatik dengan budaya sendiri sehingga menjadi anti dengan teknologi akhirnya jadi orang yang gaptek. Orang gaptek dijaman sekarang ini akan mudah sekali tertipu orang lain dalam segala urusan.

Awal punahnya peradaban bangsa kita

Dan segala kerusakan moral para remaja kita sekarang ini sesungguhnya tidak lepas dari pengaruh globalisasi dan invasi budaya barat. Karena bodoh dan kolotnya bangsa kita adalah budaya yang jelek dari barat gemar ditiru namun budaya yang baik misalnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh barat jarang ditiru atau dipelajari. Yang ditiru hanya budaya yang galomur, ngawur dan amburadul. Misalnya budaya konsumtif belanja di Mall-Mall biar dikira orang kaya dan tidak mau belanja dipasar tradisional karena menganggap pasarnya orang miskin, kemudian budaya pacaran, budaya pergaulan bebas atau free sex, narkoba, miras, membuat gank-gank jalanan, tawuran, berpakaian ala rok mini dan sebagainya.

Akhirnya yang terjadi adalah bangsa kita menjadi bangsa yang semakin bodoh namun sombong dengan gengsi ala baratnya. Bangsa yang miskin namun sok kaya dengan kemana-mana nenteng laptop sama Hp padahal cuman untuk facebookan. Bangsa yang kaya akan budaya luhur namun telah menjadi bangsa yang miskin peradaban dan tengah dilanda krisis moral. Bangsa kita ini hakikatnya sedang dijajah habis-habisan dalam hal pemikiran dan budaya kehidupan. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa bangsa kita sedang menuju kehancuran. Seperti yang dialami kaum yang punah terdahulu karena berawal dari kerusakan moral yang meraja lela.

Agama sekarang ini hanya menjadi topeng untuk menutupi sebuah kebohongan. Dan banyak ilmu dicari bukan untuk membangun negri namun untuk merusak negri contohnya para koruptor bukankah mereka orang intelek dan terpelajar?. Mereka ramai-ramai berebut kursi jabatan lalu saling menonjok dan menjatuhkan. Mereka ramai-ramai dalam berbisnis tidak peduli caranya halal atau haram. Ditengah krisis moral seperti itu rakyat kecil hanya jadi korban kebuasan penguasa lalu fakir miskin, anak yatim, kaum lemah (dhuafa') dan anak-anak jalanan maupun tuna wisma hanya menjadi sebuah tontonan orang lewat dijalan raya. Tanpa ada sedikitpun segelintir manusia yang masih peduli dengan sesamanya.

Jika ini semua kita biarkan maka tak pelak bangsa yang besar dan beragam ini hanya tinggal cerita masa lalu bagi anak cucu. alias kiamat. seperti kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan oleh Allah karena kerusakan moral yang meraja lela dan tak ada sedikitpun manusia yang peduli dengan hal itu. Berpikirlah sejenak dan renungkan apa yang terjadi pada jaman anda sekarang ini. Sungguh sebuah tanda-tanda akhirnnya peradaban bangsa kita semakin mendekat !! Naudzubillah.

Wallahu'alam


Sumber rujukan :
~ Sosial budaya kompasiana
~ Jawaku situs
~ Opini penulis / admin

isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
 

Pertanyaan Terkait Awal Punahnya Peradaban Sebuah Bangsa

Berlangganan

Suka dengan Jawaban di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tidak puas dengan jawaban ini?, silahkan tambahkan Jawaban alternatif lain yang lebih tepat.