7/29/2012

Rahasia Allah dalam Menurunkan Adam ke Bumi

Oleh : Ashabul Muslimin
Dikutip dari buku kunci kebahagiaan
Karya  : Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahulullah

Sesungguhnya, Allah SWT menurunkan Adam a.s., bapak manusia, dari surga adalah karena hikmah-hikmah yang tidak mampu dipahami akal dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena turunnya Adam a.s. dari surga merupakan esensi kesempurnaan-Nya agar dia kembali ke surga dalam kondisi yang terbaik. Allah SWT ingin membuat Adam dan keturunannya merasakan kehidupan dunia dengan segala kesusahan, keresahan, dan kesulitan di dalamnya, yang semua itu menjadi standar masuknya mereka ke surga di akhirat kelak. Dan, kebaikan sesuatu akan tampak melalui lawannya. Seandainya mereka hidup di surga, maka mereka tidak akan dapat mengetahui agungnya surga. Allah SWT ingin memerintah, melarang, dan menguji mereka, sedangkan surga bukanlah tempat untuk menerima beban taklif (paksaan), karena itu Allah menurunkan mereka ke bumi.

Allah SWT menawarkan kepada mereka sebaik-baik balasan, yang tidak mungkin diperoleh tanpa ada perintah dan larangan. Di samping itu, Allah SWT ingin memilih di antara mereka para nabi, rasul, wali, dan syuhada yang Dia cintai serta mereka mencintai-Nya. Maka, Allah SWT membaurkan mereka dengan musuh-musuh-Nya, dan menguji mereka dengan musuh-musuh itu. Tatkala mereka lebih memilih Allah SWT, mengorbankan jiwa dan harta mereka demi keridhaan dan kecintaan-Nya, maka mereka memperoleh kecintaan, keridhaan, dan kedekatan dengan-Nya, yang tidak mungkin diraih tanpa pengorbanan tersebut. Kerasulan, kenabian, syahid, cinta, marah, keberpihakan kepada wali-wali-Nya dan membenci musuh-musuh-Nya karena Dia semata, merupakan derajat yang paling mulia di sisi-Nya. Semua ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan cara yang telah diatur dan diputuskan-Nya. Yaitu, menurunkan Adam a.s. ke bumi dan menjadikan kehidupannya serta kehidupan anak-cucunya di dalamnya.

Allah SWT memiliki Asmaa'ul-Husnaa (nama-nama yang indah). Di antaranya adalah al-Ghafuur, ar-Rahiim, al-'Afuww, al-Haliim, al-Khaafid, ar-Raafi', al-Mu'izz, al-Mudzill, al-Muhyi, al-Mumiit, al-Waarits, dan ash-Shabuur. Dan, pengaruh dari Asmaa'ul-Husnaa tersebut pasti tampak.(Penampakan sifat-sifat yang khusus diperuntukkan bagi makhluk-Nya karena Allah 'Azza wa Jalla bersifat Maha Sempurna sejak zaman azali. Allah SWT tidak hanya memiliki nama al-Khaaliq (Pencipta) setelah Dia mencipta dan nama ar-Raaziq setelah memberi rezeki, tapi Dia Pencipta sebelum menciptakan, Pemberi rezeki sebelum memberi rezeki, Menghidupkan sebelum memberi kehidupan, dan Mematikan sebelum Dia)

Maka dengan kebijaksanaan-Nya, Adam dan keturunannya Dia turunkan ke alam ini, di mana pengaruh Asmaa 'ul-Husnaa

tersebut menjadi nyata. Di alam inilah Allah SWT mengampuni, mengasihi, mengangkat, memuliakan, menghinakan, menyiksa, memberi, tak memberi, melapangkan dan sebagainya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sebagai manifestasi dari asma dan sifat yang Dia miliki.

Allah SWT adalah al-Maalik, al-Haqq, dan al-Mubiin (Maha Penguasa, Maha Benar, Maha Nyata). Al-Maalik adalah Yang memerintah, melarang, memberikan ganjaran, memberikan hukuman, menghinakan, memuliakan, meninggikan, dan merendahkan. Dengan demikian, kekuasaan Allah SWT menghendaki diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi, di mana hukum-hukum kekuasaan-Nya diberlakukan. Setelah itu, mereka akan dipindahkan ke suatu tempat, yang di dalamnya terbukti kesempurnaan kekuasaan-Nya tersebut.

Allah SWT juga menurunkan manusia ke bumi, di mana keimanan kepada yang gaib dapat terwujud. Keimanan kepada yang gaib adalah keimanan yang hakiki dan bermanfaat, berbeda dengan keimanan hanya kepada yang tampak. Setiap orang percaya bahwa pada hari kiamat hanya keimanannya yang bermanfaat. Seandainya mereka tetap ditempatkan di dalam surga, maka mereka tidak akan memperoleh tingkat keimanan kepada yang gaib ini. Mereka pun tidak akan merasakan kelezatan dan kemuliaan yang hanya dapat terwujud dengannya. Bahkan kelezatan dan kemulian yang tersedia bagi mereka di surga, tempat kenikmatan itu, tidak seperti yang akan mereka peroleh karena keimanan kepada yang gaib.

Allah SWT menciptakan Adam a.s. dari segenggam materi yang diambil dari semua zat bumi. Bumi yang mengandung zat baik, buruk, lapang, keras, mulia, dan jahat. (Ibnu Qayyim akan menyebutkan nanti hadits yang menunjukkan hal itu-). Allah SWT mengetahui bahwa di punggung Adam a.s.( Yaitu punggung Adam berdasarkan sabda Rasul saw., "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian mengambil makhluk dari punggungnya, lalu Allah berfirman, 'Mereka ini dalam surga dan Aku tidak peduli; dan mereka ini di neraka dan Aku tidak peduli.'" Diriwayatkan Ahmad, al-Hakim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Al-Albani menshahihkannya dalam kitab as-as-Silsilah Shahihah)

ada keturunannya yang tidak layak tinggal bersamanya di surga sebagai alam kenikmatan. Karena itu, Allah SWT menurunkannya ke bumi, di mana kebaikan dan keburukan dikeluarkan dari tulang sulbinya. Lalu Allah SWT memisahkan keduanya dan masing-masing Dia tempatkan di tempat yang berbeda. Maka, Allah SWT menjadikan orang-orang baik sebagai teman dan sahabat Adam a.s. di surga kelak, dan menjadikan orang-orang yang jahat sebagai penghuni neraka, tempat orang-orang yang menderita dan orang-orang jahat. Allah SWT berfirman,

"Supaya Allah memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu semuanya ditumpukannya dan dimasukkannya ke dalam neraka Jahanam. (Mereka itulah orang-orang yang merugi)." (al-Anfal: 37)

Karena Allah SWT tahu bahwa dari keturunan Adam a.s. ada yang tidak layak tinggal bersamanya di surga, maka Dia menurunkan Adam a.s. dan keturunannya ke tempat di mana orang-orang yang tidak layak tinggal di surga itu dipisahkan, lalu dimasukkan ke tempat yang sesuai dengan mereka. Semua itu terjadi karena hikmah-Nya yang agung dan kehendak-Nya yang sempurna. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Tatkala Allah SWT berfirman kepada para malaikat,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

Para malaikat pun bertanya,

"Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau." (al-Baqarah: 30)

Maka, Allah SWT menjawab pertanyaan itu dengan berfirman,

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (al-Baqarah: 30)

Kemudian Allah SWT pun menampakkan ilmu-Nya kepada hamba-hamba dan malaikat-Nya. Dia menjadikan di atas bumi ini orang-orang yang istimewa; yaitu para rasul, para nabi, dan para wali. Juga orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengorbankan jiwa melawan syahwat dan hawa nafsu demi cinta dan ridha dari-Nya. Mereka meninggalkan semua yang mereka cintai untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mereka melawan hawa nafsu demi mencari keridhaan-Nya, dan mereka mengorbankan jiwa dan raga demi menggapai cinta-Nya.

Maka, Allah SWT memberi mereka keistimewaan dengan sebuah pengetahuan yang tidak dimiliki para malaikat. Mereka selalu bertasbih dengan memuji-Nya siang-malam. Mereka senantiasa menyembah-Nya meskipun hawa nafsu, syahwat, dan godaan jiwa serta musuh-musuh mereka selalu merongrongnya. Sedangkan para malaikat, mereka menyembah Allah SWT tanpa ada tantangan yang menghadang, tanpa ada syahwat yang menggoda, dan tanpa ada musuh yang semena-mena, karena ibadah para malaikat kepada Allah SWT seakan menyatu dengan jiwa mereka. Di samping itu, Allah SWT ingin menampakkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, perihal musuh-musuh-Nya, pembangkangan mereka, dan ketakaburan mereka terhadap perintah-Nya. Allah SWT juga ingin menampakkan usaha musuh-musuh-Nya itu dalam menentang keridhaan-Nya.

Dan sebelumnya, semua itu tersembunyi dan tidak diketahui oleh bapak manusia dan bapak jin. Oleh karenanya, Allah SWT menurunkan mereka ke bumi, dan di sana Dia memperlihatkan apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh-Nya. Maka, nyata dan sempurnalah kebijaksaanan serta perintah-Nya, dan pengetahuan-Nya pun menjadi tampak oleh para malaikat.

Allah SWT mencintai orang-orang yang sabar, orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang bersatu untuk berperang di jalan-Nya, orang-orang yang bertobat,

orang-orang yang bersih, dan orang-orang yang bersyukur. Kecintaan Allah SWT adalah kemuliaan yang paling tinggi. Karena itu, dengan hikmah-Nya Dia menempatkan Adam a.s. dan keturunannya di suatu tempat, di mana kecintaan Allah SWT itu dapat terwujud. Dengan demikian, diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi ini adalah nikmat yang paling tinggi bagi mereka. Allah berfirman,

"Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakinya untuk diberi rahmat dan Allah mempunyai karunia yang sangat besar." (al-Baqarah: 105)

Allah SWT juga ingin mengambil dari keturunan Adam orang-orang yang Dia bela, Dia kasihi serta Dia cintai, dan mereka juga mencintai-Nya. Kecintaan mereka kepada-Nya merupakan puncak kehormatan dan kemuliaan. Derajat yang mulia ini tidak mungkin terealisasi tanpa adanya keridhaan dari-Nya dengan mengikuti perintah-Nya, serta meninggalkan keinginan hawa nafsu dan gejolak syahwat yang dibenci oleh-Nya, Zat yang mereka cintai. Maka, Allah SWT menurunkan mereka ke bumi ini, di mana mereka menerima perintah dan larangan untuk mereka taati. Sebab itu, mereka memperoleh kemuliaan cinta dari-Nya. Itulah kesempurnaan hikmah dan kasih sayang-Nya, Dia Yang Maha Baik lagi Maha Penyayang.

Karena Allah telah menciptakan makhluk-Nya secara berjenjang dan berjenis-jenis, dan dengan hikmah-Nya Dia mengutamakan Adam a.s. beserta keturunannya atas seluruh makhluk-makhluk-Nya, maka Dia menjadikan penyembahan ('ubudiyyah) mereka kepada-Nya sebagai derajat yang paling mulia. Yaitu 'ubudyiyah yang mereka lakukan sesuai keinginan dan pilihan mereka sendiri, bukan karena keterpaksaan. Sebagaimana diketahui, Allah SWT telah mengutus Jibril kepada Nabi saw. untuk memberinya pilihan; antara menjadi seorang raja dan nabi, atau menjadi seorang hamba dan nabi. Lalu Nabi saw. memandang Jibril seolah berkonsultasi kepadanya, dan Jibril mengisyaratkan supaya beliau bersikap tawadhu. Kemudian beliau bersabda, "Saya memilih menjadi seorang hamba dan nabi." (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abu Hurairah r.a.. Abu Hurairah r.a. berkata, "Jibril datang kepada Nabi saw., lalu Nabi memandang ke langit, tiba-tiba ada malaikat yang turun. Nabi berkata kapada Jibril, 'Sesungguhnya malaikat ini tidak pernah turun sejak hari diciptakan sampai saat ini.' Taatkala malaikat itu turun dia berkata, 'Wahai Muhammad Tuhanmu mengutusku kepadamu.' Lalu bertanya, 'Apakah engkau ingin Tuhanmu menjadikanmu sebagai seorang raja atau seorang hamba dan nabi? Bersikap tawadhulah kepada Tuhanmu wahai Muhammad!' Lalu Nabi menjawab, 'Aku memilih dijadikan seorang hamba dan rasul.'" (11/231). Al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawaid (IX/18-19)

berkata, "Ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan Abu Ya'la. Para perawi awal adalah perawi yang sah. Dan Syaikh Ahmad Syakir dalam tahkiknya terhadap Musnad menshahihkan hadits ini (XII/142)

.Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Dalaa'ilun-Nubuwwah (117369)

dari Muhammad bin Athaarid bahwa .Rasulullah saw. pernah berada di tengah-tengah para sahabatnya dan Jibril mendatanginya. Lalu Jibril memukul punggung beliau dan membawa Nabi ke sebuah pohon. Di pohon itu ada sesuatu seperti dua sarang burung. Nabi duduk di salah satunya dan Jibril duduk pada yang lain. Nabi bersabda, "Lalu Jibril menghadap kepada kami hingga aku sampai ke ufuk. Seandainya aku menjulurkan tanganku ke langit, maka aku menggapainya, dan langit itu didekatkan karena suatu sebab. Dan cahaya turun di atas Jibril lalu menutupinya seperti pelana. Dari itu, saya mengetahui kelebihan rasa takutnya di atas rasa takutku. Lalu diwahyukan kepadaku, 'Engkau memilih menjadi nabi dan raja atau nabi dan hamba atau ke surga tempat asalmu?' Jibril dalam keadaan berbaring memberikan tanda supaya aku tawadhu. 'Maka aku berkata, 'Saya memilih menjadi nabi dan hamba."' Sanadnya mursal.

Maka, Allah SWT menyebut beliau dengan sifat kehambaan dalam tingkatnya yang paling mulia. Yaitu, ketika Allah SWT menceritakan tentang isra' beliau, tentang kewajiban dakwah beliau, dan ketika Allah SWT mengajukan tantangan kepada musuh-musuh-Nya. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman tentang isra' Nabi saw.,

"Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (al-lsraa’: 1)

Dalam ayat di atas Allah SWT menyebut Nabi Muhammad dengan kata-kata hamba, bukan 'rasul-Nya atau nabi-Nya'. Ini merupakan sebuah isyarat bahwa ketika Nabi Muhammad saw. menunaikan isra' yang merupakan kehormatan tertinggi bagi seorang hamba, maka itu kesempurnaan penghambaan beliau kepada Allah SWT.

Ketika menceritakan tugas beliau sebagai da'i (pendakwah) Allah SWT berfirman,

"Dan bahwa tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin itu desak-mendesak mengerumuninya." (al-Jinn: 19)

Demikian juga ketika menantang musuh-musuh-Nya untuk mengajukan alasan keraguan mereka terhadap kerasulan beliau, Allah SWT berfirman,

"Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah saja yang semisal Al-Qur'an itu.' (al-Baqarah: 23)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang syafaat Nabi saw. dan penolakan para nabi untuk memberi syafaat serta perkataan Almasih a.s., "Pergilah kepada Muhammad, seorang hamba yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang"( HR Bukhari (VIII/395-ft* al-Baari), Muslim (lll/65-Syarh an-Nawawi), at-Tirmidzi (IV/537) hadits nomor 2434(

menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. memperoleh kedudukan yang paling agung ini, karena kesem-purnaan penghambaan beliau dan sempurnanya pengampunan Allah SWT atas beliau. Jika kehambaan ('ubudiyyah) di sisi Allah SWT memiliki kedudukan yang sedemikian rupa tingginya, maka hikmah-Nya menghendaki untuk menempatkan Adam a.s. dan keturunannya di suatu tempat, yang di dalamnya mereka memperoleh kedudukan tinggi tersebut yang bisa dicapai dengan kesempurnaan ketaatan dan kedekatan mereka kepada Allah SWT, serta karena kecintaan Allah SWT kepada mereka. Juga karena mereka meninggalkan segala yang mereka suka demi kecintaannya kepada Allah SWT. Inilah kesempurnaan nikmat dan kebaikan Allah SWT kepada mereka.

Allah SWT juga ingin mengetahui hamba-hamba-Nya yang berhak menerima kesempurnaan dan keagungan nikmat-Nya, supaya cinta, rasa syukur, dan kelezatan nikmat yang mereka rasakan semakin besar. Karena itu, Allah memperlihatkan kepada mereka tindakan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya, serta azab dan kepedihan yang dipersiapkan untuk musuh-musuh tersebut. Dan di sisi lain, Allah mem-perlihatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa mereka dibebaskan dari azab dan siksa, serta kekhususan yang mereka peroleh berupa nikmat dan kecintaan yang paling tinggi; cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Itu semua agar kebahagiaan mereka semakin bertambah, kebanggaan mereka sempurna, dan kegembiraan mereka semakin besar.

Semua itu tidak akan berlaku kecuali dengan menurunkan mereka ke bumi, di mana mereka diuji dan dicoba. Dan di bumi inilah Dia memberikan taufik kepada siapa yang Dia kehendaki sebagai bukti kasih sayang dan kemurahan-Nya. Di bumi ini juga Dia menelantarkan orang-orang yang Dia kehendaki sebagai bukti kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tidak disangsikan bahwa jika seorang menyaksikan musuhnya atau orang yang dekat dengannya merasakan berbagai macam siksa dan kepedihan, sedangkan ia bergelimang dengan berbagai jenis nikmat dan kelezatan, maka kegembiraannya akan semakin bertambah serta kelezatan dan nikmat yang ia rasakan semakin besar dan semakin sempurna.

Allah SWT menciptakan makhluk-Nya adalah untuk beribadah kepada-Nya, dan itulah tujuan penciptaan mereka. Allah berfirman,

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku." (adz-Dzaariyaat: 56)

Dan, dimaklumi bahwa kesempurnaan ibadah yang dituntut dari manusia tidak dapat terealisasi dalam surga; sebagai tempat kenikmatan yang abadi. Karena surga sebagai tempat kelezatan dan kenikmatan, bukanlah tempat untuk mendapatkan cobaan, ujian, dan beban. Akan tetapi, kesempurnaan ibadah tersebut hanya dapat terealisasi di bumi; tempat cobaan dan ujian. Hikmah Allah SWT juga menghendaki agar Adam a.s. dan keturunannya mempunyai struktur tubuh yang sarat dengan dorongan hawa nafsu dan fitnah, serta dibekali akal dan ilmu. Allah SWT menciptakan dalam diri Adam a.s. akal dan syahwat, dan memberi keduanya kecenderungan yang berbeda. Hal itu dimaksudkan untuk merealisasikan kehendak-Nya dan menampakkan keagungan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Semua itu dilakukan Allah SWT dalam frame hikmah, kehebatan, kasih sayang, kebaikan dan kelembutan-Nya, yang menjadi bukti kekuasaan dan kerajaan-Nya. Hikmah dan rahmat Allah SWT juga menghendaki untuk menimpakan kepada Adam a.s. akibat dari tindakannya menyalahi aturan-Nya. Allah SWT juga memberitahu Adam apa yang ia peroleh akibat mengikuti syahwat dan hawa nafsunya, supaya dia semakin berhati-hati dan semakin menjauhinya. Dengan demikian, kondisi Nabi Adam a.s. bagaikan seseorang yang berada dalam perjalanan, di mana musuh-musuhnya bersembunyi di samping, di belakang, dan di depannya, sedangkan dia tidak menyadarinya. Jika dia mendapat serangan satu kali saja, maka dia akan terus waspada dan bersiap siaga sepanjang perjalanan. Dia juga akan melakukan pef siapan untuk menghadapi musuh-musuhnya, serta mempersiapkan segala sesuatu yang dapat melindunginya dari serangan musuh-musuh tersebut. Seandainya dia sama sekali tidak pernah merasakan kekalahan akibat serangan dan konspirasi musuh, maka ia tidak akan pernah waspada dan bersiap siaga serta tidak akan mempersiapkan persenjataan.

Maka, di antara kesempurnaan nikmat Allah SWT kepada Adam a.s. dan keturunannya, Dia memperlihatkan apa yang dilakukan musuh terhadap mereka, supaya mereka bersiap siaga dan melakukan persiapan untuk menghadapinya. Kalau dikatakan bahwa bisa saja musuh-musuh tersebut tidak mampu menguasai Adam a.s. dan keturunannya, maka jawaban untuk hal ini adalah bahwa Allah SWT telah menciptakan Adam a.s. dan keturunannya dalam bentuk dan struktur tubuh yang mengharuskan mereka berbaur dengan musuh-musuh tersebut, serta mengharuskan mereka menjalani ujian di tangan musuh-musuh itu.

Seandainya Allah SWT menghendaki, niscaya Dia menciptakan Adam a.s. dan keturunannya seperti malaikat, yang memiliki akal tanpa syahwat sehingga musuh-musuh tidak mampu mengganggu mereka. Akan tetapi, seandainya mereka diciptakan dalam bentuk demikian, maka mereka adalah makhluk lain, bukan anak-cucu Adam a.s.. Karena sesungguhnya anak-cucu Adam a.s. terbentuk dari unsur akal dan syahwat.

Di samping itu, karena cinta kepada Allah SWT yang merupakan puncak kesempurnaan dan kebahagiaan seorang hamba hanya terwujud dengan menanggung kesulitan demi ketaatan dan keridhaan-Nya, maka hanya dengan menjalani semua itulah cinta sejati dapat terwujud dan dapat diketahui keteguhannya di dalam hati. Hikmah Allah SWT menghendaki untuk mengeluarkan Adam a.s. dan keturunannya ke tempat yang diliputi syahwat dan kecintaan kepada hawa nafsu. Sedangkan, cinta kepada Allah SWT hanya akan terwujud dengan mengutamakan kebenaran dan menghindari hawa nafsu, serta hal-hal yang lain di dunia. Dengan demikian, manusia dituntut untuk memikul kesulitan yang berat, menjalani marabahaya, menanggung celaan, bersabar menghadapi kezaliman dan kesesatan, serta dituntut untuk menanggulanginya. Semua ini memperkokoh kekuatan cinta yang tertanam di dalam relung hati. Kemudian hasilnya pun akan dinikmati oleh seluruh anggota tubuhnya.

Sesungguhnya cinta yang hakiki dan membuahkan hasil adalah cinta yang tetap tegar menghadapi berbagai hambatan, tantangan, dan gangguan. Sedangkan, cinta yang mensyaratkan (menuntut) kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan, dan terpenuhinya keinginan sang pencinta dari yang dicinta, maka ini bukanlah cinta yang sejati. la sama sekali tidak mempunyai keteguhan menghadapi tantangan dan rintangan. Karena sesuatu yang tergantung pada syarat, akan hilang di kala syarat itu hilang. Barangsiapa menyayangi Anda karena sesuatu, maka dia akan berpaling di saat sesuatu tersebut hilang. Jadi orang yang menyembah Allah SWT hanya di kala bahagia, sejahtera, dan sehat, berbeda dengan orang yang tetap menyembah Allah SWT di kala susah dan bahagia, menderita dan sejahtera, serta di kala sakit dan sehat.

Hanya milik Allah SWT pujian yang sempurna dan tanpa akhir. Terlihatnya sebab-sebab yang membuat Dia terpuji, merupakan konsekuensi dari Zat-Nya Yang Maha Terpuji. Sebab-sebab itulah yang membuat-Nya terpuji. Adapun sebab yang membuat Dia Maha Terpuji itu ada dua, yaitu Maha Pemurah dan Maha Adil. Maka, Allah SWT terpuji pada kedua hal tersebut. Karena itu, sebab-sebab keadilan dan penyebutan-penyebutannya harus Tampak, sehingga kesempurnaan pujian yang pantas bagi-Nya dapat terwujud. Dan sebagaimana Dia terpuji dalam kebaikan, kasih sayang, dan kemurahan-Nya, Dia juga terpuji dalam keadilan, ganjaran, dan siksa-Nya, karena semua itu berasal dari keagungan dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, dalam Al-Qur'an Allah SWT seringkali mengingatkan hal ini. Seperti yang terdapat dalam surah asy-Syu'araa', yang pada akhir setiap kisah para rasul dan umat mereka Dia berfirman,

"Sesungguhnya 'pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar, tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (asy-Syu'araa : 8-9)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, Allah SWT memberitahukan bahwa kebaikan, kasih sayang, kemurahan, keadilan, pahala, dan siksa adalah berasal dari keagungan-Nya, yang mencakup sempurnanya kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengetahuan-Nya, serta ketepatan penempatan-Nya terhadap segala sesuatu pada posisinya masing-masing. Hal ini sebagaimana Dia tidak memberikan kenikmatan dan keselamatan kecuali kepada para rasul dan pengikutnya. Dia tidak menimpakan kemurkaan dan kebinasaan kecuali kepada para musuh-Nya. Semua ini merupakan penempatan yang tepat, terjadi karena sempurnanya keagungan dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, setelah memberitahukan ketetapan-Nya bagi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang sengsara serta perjalanan mereka ke tempat yang sesuai bagi mereka masing-masing, maka Dia berfirman,

"Dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.' (az-Zumar: 75)

Kemahabijaksanaan dan kemahaterpujian Allah SWT menghendaki adanya perbedaan yang sangat besar dan mencolok di antara hamba-hamba-Nya. Ini Dia lakukan agar hamba-hamba-Nya yang mendapatkan nikmat dan kemurahan-Nya mengetahui bahwa Allah SWT telah menganugerahkan nikmat dan kemurahan serta kemuliaan yang tidak diberikan kepada yang lainnya, semua itu agar mereka mau bersyukur. Seandainya semua manusia sama dalam memperoleh nikmat dan kesejahteraan, maka mereka yang memperoleh nikmat tidak akan mengetahui nilai nikmat itu sendiri dan tidak akan berusaha untuk bersyukur karena merasa bahwa kondisi semua orang sama dengannya.

Di antara sebab yang paling kuat dan paling besar yang membuat seorang hamba bersyukur, adalah ketika dia melihat dirinya dalam kondisi yang berbeda dengan hamba yang lain, di mana dia berada dalam keadaan serba cukup dan beruntung. Dalam sebuah riwayat yang masyhur, tatkala Allah SWT memperlihatkan kepada Adam a.s. kondisi keturunannya dan perbedaan tingkatan mereka, Adam a.s. berkata,"Wahai Tuhanku mengapa Engkau tidak menyamakan derajat hamba-hamba-Mu?" Allah SWT menjawab, "Saya suka menerima rasa syukur." (Diriwayatkan oleh Abdullah, putra Imam Ahmad dalam Zawa'idul-Musnad (V/135) yang di^andarkan kepada sahabat Nabi Ubai bin Ka'ab (hadits mauquf) dan ath-Thabari dalam tafsirnya (IX/115). Ibnu Katsir menyandarkannya kepada Ibnu Hatim dan Ibnu Mardawaih dalam Tafsir Ibnu Katsir (IV263).)



Maka, keinginan Allah SWT untuk disyukuri, menuntut diciptakannya sebab-sebab yang menjadikan rasa syukur hamba-hamba-Nya lebih besar dan lebih sempurna. Dan, inilah esensi kebijaksanaan Allah SWT yang berasal dari sifat keterpujian-Nya.

Tidak ada sesuatu yang lebih disenangi Allah SWT dari seorang hamba, selain ketundukan, kepatuhan, ketergantungan, ketidakberdayaan, dan kepasrahan di hadapan-Nya. Sebagaimana diketahui bahwa hal-hal di atas yang dituntut dari seorang hamba, hanya tercapai jika sebab-sebab pendukungnya ada. Sedangkan, sebab-sebab tersebut tidak bisa terwujud di dalam surga, yang merupakan tempat kenikmatan yang mutlak dan kesehatan yang sempurna. Karena jika sebab-sebab tersebut terwujud di surga, maka hal ini memiliki konsekuensi penggabungan dua hal yang kontradiktif.

Hanya Allah SWT yang berkuasa mencipta dan memerintah. Perintah-Nya itu adalah syariat dan agama-Nya yang diturunkan melalui para nabi dan kitab-kitab-Nya. Sedangkan surga bukanlah tempat menjalankan ketetapan syara', di mana hukum-hukum dan akibat-akibatnya berlaku. Akan tetapi, surga adalah tempat kenikmatan dan kesenangan. Dan, hikmah Allah SWT menghendaki Adam a.s. beserta keturunannya dikeluarkan ke suatu tempat, yang di dalamnya hukum-hukum syara' dan perintah Allah berlaku. Sehingga, konsekuensi dari perintah tersebut dan akibat-akibatnya tampak pada diri mereka.

Sebagaimana perbuatan dan penciptaan Allah SWT merupakan konsekuensi koheren dari kesempurnaan Asmaa 'ul-Husna dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung, demikian juga halnya dengan syariat-Nya, yang meliputi pahala dan siksa. Allah SWT menunjukkan hal ini pada ayat lain dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya,

"Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban." (al-Qiyaamah: 36)

Artinya, apakah mereka mengira bahwa mereka tidak dipedulikan, dibiarkan, tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala, dan tidak disiksa? Ayat ini menunjukkan bahwa anggapan tadi bertentangan dengan kesempurnaan hikmah-Nya. Ketuhanan, keagungan, serta hikmah-Nya menolak hal tersebut. Karena itu, Allah SWT berfirman dalam bentuk pengingkaran terhadap orang yang memiliki prasangka di atas. Ini menunjukkan bahwa kebaikan Allah SWT tertanam dalam fitrah dan akal manusia. Begitu pula buruknya membiarkan kebaikan, juga tertanam di dalam fitrah manusia. Maka, bagaimana mungkin sesuatu yang keburukannya tertanam di dalam fitrah dan akal manusia dapat dinisbatkan kepada Tuhan? Allah SWT berfirman,

"Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara bermain-main saja dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?Maka, Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenamya. Tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan yang memiliki Arasy yang mulia." (al-Mu rninuun: 115-116)

Sebagaimana dalam ayat di atas, Allah SWT mensucikan Zat-Nya dari anggapan batil yang bertentangan dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tidak layak bagi keagungan-Nya. Dia juga menegaskan bahwa penisbatan anggapan tersebut kepada-Nya tidaklah benar. Dan, ayat-ayat seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur'an.

Allah SWT menyukai, bagi hamba-hamba-Nya, hal-hal yang perealisasiannya tergantung pada terwujudnya sebab-sebab yang mereka capai, yang menghantarkan kepada hal-hal tersebut. Hal-hal tersebut tidak dapat tercapai kecuali dalam tempat cobaan serta ujian. Maka, Allah SWT mencintai orang-orang yang sabar, orang-orang yang bersyukur, orang-orang yang bersatu untuk berperang di jalan-Nya, orang-orang yang bertobat, dan orang-orang yang menyucikan diri mereka. Dan merupakan hal yang sudah jelas, bahwa kecintaan Allah ini tidak akan tercapai tanpa adanya sebab-sebab, sebagaimana kemustahilan terwujudnya akibat tanpa adanya sebab. Kegembiraan Allah SWT atas tobat hamba-Nya lebih besar daripada kegembiraan seseorang yang kehilangan tunggangan beserta seluruh perbekalan di atasnya di sebuah lembah nan tandus, lalu tiba-tiba ia menemukannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih bahwa Nabi saw. bersabda,

"Sesungguhnya kegembiraan Allah karena tobat seorang mukmin, lebih besar daripada seseorang yang berada di tanah tandus bersama hewan tunggangannya yang membawa makanan dan minumannya, lalu ia tertidur. Tatkala terbangun ia tidak menemukan tunggangannya. Kemudian dia mencarinya hingga dahaga menyerangnya, sehingga ia putus asa dan berkata, 'Aku akan kembali ke tempat di mana aku tertidur, dan aku akan tidur lagi sampai aku mati.' Maka dia pun meletakkan kepala di atas lengannya, untuk bersiap-siap menyambut kematian. Namun, tiba-tiba dia terbangun dan melihat hewan tunggangannya yang membawa seluruh bekalnya berada di sampingnya. Maka, kegembiraan Allah karena tobat seorang mukmin, lebih besar daripada kegembiraan orang tersebut." (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

Insya Allah pembicaraan lebih lanjut mengenai hadits ini dan penjelasan rahasia kegembiraan Allah atas tobat seorang hamba akan menyusul. Adapun maksud dari hadits di atas secara ringkas adalah bahwa kegembiraan Allah SWT timbul setelah hamba tersebut bertobat dari dosanya. Karena tobat dan dosa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dengan kegembiraan itu, sebagaimana akibat tidak akan ada tanpa adanya sebab. Jika kegembiraan Allah SWT hanya terwujud karena tobat yang tidak terpisahkan dari dosa, maka kegembiraan-Nya tersebut tidak akan terjadi di surga, tempat kenikmatan, di mana dosa dan pelanggaran tidak ada. Dan ketika terwujudnya kegembiraan itu lebih Allah SWT sukai daripada ketiadaannya, maka kesukaan Allah tersebut mengharuskan diciptakannya sebab-sebab terwujudnya kegembiraan yang disukai oleh-Nya.

Allah SWT menjadikan surga sebagai tempat menerima imbalan dan pahala, dan membagi-bagi tingkatan surga, sesuai amal perbuatan para penghuninya. Maka, Allah SWT menciptakan surga dan membagi-bagi tingkatannya, karena di dalam pembagian itu terdapat hikmah yang sesuai dengan nama dan sifat-sifat-Nya. Sesungguhnya surga bertingkat-tingkat, dan jarak antara satu tingkat dengan tingkat berikutnya seperti jarak antara langit dan bumi. Hal ini sebagaimana terdapat dalam riwayat yang shahih, Rasulullah saw. bersabda,

Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin "Sesungguhnya surga itu terdiri dari seratus tingkatan. Jarak antarsatu tingkatan dengan yang lain seperti jarak antara bumi dan langit."(HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi)

Hikmah Allah SWT menghendaki agar semua tingkatan surga ini dihuni. Dan, perbedaan tingkatan-tingkatan surga itu sesuai dengan amal perbuatan penghuninya. Ini sebagaimana dikatakan oleh beberapa ulama salaf, "Para penghuni surga selamat dari siksa neraka adalah karena maaf dan ampunan Allah SWT. Mereka masuk surga karena kemurahan, nikmat, dan ampunan Allah SWT semata. Dan, mereka membagi-bagi tempat mereka di surga sesuai dengan amal perbuatan mereka." Berdasarkan hal ini, beberapa ulama menetapkan bahwa seseorang masuk surga adalah karena amal perbuatannya, sebagaimana firman Allah SWT,

"Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan." (az-Zukhruuf: 72).

Juga firman-Nya,

"Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (an-Nahl: 32)

Sedangkan nash-nash yang menunjukkan bahwa seseorang tidak masuk surga karena amal perbuatannya, seperti sabda Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Bukhari, "Tak seorang pun akan masuk surga karena amalnya." Lalu para sahabat bertanya, "Apakah engkau juga wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Demikian pula aku."

Maksudnya bahwa pada dasarnya mereka tidak masuk surga. Jawaban yang lebih tepat adalah bahwa huruf ba' yang bermakna sebab bukan huruf ba' yang tidak memiliki makna sebab. Huruf ba' pertama ini disebut ba' sababiyyah {ba' yang memiliki arti sebab), yang berarti bahwa amal perbuatan adalah sebab masuk surga, sebagaimana semua sebab membutuhkan akibat. Sedangkan ba' yang kedua yang tidak bermakna sebab, dinamakan ba' mu 'aawadhah wa muqaabalah('yang memiliki arti penggantian, penj)

Seperti dalam kata-kata orang Arab, "Saya membeli barang ini dengan uang ini." Dan inilah ba' yang terdapat dalam hadits di atas.

Maka, Rasulullah saw. bersabda bahwa masuk surga bukanlah imbalan dari amal seseorang. Seandainya bukan karena limpahan kasih sayang Allah SWT, maka tidak seorang pun masuk surga. Jadi amal seorang hamba, meskipun tidak terbatas jumlahnya, bukan satu-satunya hal yang mengharuskan dia masuk surga, dan bukan pula masuk surga itu sebagai ganti amalnya. Meskipun amal seorang hamba dilakukan sesuai dengan cara yang dicintai dan diridhai Allah SWT, namun itu tidak dapat mengimbangi dan menyamai nikmat yang Allah SWT limpahkan kepadanya di dunia. Bahkan, jika amal perbuatannya dihisab, maka itu hanya setimpal dengan sedikit nikmat Allah SWT. Sedangkan, nikmat-nikmat Allah SWT lain yang ia terima, masih memerlukan rasa syukur. Jadi Allah SWT mengazabnya padahal ia telah berbuat kebajikan, maka itu bukanlah kezaliman dari-Nya atas orang tersebut. Dan apabila Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada orang tersebut, maka rahmat-Nya itu jauh lebih baik dari amal perbuatannya. Ini sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Zaid Bin Tsabit, Hudzaifah dan Iain-lain, yang terdapat dalam kitab-kitab Sunan yang dinisbatkan kepada Nabi saw.( Riwayat dari shahabat yang dinisbatkan kepada Nabi saw. dalam ilmu hadits disebut hadits marfuu'.)

"Jika Allah berkehendak mengazab para penghuni surga dan para penghuni bumi-Nya, Dia pasti mengazab mereka, dan itu bukanlah kezaliman dari-Nya atas mereka. Dan jika Allah member! rahmat-Nya kepada mereka, maka rahmat-Nya lebih baik dari amal perbuatan mereka." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Hibban)

Allah SWT menghendaki penciptaan surga dengan derajatnya yang bertingkat-tingkat dan mengisinya dengan Adam a.s. beserta keturunannya. Allah SWT juga menempatkan mereka di dalam surga sesuai dengan amal perbuatan mereka. Maka sebagai konsekuensi dari kehendak Allah itu, Dia menurunkan Adam a.s. dan keturunannya ke bumi, tempat beramal dan berjuang.

Allah SWT menciptakan Adam a.s. dan anak cucunya sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-Baqarah: 30)

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi." (al-An'aam: 165)

"Dan menjadikan kamu khalifah di bumi." (al-A'raaf: 129)

Jadi Allah SWT hendak memindahkan Adam a.s. dan keturunannya dari kekhalifahan di bumi, menjadi pewaris surga yang abadi. Dengan ilmu-Nya, Allah SWT telah mengetahui bahwa karena kelemahan dan pendeknya pandangan manusia, terkadang mereka lebih memilih sesuatu yang dapat ia nikmati dengan segera namun tidak bernilai, daripada sesuatu yang datangnya tertunda namun sangat berharga. Hal ini disebabkan jiwa manusia lebih senang kepada sesuatu yang dapat mereka dapatkan dengan segera daripada sesuatu yang akan mereka peroleh kelak. Dan, ini merupakan konsekuensi diciptakannya manusia dengan tabiat tergesa-gesa serta diciptakan dengan sifat suka terburu-buru. Karena itu, Allah SWT mengetahui bahwa salah satu sifat manusia adalah lemah.

Maka, hikmah Allah SWT menghendaki untuk memasukkan mereka ke dalam surga, supaya mereka mengetahui secara langsung nikmat yang disiapkan untuk mereka. Sehingga, mereka lebih merindukan dan menginginkannya, serta lebih semangat untuk mendapatkannya. Karena cinta, rindu, dan keinginan mendapatkan sesuatu terjadi karena seseorang telah membayangkan sesuatu tersebut. Barangsiapa yang secara langsung menyaksikan dan merasakan keindahan serta kenikmatan sesuatu, maka dia tidak bisa bersabar untuk menggapainya.

Semua ini terjadi karena jiwa manusia sangat perasa dan perindu. Apabila ia telah merasakan nikmatnya sesuatu, maka ia akan terus merindukannya. Karena itu, jika seorang hamba telah merasakan manisnya keimanan, dan keindahan iman telah menyatu dengan kalbunya, maka akan kokoh kecintaannya kepada-Nya dan selamanya tidak akan goyah oleh sesuatu pun.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari yang berstatus marfu' dan diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Allah Azza wa Jalla bertanya kepada para malaikat, "Apa yang diminta oleh hamba-hamba-Ku dari-Ku?" Para malaikat menjawab, "Mereka meminta surga-Mu." Allah bertanya, "Apakah mereka pernah melihatnya?" Mereka menjawab, "Tidak." Allah bertanya kembali, "Bagaimana jika mereka pernah melihatnya?" Mereka menjawab, "Niscaya mereka lebih menginginkannya lagi."

Oleh karena itu, hikmah Allah SWT menghendaki untuk memperlihatkan surga itu kepada Adam a.s., bapak mereka. Dia menempatkan Adam a.s. di surga, kemudian Dia mengisahkan kisahnya kepada keturunan Adam a.s.. Dengan demikian, seakan-akan mereka telah menyaksikannya dan ada bersama Adam a.s. di dalamnya. Maka, orang yang tercipta untuk surga dan surga tercipta untuknya segera memenuhi seruan Tuhan dan segera menuju ke surga. Tidak ada sesuatu yang bersifat sementara dapat memalingkannya, tetapi dia segera mempersiapkan diri untuk menuju ke sana. Ibarat seseorang yang tinggal di suatu tempat, kemudian ditawan oleh musuhnya, maka ketika ia merasa bahwa tempat tersebut adalah kampung halamannya yang asli, niscaya ia senantiasa merindukannya dan tidak dapat tenang hingga ia kembali ke sana. Seorang penyair berkata,

"Pindahkan hatimu kepada cinta yang engkau kehendaki

Karena cinta hanyalah untuk kekasih yang pertama

Betapa banyak tempat di bumi yang (pernah) ditempati oleh seseorang

Namun selamanya kerinduannya hanyalah untuk yang pertama."

Dalam syair lain dengan makna yang senada dikatakan,

"Marilah kita menuju surga 'Aden,

Karena di sanalah tempat asalmu dan di sana ada tempat berlindung

Akan tetapi kita ini adalah tawanan musuh,

Apakah menurut kamu kami dapat kembali ke tanah asal kita dengan selamat."

Rahasia dari semua hal di atas adalah bahwa Allah SWT dalam hukum dan hikmah-Nya, telah menetapkan bahwa tujuan-tujuan yang ingin dicapai manusia tidak dapat mereka peroleh kecuali melalui sebab-sebab yang telah dijadikan Allah sebagai sarana yang mengantarkan kepada tujuan-tujuan tersebut. Di antara tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh manusia adalah nikmat yang tertinggi, terbaik, dan termulia. Dan, itu tidak dapat dicapai kecuali dengan sebab yang telah ditetapkan Allah SWT, yang mengantarkan mereka ke tujuan tersebut.

Jika tujuan-tujuan yang derajatnya jauh berada di bawah tujuan-tujuan termulia tersebut —seperti makanan, minuman, pakaian, anak dan harta di dunia, yang semuanya remeh dan tidak kekal— hanya dapat diperoleh dengan sebab-sebab tertentu, bagaimana mereka bisa mengklaim bahwa tujuan yang termulia itu dapat diperoleh tanpa adanya sebab? Sebab-sebab ini tidak dapat diperoleh kecuali di tempat berjuang dan bertanam. Maka, penempatan Adam a.s. dan keturunannya di bumi, di mana terdapat sebab-sebab yang mengantar kepada kedudukan tertinggi, merupakan bagian dari kesempurnaan nikmat-Nya kepada mereka.

Di antara rahasia penempatan Adam a.s. dan keturunannya di bumi juga adalah, bahwa Allah menjadikan kerasulan, kenabian, kecintaan, takliim (pembicaraan langsung), kewalian, dan 'ubudiah sebagai kedudukan dan kesempurnaan yang tertinggi bagi makhluk-Nya. Maka, Allah SWT menempatkan mereka ke sebuah tempat, yang di dalamnya Dia memilih para nabi, mengutus para rasul, mengambil kekasih, dan berbicara langsung dengan Musa. Juga memilih di antara mereka para syuhada, hamba setia dan orang-orang khusus yang Dia cintai dan juga mencintai-Nya. Dan sekali lagi, ditempatkannya mereka di bumi merupakan bagian dari kesempurnaan nikmat dan kebaikan dari-Nya.

Allah SWT juga menampakkan kepada makhluk-Nya pengaruh dan berlakunya hukum nama-nama-Nya terhadap mereka, sebagaimana yang dikehendaki oleh hikmah, rahmat, dan ilmu-Nya. Maka, di antara rahasia diturunkannya Adam dan keturunannya ke bumi adalah bahwa Allah SWT memperkenalkan wujud-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya melalui perbuatan-perbuatan-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan apa yang Dia lakukan terhadap para wali dan musuh-musuh-Nya. Dia memuliakan para wali-Nya dan menghinakan serta menyesatkan musuh-musuh-Nya. Dia mengabulkan doa, memenuhi kebutuhan, menghilangkan kesusahan, menyingkirkan bala, serta mencurahkan berbagai kebaikan dan keburukan dengan ketentuan-Nya, sebagaimana yang Dia kehendaki.

Ini semua merupakan bukti terbesar bahwa Dia adalah Tuhan dan Pemilik mereka. Dan, itu semua membuktikan bahwa tiada tuhan selain Allah SWT, Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Mendengar, dan Maha Melihat. Dialah Tuhan yang haq, sedangkan yang lainnya adalah batil. Maka, bukti-bukti ketuhanan dan keesaan-Nya sangat banyak di muka bumi ini.

Bukti-bukti itu bervariasi dan muncul dari segala penjuru. Sehingga, hamba-hamba-Nya yang mendapatkan taufik mengetahui dan mengakui keesaan-Nya. Sedangkan, orang-orang yang tersesat mengingkari dan menyekutukan-Nya karena kezaliman dan kekafiran mereka. Dengan demikian, orang yang binasa adalah karena sebab yang jelas, dan orang yang selamat adalah karena sebab yang jelas pula. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Barangsiapa yang melihat dan merenungkan tanda-tanda serta pengaruh kekuasaan-Nya yang terlihat dan terdengar di buka bumi, maka dia pasti mengetahui kesempurnaan hikmah-Nya dalam penempatan Adam a.s. dan keturunannya di bumi ini untuk jangka waktu tertentu. Karena Allah SWT menciptakan surga untuk Adam a.s. dan keturunannya, dan menjadikan malaikat sebagai pelayan mereka di dalamnya. Akan tetapi, hikmah-Nya menghendaki untuk menciptakan suatu tempat bagi mereka, yang di dalamnya mereka mengumpulkan bekal menuju tempat yang juga tercipta untuk mereka. Sedangkan, mereka tidak akan mencapai tempat tersebut (surga) kecuali dengan bekal dari dunia. Allah SWT berfirman tentang dunia,

"Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya melainkan dengan kesukaran-kesukaran yang melelahkan diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. "(an-Nahl: 7).

Ayat di atas menjelaskan kondisi perpindahan dari suatu negeri ke negeri lain di bumi ini. Lalu bagaimana dengan perpindahan dari dunia menuju tempat yang kekal?

"Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (al-Baqarah: 197)

Orang-orang yang tertipu, menjual dan menukar tempat mereka di surga dengan harga dan sesuatu yang hina dan rendah. Sedangkan, orang-orang yang mendapatkan taufik menjual diri dan harta mereka untuk Allah SWT, dan menjadikan segala yang mereka miliki sebagai biaya untuk menebus surga. Sehingga, mereka memperoleh laba dari perniagaan ini dan memperoleh kemenangan yang sangat besar.

Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (at-Taubah: 111)

Allah SWT tidak mengeluarkan Adam a.s. dari surga, kecuali untuk mengembalikannnya dalam kondisi yang paling sempurna, sebagaimana di dalam sebuah perumpamaan dikatakan bahwa Allah SWT berfirman kepada Adam a.s.,

"Wahai Adam, janganlah engkau terkejut dengan perkataan-Ku 'keluar dari surga', karena untukmulah Aku ciptakan surga itu. Sesungguhnya Aku tidak membutuhkannya dan tidak membutuhkan suatu apapun. Aku Maha Pemurah. Aku tidak bersenang-senang di dalamnya. Aku Maha Memberi makan dan Aku tidak membutuhkan makan. Aku Maha Kaya dan Maha Terpuji. Akan tetapi, turunlah engkau ke tempatpersemaian. Jika engkau telah menaburbenih lalu benih itu tumbuh dan berdiri tegak di atas batangnya kemudian menghasilkan buah, maka saat itu kemarilah engkau. Lalu Aku akan membayar setiap biji yang sangat engkau butuhkan dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, dan terus hingga kelipatan-. kelipatan yang sangat banyak. Sesungguhnya Aku lebih mengetahui kemaslahatanmu daripada dirimu sendiri dan Aku Maha Agung lagi Maha Bijaksana."

Ada yang berkata bahwa rahasia-rahasia yang telah kami sebutkan di atas dan yang semisalnya, hanya berlaku jika surga yang pernah ditempati Adam a.s. dan ia diturunkan darinya adalah surga yang kekal, yang siapkan untuk orang-orang bertakwa dan orang-orang mukmin pada hari kiamat kelak. Dengan demikian, rahasia diturunkan dan dikeluarkannya Adam a.s. dari sana menjadi nampak. Akan tetapi, ada sekelompok orang —di antaranya Abu Muslim, Mundzir bui Sa'id al-Baluthi dan lainnya— yang berkata bahwa surga itu adalah surga yang ada di suatu tempat tinggi di bumi ini, bukannya surga yang pada hari kiamat dipersiapkan Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Mundzir bin Sa'id menyebutkan pendapat ini dalam tafsirnya dari beberapa orang. Dia berkata, "Sekelompok orang berpendapat bahwa firman Allah SWT kepada Adam a.s., 'Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga', adalah surga abadi yang akan ditempati orang-orang mukmin pada hari kiamat. Sedangkan, sebagian yang lain berpendapat bahwa itu adalah surga lain yang diciptakan dan disiapkan sebagai tempat Adam a.s., bukan surga yang abadi. Ini adalah pendapat yang memiliki banyak bukti-bukti pendukung, karena surga yang dimasuki orang mukmin pada hari kiamat adalah salah satu tempat di akhirat. Dan surga itu hanya dimasuki pada hari akhirat, sedangkan itu belum terjadi. Allah SWT telah menjelaskan kepada kita dalam kitab-Nya tentang sifat-sifat surga itu. Dan, mustahil Allah SWT menggambarkan sifat sesuatu, lalu sesuatu itu tidak seperti apa yang Dia gambarkan. Maka, hal ini merupakan sebab mengapa Allah SWT memberitahukan kondisi surga tersebut."

Orang-orang berkata -ini masih perkataan Mundzir bin Sa'id—bahwa mereka mendapati Allah SWT menggambarkan surga yang dipersiapkan untuk orang-orang bertakwa sesudah hari kiamat adalah yang ditempati Adam a.s., padahal Adam a.s. tidak tinggal di sana. Mereka berkata bahwa surga itu adalah surga yang kekal, padahal Adam a.s. tidak kekal di dalamnya. Mereka berkata bahwa Allah SWT menjelaskan surga itu adalah tempat ganjaran bukannya tempat ujian, padahal Adam a.s. telah diuji di dalamnya dengan kemaksiatan dan fitnah. Mereka berkata bahwa Allah SWT telah menjelaskan di dalam surga itu tidak ada kesedihan, dan orang-orang yang memasukinya akan berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan beban kesedihan," padahal Adam a.s. telah bersedih di dalamnya.

Kita tahu bahwa Allah SWT menamakan surga itu dengan tempat keselamatan (Daarus-salaam), sedangkan Adam a.s. tidak selamat dari kekurangan yang ada di dunia. Allah SWT juga menamakannya sebagai tempat untuk menetap selamanya (Daarul-Qaraar), padahal Adam a.s. tidak terus menetap di dalamnya. Allah SWT berfirman kepada orang yang memasukinya,

"Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya" (al-Hijr: 48)

Sedangkan, Adam a.s. telah keluar karena kemaksiatan yang ia perbuat. Allah SWT berfirman,

"Mereka tidak merasa lelah di dalamnya." (al-Hijr: 48)

Adam a.s. telah kelelahan karena melarikan diri ketika dia melakukan kemaksiatan dan menutupi dirinya dengan dedaunan surga, padahal kelelahan ini adalah yang dinafikan Allah dari surga abadi. Allah SWT mengabarkan bahwa di dalamnya tidak terdengar ucapan sia-sia dan dosa, padahal Adam a.s. telah melakukan dosa dan mendengarkan sesuatu yang lebih besar daripada ucapan sia-sia, yaitu diperintah berbuat maksiat kepada Tuhannya. Allah SWT mengabarkan bahwa tidak ada ucapan sia-sia dan kedustaan di dalamnya, padahal iblis telah memperdengarkan kedustaan kepada Adam a.s.. Iblis juga bersumpah atas kedustaan tersebut setelah memperdengarkannya kepada Adam a.s..

Allah SWT telah memberitakan dalam Kitab-Nya bahwa Dia menamakan minuman yang ada di surga dengan nama, "minuman yang bersih" (al-Insaan: 21), yakni bersih dari segala sifat tercela, padahal Adam a.s. tidak bersih dari sifat-sifat tersebut. Allah SWT juga menamakannya 'tempat kebenaran', padahal iblis telah mendustai Adam a.s. di dalamnya, sedangkan 'tempat kebenaran' tidak ada dusta di dalamnya. Dan, Allah SWT juga menamakannya 'tempat yang tinggi', yang di dalamnya sama sekali tidak ada perubahan dan pergantian sebagaimana yang disepakati orang-orang muslim. Dan, surga berada pada tempat yang paling tinggi. Sesungguhnya Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-Baqarah: 30)

Dia tidak mengatakan, "Sesungguhnya Aku akan menjadikannya di surga, tempat kembali." Maka, para malaikat berkata,

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah." (al-Baqarah: 30)

Dan dengan ketaatan para malaikat, mereka tidak mungkin mengatakan kepada Allah SWT bahwa Allah tidak tahu. Akan tetapi, para malaikat tersebut berkata,

"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32)

Hal ini merupakan indikasi bahwa Allah SWT telah mengajarkan kepada mereka bahwa keturunan Adam a.s. akan melakukan kerusakan di atas bumi. Jika tidak demikian, bagaimana mereka mengatakan apa yang mereka tidak tahu.

Sedangkan Allah SWT telah berfirman, dan firman-Nya itu maha benar,

"Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya." (al-Anbiyaa": 27)

Tidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muhibbin

Para malaikat tidak mengatakan dan tidak berbuat sesuatu kecuali yang diperintahkan oleh Allah SWT. Allah berfirman,

"Dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (at-Tahriim: 6)

Allah SWT telah memberitahu kita bahwa iblis berkata kepada Adam a.s., "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuidi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaahaa: 120)

Seandainya Allah SWT telah menempatkan Adam pada surga yang abadi dan kerajaan yang tidak binasa, bagaimana dia tidak membantah nasehat iblis dan mengingkari ucapannya dengan berkata, "Bagaimana engkau menunjukkanku kepada sesuatu yang aku ada di dalamnya, dan sesuatu itu telah diberikan kepadaku serta aku telah memilihnya?" Mengapa Adam a.s. tidak menaburkan debu ke wajah iblis dan mencelanya? Sebab, seandainya iblis dengan ucapannya itu bermaksud menyesatkan Adam a.s., maka dia sebenarnya menghina Adam a.s.. Karena menjanjikan kepada Adam a.s. jika ia melakukan maksiat, maka iblis akan memberinya sesuatu yang dia ada di dalamnya, bukan sesuatu yang lebih baik dari tempat itu.

Perkataan seperti ini hanya ditujukan kepada orang-orang gila yang tidak berakal. Karena, imbalan yang dijanjikan kepadanya dengan berbuat maksiat kepada Allah SWT telah ia peroleh, yaitu kekekalan dan kerajaan yang tidak lekang oleh waktu. Dan ketika Allah SWT menempatkan Adam a.s. di surga, Allah tidak memberitahu Adam a.s. bahwa dia kekal di dalam surga. Seandainya Adam a.s. kekal di dalam surga itu, pasti dia tidak akan terpengaruh oleh ucapan iblis dan tidak menerima nasehatnya. Akan tetapi, karena dia tidak berada di dalam surga yang kekal, maka dia tertipu dengan apa yang diiming-imingkan iblis untuk makan buah khuidi.

Seandainya Allah SWT telah memberitahu Adam a.s. bahwa dia berada di dalam surga yang abadi, maka apabila dia meragukan pemberitahuan Tuhan tersebut, dia disebut sebagai orang kafir, bukan menyebutnya sebagai orang yang berbuat maksiat. Hal ini, karena orang yang meragukan berita Allah SWT adalah orang kafir, sedangkan orang yang melakukan selain perintah Allah dan dia meyakini pemberitahuan Tuhan disebut orang yang berbuat maksiat (al- 'aashi). Allah SWT hanya menamakan Adam a.s. sebagai orang yang berbuat maksiat, bukan orang kafir.

Orang-orang berpendapat -ini masih perkataan Mundzir bin Sa'id— bahwa seandainya Allah SWT menempatkan Adam a.s. di dalam surga yang abadi, yang suci dan hanya dimasuki oleh orang suci dan disucikan, maka mengapa iblis yang kotor, terlaknat, tercela, dan hina dapat mencapai surga sehingga dia dapat menggoda Adam a.s.. Iblis adalah makhluk fasik yang telah membangkang dari perintah Tuhannya. Sedangkan, surga bukanlah tempat orang-orang fasik dan sama sekali tidak akan dimasuki oleh orang yang fasik. Surga adalah tempat orang-orang bertakwa, sedangkan iblis bukan makhluk yang bertakwa. Jika setelah dikatakan kepada iblis dalam surah al-A'raaf ayat 13, "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya", dia mendapat kelapangan untuk naik ke surga di langit ke tujuh, setelah Allah SWT memurkai dan menjauhkannya karena keangkuhan dan kesombongannya, maka ini bertentangan dengan firman Allah SWT dalam surah al-A'raaf tersebut.

Seandainya ucapan dan janji iblis kepada Adam a.s. bukan kesombongan, maka orang-orang Arab yang dengan bahasa mereka Al-Qur'an diturunkan, tidak akan memahami makna takabur. Mungkin orang yang pikirannya lemah dan pengetahuannya kurang akan berkata bahwa iblis tidak sampai ke surga, hanya godaannya yang sampai ke sana. Maka, ini adalah kata-kata yang menyerupai kondisi orang yang mengatakan dan meyakininya. Dan, hanya firman Allah SWT yang menjadi penengah antara kami dan orang itu. Firman Allah SWT, "Dan Iblis bersumpah kepada keduanya," tidak sejalan dengan pendapat orang tersebut. Karena sumpah itu bukan godaan, tetapi ia adalah pembicaraan langsung dengan lisan. Dan ini tidak terjadi kecuali ada dua pihak yang berada pada satu tempat, bukan hanya satu orang. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa bisikan iblis berupa pembicaraan langsung (mukhaathabah) adalah firman Allah SWT,

"Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, 'Wahai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa" (Thaahaa: 120)

Dalam ayat ini, Allah SWT memberitahukan bahwa iblis berkata kepada Adam a.s.. ini menunjukkan bahwa iblis membisiki Adam a.s. secara langsung, bukannya memasukkan godaannya ke dalam relung hati Adam a.s. tanpa kata-kata. Barangsiapa mengklaim bahwa ayat ini perlu ditakwilkan tanpa adanya dalil, maka pendapatnya itu tidak boleh diterima. Dan sekali lagi bahwa bisikan adalah ucapan atau suara yang terdengar.

Ar-Ru'bah Ibnu-Ajjaj berkata,

"Ucapan pelan yang berdoa dengan ikhlas kepada Tuhan."

Al-A'syaa berkata,

"Engkau mendengar gemerincing lembut suara perhiasan di kala dia pergi Seperti suara pohon 'Asyraq yang ditiup angin."

Orang-orang berpendapat bahwa perkataan iblis kepada Adam a.s. dan Hawa, "Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua memakan pohon ini", menunjukkan bahwa iblis menyaksikan mereka berdua dan pohon itu.

Tatkala Adam a.s. keluar dari surga, tidak lagi tinggal di dalamnya, Allah SWT berfirman,

"Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.'" (al-A'raaf: 22)

Dalam firman-Nya di atas, Allah SWT tidak mengatakan 'daripohon ini' seperti ucapan Iblis kepada Adam a.s.. Ini disebabkan Adam a.s. waktu itu tidak berada di surga dan tidak melihat pohon tersebut.

Allah SWT berfirman,

"Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang balk dan amal saleh dinaikkan-Nya." (Faathir: 10)

Dalam ayat di atas Allah SWT mengatakan dengan tegas bahwa yang akan naik kepada-Nya adalah perkataan yang baik dan amal saleh. Inilah yang telah kami katakan sebelumnya bahwa hanya yang suci dan baik yang bisa masuk ke tempat suci dan disucikan. Aku berlindung kepada Allah atas ucapan bahwa bisikan iblis itu suci, disucikan atau baik, tetapi sebaliknya bisikan iblis adalah buruk, zalim, keji, dan najis. Maha Tinggi dan Maha Besar Allah SWT dari hal tersebut. Sebagaimana perbuatan orang-orang kafir tidak sampai kepada Allah SWT Yang Maha Suci karena perbuatan itu hina dan buruk, maka demikian halnya dengan bisikan iblis. Allah berfirman,

"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjiin." (al-Muthaffifiin: 7)

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa Adam a.s. tidur dalam surganya, padahal menurut ijma' orang-orang muslim, penghuni di surga yang abadi tidak tidur karena tidur adalah satu kematian, sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an. Dan orang yang tidur adalah orang yang mati, atau laksana orang mati. Sedangkan, kematian adalah sebuah perubahan kondisi, padahal surga bebas dari perubahan.

Mereka mengatakan bahwa Ummu Haritsah berkata kepada Rasulullah," Wahai Rasulullah, sesungguhnya Haritsah telah terbunuh dalam peperangan bersamamu. Jika dia berjalan menuju surga, maka saya akan bersabar dan berbalk sangka. Tetapi jika dia berjalan menuju ke tempat lain, menurut engkau apa yang harus saya lakukan?" Maka Rasulullah saw. bersabda, "Apakah kau kira surga itu cuma satu? Surga itu banyak."(HR Bukhari (XI/415- Fath al-Baari), Ahmad dalam al-Musnad (III/124) dan mempunyai beberapa jalur periwayatan dalam al-Musnad.)

Maka Rasulullah saw. mengabarkan bahwa Allah SWT memiliki banyak surga, jadi mungkin saja Adam a.s. ditempatkan dalam salah satu surga selain surga abadi.

Mereka mengatakan bahwa walaupun riwayat yang menyebutkan bahwa surga Adam ada di India tidak disahkan oleh para perawi dan penukil khabar serta atsar, tapi yang diterima akal dan didukung oleh makna lahir ayat Al-Qur'an adalah bahwa surga Adam a.s. bukan surga abadi. Bagaimana bisa dikatakan bahwa surga itu adalah surga abadi, padahal Allah SWT yang berfirman kepada para malaikat,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-Baqarah: 30)

Bagaimana Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan seorang khalifah di atas bumi, kemudian Dia menempatkannya di surga, tempat kekekalan? Sedangkan surga itu hanya dimasuki oleh orang yang kekal di dalamnya, sebagaimana ia dinamakan Daarul-Khuld (tempat kekekalan). Allah SWT telah menamakan surga tersebut dengan beberapa nama yang telah kami sebutkan dengan penamaan secara umum, yang tidak ada pengecualian di dalamnya. Jika surga dikatakan sebagai tempat kekekalan, maka obyek nama ini tidak boleh berkurang sama sekali.

Demikianlah beberapa argumentasi orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam a.s. bukan surga yang abadi.

Atas dasar ini, maka penempatan Adam dan keturunannya di dalam surga tidak bertentangan dengan keberadaan mereka di dalam tempat cobaan dan ujian. Dengan demikian, hal-hal yang kalian sebutkan bisa terjadi di surga ini.

Komentar/jawaban kami untuk hal di atas adalah sebagai berikut.

Ada dua pendapat manusia seputar permasalahan surga Adam a.s.. Kami telah menyebutkan kedua pendapat tersebut serta dalil—dalil keduanya. Maka, berikut ini akan kami jelaskan kebenaran dalil-dalil atas hal-hal yang telah kami sebutkan sebelumnya, juga akan kami jelaskan beberapa argumentasi pendukung lainnya.

Pertama-tama kami akan menyebutkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam a.s. adalah surga abadi yang dijanjikan Allah SWT kepada orang-orang bertakwa, disertai dalil-dalil mereka serta jawaban terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa surga itu bukan surga yang abadi. Setelah itu kami akan menyebutkan pendapat kelompok kedua, dalil-dalil mereka, dan jawaban mereka terhadap lawan-lawan mereka, tanpa memihak atau mendukung salah satu dari kedua pendapat tersebut, sebab itu bukanlah tujuan kami. Tujuan kami hanyalah menyebutkan beberapa hikmah dan kemashlahatan yang menyebabkan Adam a.s. dikeluarkan dari surga dan ditempatkan di atas bumi, tempat cobaan dan ujian.

Sasaran di balik itu adalah untuk memberikan jawaban kepada orang yang mengatakan bahwa hikmah Allah SWT menolak jika Adam a.s. berada di surga dan Allah membiarkannya melakukan dosa sehingga membuatnya keluar darinya. Juga untuk memberikan jawaban terhadap orang yang mengatakan bahwa tidak ada faedah dalam kejadian itu. Selain itu, juga jawaban terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak memiliki hikmah dalam keluarnya Adam a.s. dari surga, dan bahwa itu terjadi karena kehendak-Nya belaka. Ketika maksud Tuhan itu terjadi, baik itu surga yang abadi maupun bukan, maka kami menjelaskan pendapat kami berdasarkan kedua kemungkinan tersebut.

Kami akan membantah secara singkat terhadap mereka yang mengatakan bahwa surga Adam a.s. bukanlah surga yang kekal, tidak akan mencapai tujuan dan tidak akan menghilangkan penyakit. Oleh karena itu, kami menempuh cara ini agar pendapat mereka terbantah dengan semua pendapat umat ini. Setelah memohon pertolongan kepada Allah SWT, bertawakal, dan berserah diri kepada-Nya, maka kami katakan, "Apa yang kalian katakan bahwa surga yang pernah ditempati Adam a.s. bukan surga yang abadi tetapi surga yang lain, adalah permasalahan yang menjadi perselisihan umat. Pendapat yang paling masyhur di kalangan ulama dan orang awam bahwa surga tersebut adalah surga yang abadi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa. Beberapa ulama salaf juga telah menegaskan hal ini.

Orang-orang yang mendukung pendapat ini, mendasarkan argumentasi mereka kepada sebuah riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya dari Abu Malik al-Asyja'I, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a., dari Abu Malik, dari Rab'i bin Kharrasy, dari Hudzaifah r.a.. Abu Hurairah dan Hudzaifah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Allah Azza wa Jalla mengumpulkan manusia hingga surga didekatkan kepada mereka. Lalu mereka mendatangi Adam dan berkata, 'Wahai Bapakkami, mintalah supaya surga dibukakan untuk kami.' Adam menjawab. 'Kalian tidak dikeluarkan dari surga kecuali karena satu kesalahan Bapak kalian Adam." (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang meminta Adam a.s. untuk memohon Tuhan membukakan surga yang pernah ia tempati. Mereka juga berargumentasi bahwa yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah SWT,

"Allah berfirman, 'Hai Adam tinggallah engkau dan istrimu di surga!"' (al-Baqarah: 35)

Sampai pada,

"Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (al-Baqarah: 36)

Dan firmannya 'Turunlah kamu!' dan seterusnya, menunjukkan bahwa mereka sebelumnya tidak berada di bumi. Allah SWT juga menggambarkan surga yang ditempati Adam a.s. tersebut dengan beberapa sifat yang tidak ada dalam surga duniawi. Allah SWT berfirman,

"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak pula akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (Thaahaa: 118-119)

Hal yang disebutkan ayat ini tidak terjadi di dunia. Karena meskipun seseorang di dunia berada pada kedudukan yang paling tinggi, dia pasti mengalami rasa lapar, haus, tidak berpakaian, dan terkena sengat sinar matahari. Juga seandainya surga Adam a.s. itu di dunia, niscaya Adam a.s. mengetahui kebohongan iblis dalam ucapannya,

"Maukah kamu saya tunjukkan pohon khuldi, dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaahaa: 120)

Adam a.s. tahu bahwa dunia ini fana dan kerajaannya tidak abadi.

Dalam kisah Adam a.s. dalam surah al-Baqarah, sesungguhnya sangat jelas bahwa surga tempat asal dia dikeluarkan berada di atas langit. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kalian kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia enggan dan takabur. Dan dia adalah termasuk golongan orang-orang kafir. Kami berfirman, "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga itu, dan makanlah makanan mana saja yang engkau sukai dan janganlah engkau dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim.' Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu, lalu dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfiman, 'Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan bagi kamu ada tempat keamanan di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.'" (al-Baqarah: 34-37)

Ayat di atas menggambarkan proses kejatuhan Adam, Hawa, dan iblis dari surga. Oleh karena itu, dalam ayat di atas kata ganti yang digunakan adalah kata ganti plural (kalian). Dikatakan bahwa kata ganti tersebut adalah untuk mereka dan ular, namun ini memerlukan riwayat yang benar, sebab dalam kisah Adam dan Iblis tidak disinggung sama sekali tentang ular. Ada juga yang mengatakan bahwa firman Allah SWT tersebut adalah untuk Adam dan Hawa saja, walaupun menggunakan kata ganti plural, seperti dalam firman-Nya,

"Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu." (al-AnbiyaaN: 78)

Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut ditujukan kepada Adam dan Hawa beserta keturunannya. Akan tetapi semua pendapat ini lemah, kecuali pendapat pertama karena antara pendapat yang tidak memiliki dalil dengan makna yang tampak dalam ayat sangat jauh bertentangan. Maka, jelaslah bahwa iblis termasuk obyek perkataan Allah SWT tersebut, dan dia juga termasuk yang dikeluarkan dari surga.

Kemudian Allah SWT berfirman,

"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak ada pula mereka bersedih hati.'" (al-Baqarah: 38)

Kejadian turunnya Adam, Hawa, dan iblis yang kedua ini, jelas bukan turunnya mereka yang pertama. Kejadian yang kedua ini adalah mereka turun dari langit ke bumi. Maka, turunnya mereka yang pertama adalah dari surga yang berada di atas langit, yaitu surga yang abadi. Sebagian ulama, di antaranya Zamakhsyari, berpendapat bahwa perkataan Allah, "Turunlah kalian semua dari surga!" adalah khusus untuk Adam dan Hawa. Al-Qur'an menggunakan bentuk plural karena keturunannya diikutsertakan ke dalamnya. Dalil pendapat ini adalah firman Allah SWT,

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.' (Thaahaa: 123)

Dalil yang lain adalah firman Allah,

"Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak ada pula mereka bersedih hati. Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (al-Baqarah: 38-39)

Ayat ini tidak lain adalah sebuah hukum yang meliputi semua orang. Dan makna, 'Sebagian dari kamu menjadi musuh atas sebagian yang lain' adalah kondisi manusia yang saling bermusuhan, berselisih, dan saling menyesatkan satu sama lainnya. Penafsiran ayat yang dipilih oleh para pemilik pendapat ini merupakan penafsiran yang paling lemah. Karena permusuhan yang disebutkan Allah SWT tersebut adalah permusuhan antara Adam dan Iblis, serta antar keturunan keduanya. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT,

"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh kalian." (Faathir: 6)

Adapun tentang Adam a.s. dan istrinya, maka Allah SWT telah menyebutkan dalam Al-Qur'an bahwa Dia menciptakan Hawa agar Adam merasa tenteram bersamanya. Allah SWT berfirman,

"Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan mereka tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (ar-Ruum: 21)

Allah SWT menciptakan kasih sayang antara laki-laki dan pasangannya. Sedangkan, antara Adam dan Iblis serta keturunannya, maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. Kata ganti plural dalam ayat-ayat di atas juga menunjukkan hal ini. Penjelasan tentang Adam dan Hawa telah disebutkan dalam pendapat mereka tentang firman Allah, "Lalu keduanya digelincirkan setan dari surga, dan keduanya dikeluarkan." Jadi mereka bertiga adalah Adam, Hawa, dan iblis. Lalu mengapa kata ganti itu hanya untuk sebagian yang disebutkan tidak untuk semuanya, padahal ini tidak sesuai dengan konteks kalimat?

Apabila ditanyakan, bagaimana Anda memahami firman Allah,

"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain.'" (Thaahaa: 123)

Karena ayat ini adalah perintah kepada Adam dan Hawa, namun mengapa setelah itu ayat ini menginformasikan permusuhan mereka dengan kata ganti plural? Ada yang mengatakan bahwa kata ganti dalam firman Allah 'turunlah kamu berdua!' adalah untuk Adam dan istrinya. Ada juga yang mengatakan bahwa kata ganti tersebut adalah untuk Adam dan iblis sedangkan Hawa tidak disebutkan karena dia ikut kepada Adam. Berdasarkan pendapat yang kedua, firman Allah di atas ditujukan kepada dua pihak yang bermusuhan, yaitu Adam dan iblis. Dan berdasarkan pendapat pertama, maka ayat ini meliputi dua hal.

a) Perintah untuk turun dalam ayat tersebut adalah ditujukan kepada Adam a.s. dan istrinya.

b) Permusuhan itu adalah antara Adam, Hawa dan iblis. Dengan demikian, iblis harus masuk dalam hukum permusuhan ini, sebagaimana dengan firman Allah SWT,

"Ini (Iblis) adalah musuh kamu dan musuh istri kamu." (Thaahaa: 117)

Allah SWT berfirman kepada anak cucu Adam,

"Sesungguhnya setan itu musuh kalian dan tempatkanlah dia sebagai musuh." (Faathir: 6)

Perhatikanlah bagaimana ayat-ayat yang di dalamnya menyebutkan tentang permusuhan dengan iblis sesuai dengan kata ganti yang ada di dalamnya, yaitu bentuk plural bukannya kata ganti untuk dua orang. Sedangkan, ayat yang bercerita tentang turunnya Adam, Hawa, dan iblis dari surga, terkadang disebutkan dengan kata ganti plural, kata ganti untuk dua orang atau kata ganti tunggal yaitu untuk iblis saja. Misalnya firman Allah,

"Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam pada Waktu Aku menyuruhmu?' Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya." (al-A'raaf: 12-13)

Perintah turun dalam ayat ini hanyalah untuk iblis saja, dan kata ganti dalam firman-Nya 'darinya' adalah merujuk ke kata 'surga'. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ganti pada kata 'darinya' itu merujuk kepada 'langif. Apabila kata ganti tersebut berbentuk plural, maka Adam, istrinya, dan iblis adalah inti dalam kisah. Apabila kata gantinya menunjukkan arti dua orang, maka itu untuk Adam dan istrinya, karena mereka berdua yang memakan buah pohon larangan atau yang melakukan kemaksiatan. Bisa juga kata ganti tersebut untuk Adam dan iblis, karena keduanya adalah nenek moyang kedua jenis makhluk; manusia dan jin.

Oleh sebab itu, Allah SWT menyebutkan keadaan keduanya dan apa yang berhubungan dengan mereka, agar menjadi renungan dan pelajaran bagi anak cucu keduanya. Dan apabila kata gantinya berbentuk tunggal, maka itu untuk iblis saja. Dan yang menunjukkan bahwa kata ganti dalam firman-Nya, 'turunlah kalian berdua dari tempat itu bersama-sama', adalah untuk Adam dan Iblis, yaitu bahwa ketika Allah SWT menyebutkan tentang kemaksiatan, Allah SWT hanya menyebut Adam tanpa menyebut istrinya. Allah berfirman, "Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia. Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taobatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama.'" (Thaahaa: 121-123)

Semua ini menunjukkan bahwa yang diperintah turun adalah Adam dan iblis. Sedangkan Hawa sudah tercakup dalam keduanya, dia diikutkan kepada Adam. Karena pemberitahuan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, jin dan manusia, tentang buruknya kemaksiatan yang dilakukan nenek moyang mereka bertujuan agar mereka tidak mengikutinya, maka penyebutan kedua nenek moyang mereka adalah lebih efektif dalam menyampaikan maksud ini, daripada hanya menyebutkan bapak-ibu manusia.

Allah SWT juga menginformasikan tentang istri Adam a.s., yaitu bahwa dia ikut makan bersama Adam a.s. Allah SWT menurunkan dan mengeluarkannya karena ia memakan buah tersebut. Hal ini dikarenakan Allah SWT mengetahui bahwa ini merupakan tuntutan dari perkawinan, dan bahwa Hawa pun menjalani apa yang dialami Adam a.s.. Dengan ini, maka menyebutkan kedua nenek moyang manusia, lebih baik daripada hanya menyebutkan bapak atau ibu manusia saja. Wallahu a 'lam.

Singkatnya, firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 36, "Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh sebagian yang lain", dengan jelas memakai kata ganti plural. Sebab itu, ayat ini tidak bisa ditafsirkan hanya untuk dua orang saja, seperti dalam firman Allah 'turunlah kalian berdua'.

Orang-orang yang berpendapat bahwa surga Adam bukan surga abadi mengatakan, "Bagaimana iblis menggoda Adam a.s. setelah menurunkannya dari surga, dan mustahil dia bisa naik ke surga sesudah Allah SWT berfirman kepadanya, 'Turun!'."

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini.

1) Allah SWT telah mengeluarkan iblis dari surga, dan Dia melarangnya untuk memasukinya sebagai tempat kediaman, tempat kehormatan, dan menjadikannya sebagai tempat menetap. Lalu darimana kalian tahu bahwa Allah SWT melarang iblis masuk ke surga untuk menguji dan mencoba Adam dan istrinya? Maka, masuknya iblis ke surga waktu itu sifatnya adalah insendentil, sebagaimana halnya para polisi yang memasuki rumah orang-orang yang harus diperiksa dan diawasi, meskipun polisi-polisi tersebut sebenarnya tidak berhak untuk tinggal dalam rumah itu.

2) Iblis tidak masuk ke surga, tetapi ia hanya mendekati langit dan berbicara dengan Adam dan Hawa.

3) Mungkin juga dia hanya berada di pintu surga, lalu memanggil dan bersumpah kepada Adam dan Hawa, tanpa masuk ke dalamnya.

4) Diriwayatkan bahwa ketika iblis hendak masuk ke surga, para penjaga surga

melarangnya. Kemudian ia masuk ke dalam mulut ular (Tidak ada riwayat sahih yang menyebutkan tentang ular. Riwayat ini hanya didapatkan dalam riwayat- riwayat israliliyat (cerita-cerita yang dibuat-buat orang Yahudi).

dan ular itu membawa iblis masuk menemui Adam dan Hawa tanpa disadari para penjaga. Mereka yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. adalah surga abadi mengatakan, salah satu dalil yang menunjukkan bahwa itu adalah surga abadi adalah bahwa kata 'surga' disebutkan dalam bentuk definitif, yaitu kata 'surga 'dalam setiap ayat di atas disertai dengan huiuflaam ta'riif (Laam Ta'riif adalah laam yang menunjukkan bahwa kata yang disertainya adalah definitif.). Seperti dalam firman Allah SWT,

"Tinggallah kamu dan istrimu dalam surga!" (al-Baqarah: 36)

Tidak ada surga yang dikenali dan diketahui obyek pembicaraan kecuali surga abadi, yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada yang gaib. Dengan demikian, nama ini menjadi isim 'aalam (nama tetap) bagi surga, meskipun jannah mempunyai arti 'kebun yang penuh dengan buah-buahan', seperti halnya nama madiinah (kota) untuk kota Rasul, an-nujum untuk bintang Tsurayya (bintang Kartika) dan semacamnya. Maka, disebutkannya lafal al-jannah dengan ungkapan definitif yang didahului huruf alif dan laam, menunjukkan makna surga yang lazim dikenal oleh orang-orang mukmin. Adapun jika yang dimaksud adalah surga yang lain, maka mestinya disebutkan dengan iafal nakirah (indefinitif), seperti firman Allah,

"Dua kebun anggur." (al-Kahfi: 32)

Atau disertai dengah idhaqfah (penyandaran kepada kata lain), seperti firman Allah,

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan ketika kamu memasuki kebunmu:" (al-Kahfi: 39)

Atau jika terikat dengan konteks yang menunjukkan bahwa surga tersebut ada di bumi, seperti firman Allah SWT,

"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik kebun ketika mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya di pagi hari." (al-Qalam: 17)

Konteks dalam kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa surga itu sebuah kebun yang ada di bumi.

Orang-orang yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. adalah surga yang abadi juga mengatakan, seluruh pengikut Ahlusunnah wal-Jama'ah telah sepakat bahwa surga dan neraka telah diciptakan. Hadits-hadits mutawatir mengenai hal ini banyak sekali, seperti yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari-Muslim, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi saw. bahwa Rasulullah bersabda,

"Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian mati, maka tempat duduknya disuguhkan kepadanya slang dan malam. Jika dia penduduk surga, maka kursi itu dari kursi penduduk surga. Dan jika dia penduduk neraka, maka kursi itu kursi penduduk neraka. Lalu dikatakan kepadanya, inilah tempat dudukmu hingga Allah membangkitkan kamu pada hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim)

Juga riwayat lain dalam Shahih Bukhari dan Muslim, yaitu hadits Sa'id al-Khudri bahwa Nabi bersabda,

"Surga dan neraka bertengkar. Surga berkata, 'Mengapa tidak masuk kepadaku kecuali orang-orang lemah dan rendahan.' Dan neraka berkata, "Mengapa tidak ada yang masuk kepadaku selain orang-orang kejam dan sombong.' Maka Allah berfirman kepada surga, 'Engkau adalah rahmat-Ku. Denganmu, Aku merahmati orang yang Aku kehendaki.' Dan berfirman kepada neraka, 'Aku mengazab denganmu siapa yang Aku kehendaki.'"(HR Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab-kitab Sunan, terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah bersabda,

"Tatkala Allah menciptakan surga dan neraka, Dia mengutus Jibril ke surga dan berfirman kepadanya, 'Pergi dan lihatlah kepadanya dan kepada apa yang Aku persiapkan untuk penghuninya.' Lalu Jibril pun pergi melihat surga dan apa yang dipersiapkan untuk penghuninya."(HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam dua hadits sahih tentang ism', Rasulullah bersabda,

"Kemudian aku diangkat ke Sidratul-Muntaha. Aku melihat daun-daunnya lebarnya seperti telinga gajah, buahnya seperti punuk unta yang paling baik, dan ia memiliki empat sungai. Sungai lahiriah dan sungai batiniah. Lalu aku bertanya kepada Jibril, 'Apa ini wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Sungai lahiriah adalah sungai Nil dan Eufrat, sedangkan sungai batiniah adalah dua sungai yang berada di surga.' (HR Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits di atas juga disebutkan,

"Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga. Maka (kulihat) dinding surga itu terbuat dari mutiara dan tanahnya dari misk."

Dalam shahih Bukhari dari Anas r.a. disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda,

"Ketika aku berjalan di dalam surga, aku berada di sungai yang kedua pinggirnya terbuat dari kubah yang terbuat dari mutiara cekung. Lalu aku bertanya, 'Apa ini Jibril?' Jibril menjawab, 'Ini adalah al-kaustar yang diberikan kepadamu.' Lalu malaikat memukul dengan tangannya, maka kulihat tanahnya adalah parfum dari minyak kasturi." (HR Bukhari dan Ahmad)

Dalam sebuah hadits tentang shalat kusuf yang terdapat dalam shahih Muslim, disebutkan bahwa ketika shalat Nabi bergerak maju mundur. Kemudian setelah "Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Lalu surga didekatkan kepadaku, hingga seandainya aku memetik satu buah dan surga itu, pasti aku dapat mengambilnya. Dan seandainya aku mengambilnya, maka kalian akan makan darinya selama dunia masih ac/a."(HR Muslim dan Nasai)

Dalam shahih Muslim dari Ibnu Mas'ud r.a., yaitu tentang penafsiran firman Allah,

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati! Tapi mereka hidup. Mereka diberikan rezek idisisi Tuhannya." (Ali Imran: 169)

Rasulullah saw. bersabda,

"Ruh mereka berada dalam perut burung hijau yang memiliki lampu-lampu yang tergantung di Arsy. Mereka terbang dari surga ke mana saja dihendakinya. Kemudian mereka kembali berlabuh dalam lampu-lampu itu. Lalu Tuhanmu melihat keadaan mereka dan berfirman, 'Apakah kalian menginginkan sesuatu?' Mereka menjawab, 'Apa lagi yang kami inginkan, sedangkan kami terbang dari surga kapan saja kami hendaki.'" (HR Muslim dan Tirmidzi)

Dalam hadits shahih, dari hadits Ibnu Abbas r.a. disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

"Tatkala saudara-saudaramu terbunuh, Allah menjadikan ruh mereka dalam perut burung hijau yang selalu mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buahnya, bernaung di bawah lampu-lampu yang terbuat dari emas tergantung dalam payung Arsy. Tatkala mereka merasakan kelezatan makanan, minuman, dan tempatnya, mereka mengatakan, 'Siapakah yang akan memberitakan kepada saudara-saudara kami bahwa kami dalam surga, kami diberi rezeki supaya mereka tidak segan-segan berjihad dan tidak menahan diri pada saat perang? Lalu Allah menjawab, 'Aku yang akan memberitahukan mereka tentang kalian-kalian. 'Lalu Azza Wajalla berfirman, 'Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah ....'" (HR Ahmad)

Dalam kitab al-Muwaththa terdapat sebuah hadits dari Ka'ab bin Malik r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya jiwa orang mukmin dimakan seekor burung yang terbang di surga hingga Allah mengembalikannya kepada jasadnya pada hari dibangkitkannya." (HR Malik)

Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah wafat, maka Rasulullah saw. bersabda,

''Ibrahim mempunyai seorang ibu yang menyusuinya di surga." (HR Bukhari dan Ahmad)

Dalam Shahih Bukhari dari Imran bin Hushain r.a. disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

"Saya menengok ke surga. Saya melihat sebagian besar penghuninya adalah para fakir. Kemudian saya menoleh ke neraka dan saya melihat bahwa sebagian besar penghuninya adalah kaum perempuan." (HR Bukhari dan Ahmad)

Adapun atsar(Atsar adalah perkataan shahabat atau tabi'in yang diriwayatkan oleh orang-orang setelah mereka.) yang berkaitan dengan masalah ini sangat banyak.

Sedangkan, pendapat yang mengatakan bahwa surga dan neraka belum diciptakan adalah pendapat para pengikut bid'ah, yaitu kesesatan Mu'tazilah. Mereka mengatakan bahwa surga yang darinya Adam diturunkan adalah surga yang berada di sebelah Timur dan Barat bumi ini. Namun, hadits-hadits di atas dan semisalnya telah membantah pendapat mereka.

Orang-orang tersebut mengatakan, "Argumentasi kalian dengan segala bentuknya mengenai surga, dan bahwa dalam surga di mana Adam a.s itu diturunkan darinya tidak ada perkataan hina, dusta, cobaan, ketelanjangan dan sebagainya adalah benar, serta tidak seorang pun dari umat Islam yang mengingkarinya. Akan tetapi, surga itu hanya dimasuki orang-orang mukmin kelak pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ucapan tersebut. Dan, ini tidak menafikan apa yang dikisahkan Allah SWT tentang kejadian antara Adam a.s. dan iblis yang berupa ujian dan cobaan. Kemudian ketika orang-orang mukmin akan memasukinya, maka kondisinya menjadi seperti apa yang disebutkan Allah Azza wa Jalla. Jadi tidak ada pertentangan antara keduanya."

Mereka yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. adalah surga yang abadi mengatakan, "Adapun pendapat kalian bahwa surga adalah tempat pembalasan dan pahala, bukan tempat menerima taklif. Padahal di dalamnya Allah SWT telah membebani Adam dengan larangan mendekati pohon Khuldi. Jawaban bagi hal ini ada dua.

a) Surga tidak dapat menjadi tempat pembebanan apabila dimasuki orang-orang mukmin pada hari kiamat. Pada saat itu beban taklif terputus. Sedangkan, tidak terjadinya beban taklif di dalam surga di kala dunia masih ada tidak ada dasarnya.

b) Beban taklif yang ada di dalam surga Adam tersebut bukan dalam bentuk pekerjaan yang dibebankan kepada manusia di dunia ini, seperti puasa, shalat dan semisalnya. Akan tetapi, beban taklif tersebut hanya berupa larangan mendekati sebuah pohon yang ada di dalamnya. Dan, ini tidak menjadi alasan bahwa kejadian tersebut bukan di dalam surga yang abadi, sebagaimana di dalamnya setiap orang dilarang mendekati istri orang lain. Jika yang kalian maksud surga itu bukan tempat menerima beban taklif sehingga tidak mungkin terjadi hal tersebut, maka kalian tidak mempunyai dalil tentang kemustahilan itu. Dan apabila yang kalian maksudkan adalah sebagian besar beban yang ada di dunia tidak ada di dalamnya, maka hal itu benar, akan tetapi itu tidak sejalan dengan keinginan kalian. Mereka juga mengatakan bahwa pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam tersebut bukan surga abadi memerlukan dalil-dalil dan dukungan dari pendapat salaful-ummah. Karena - menurut mereka - tidak seorang ulama pun yang berpendapat demikian, maka pendapat ini tidak dapat dipegang dan tidak layak untuk dilirik."

Orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam itu bukan surga abadi, berkata, "Jawaban atas apa yang kalian sebutkan di atas terbagi menjadi dua; secara global dan terperinci."

Pertama jawaban secara global, bahwa sesungguhnya kalian sama sekali tidak menyebutkan satu dalil yang menjadi dasar kokoh, baik dari Al-Qur'an, sunnah maupun atsar yang benar dari sahabat dan tabi'in yang sanadnya bersambung maupun yang terputus. Sekarang kami hadirkan salah seorang ulama terkemuka yang sependapat dengan kami, yaitu Sufyan bin Uyainah ketika mengomentari firman Allah SWT,

"Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang." (Thaahaa: 118)

Sufyan bin Uyainah berkata, "Di dalamnya maksudnya di bumi." Abdullah bin Muslim bin Qutaibah dalam kitabnya al-Ma'arif, setelah menyebutkan penciptaan Adam a.s. dan istrinya, ia berkata bahwa sesungguhnya Allah mengeluarkannya dari surga Aden yang ada di ujung timur dunia ke bumi, tempat asal ia diambil. Hasan Bashri menceritakan dari Ubai bin Ka'ab, bahwa tatkala Adam a.s. menjelang ajal, dia menginginkan buah dari buah surga. Lalu anak-anaknya berangkat mencarikan buah untuknya.

Di dalam perjalanan mereka bertemu dengan malaikat. Malaikat itu bertanya, "Wahai anak-anak Adam mau kemanakah kalian?" Mereka menjawab, "Ayah kami menginginkan buah dari surga." Malaikat itu berkata kepada mereka, "Kembalilah! Kalian sudah cukup berbuat untuknya." Mereka menghentikan pencarian sampai di situ, lalu dicabutlah nyawa Adam a.s.. Kemudian mereka memandikannya, menaburi tubuhnya dengan wangi-wangian dan mengkafaninya. Lalu Jibril dan anak-anak Adam a.s. beserta para malaikat menshalatinya, kemudian menguburkannya. Lalu para malaikat itu berkata, "Inilah yang harus kalian lakukan terhadap jenazah kalian."

Abu Shalih menukilkan penafsiran Ibnu Abbas r.a. terhadap firman Allah, "Turunlah dari surga itu!", bahwa ia berkata, "Ini sama dengan jika kita mengatakan 'Si fulan turun ke bumi di wilayah ini dan di wilayah itu'." Wahab bin Munabbih menyebutkan bahwa Adam a.s. diciptakan di bumi, di mana dia tinggal dan di dalamnya ada Firdaus yang dibangun untuknya. Adam saat itu berada di 'Aden. Dan sungai Seihun, Jaihun dan Eufrat hulunya berasal dari sungai yang ada di surga, dan Adamlah yang menyiraminya dengan air.

Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Mundzir bin Sa'id al-Baluthi dalam kitab tafsirnya, dan didukung dengan apa yang telah kami sebutkan darinya. Di luar tafsir, dia menyebutkan pendapat Abu Hanifah yang berbeda dengan hal ini, lalu mengapa ia mempunyai pendapat seperti di atas dalam masalah ini? Abu Muslim al-Ashbahani, salah seorang pengarang tafsir dan kitab-kitab lainnya, sependapat dengan Ibnu Mundzir. Abu Muslim mendukung dan membela pendapatnya dengan berbagai dalil, sebagaimana terdapat dalam kitabnya.

Abu Muhammad Abdul Haq bin Athiyyah, dalam tafsirnya menyebutkam dua pendapat mengenai kisah Adam pada surah al-Baqarah. Abu Muhammad Ibnu Hazm juga menyebutkan dua pendapat dalam kitabnya al-Milal wan-Nihal. Ibnu Hazm berkata, "Al-Mundzir bin Sa'id al-Qadhi berpendapat bahwa surga dan neraka telah diciptakan, tapi menurut al-Mundzir itu bukan surga tempat asal Adam a.s. dan istrinya. Dan di antara orang yang menyebutkan tentang kedua pendapat tersebut adalah Abu Isa ar-Rumani di dalam tafsirnya, dan dia memilih bahwa surga Adam a.s. itu adalah surga yang abadi."

Abu Isa ar-Rumani berkata, "Mazhab yang kami pilih adalah pendapat Hasan Bashri, Amru bin Washil dan beberapa ulama lainnya. Ini sebenarnya pendapat Abu Ali dan guru kami Abu Bakr, dan itulah yang diikuti para ahli tafsir."

Di antara ulama yang menyebutkan kedua pendapat tersebut adalah Abul Qasim ar-Raghib dalam tafsirnya, ia berkata, "Orang-orang berbeda pendapat tentang surga yang pernah ditempati Adam. Sebagian ulama ahli kalam berkata, 'Itu adalah kebun yang dijadikan Allah sebagai ujian untuknya, bukan surga tempat kembali.' Barangsiapa yang berkata bahwa itu bukan surga tempat kembali karena di surga tidak ada taklif sedangkan Adam dibebani, maka jawabannya adalah bahwa pada akhirat kelak surga bukan tempat pembebanan taklif, tapi tidak ada yang menghalangi bahwa surga itu menjadi tempat taklif pada saat-saat tertentu sebelum hari akhir, sebagaimana manusia diberi beban taklif pada waktu tertentu, dan tidak ada beban taklif baginya pada waktulain."

Di antara ulama yang menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah Abu Abdullah bin al-Khathib ar-Razi. Di samping kedua pendapat di atas, dia menyebutkan pendapat ketiga yaitu tidak memilih ini dan itu. Abu Abdullah bin al-Khathib ar-Razi mengatakan bahwa tidak ada jalan untuk melakukan konsesi dan tidak mungkin sampai kepada suatu kepastian, sebagaimana yang akan kita lihat dari pendapatnya.

Di antara para mufassir juga ada yang hanya menyebutkan satu pendapat. Yaitu bahwa surga itu bukan surga kekekalan, tetapi ia adalah suatu tempat di bumi yang dikehendaki Allah SWT. Mereka mengatakan bahwa matahari dan bulan terbit di dalamnya, dan iblis berada di dalamnya kemudian dikeluarkan darinya. Ar-Razi mengatakan bahwa seandainya itu adalah surga yang abadi, maka iblis tidak akan dikeluarkan darinya.

Di antara ulama yang menyebutkan kedua pendapat tersebut adalah Abul Hasan al-Mawardi. Dia mengatakan dalam kitab tafsirnya, "Orang-orang berbeda pendapat tentang surga yang didiami Adam a.s., pendapat itu terbagi menjadi dua. (1) la adalah surga abadi. (2) la adalah surga yang khusus dipersiapkan untuk Adam dan Hawa, yang dijadikan Allah SWT sebagai tempat ujian, bukan surga kekekalan yang merupakan tempat pembalasan.

Orang-orang yang mempunyai pendapat terakhir ini berbeda dalam dua hal.

(a) Surga dunia ini berada di langit, sebab Adam dan Hawa diturunkan dari sana. Ini adalah pendapat al-Hasan.

(b) Surga tersebut berada di bumi, karena Allah SWT menguji keduanya di dalamnya dengan melarang mereka mendekati satu pohon dari berbagai macam pohon yang ada. Ini adalah pendapat Ibnu Yahya. Semua ini terjadi setelah iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam a.s.. Hanya Allah yang mengetahui kebenaran hal ini."

Ibnul Khathib dalam tafsirnya berkata, "Para ulama berbeda pendapat: apakah surga yang disebutkan dalam ayat itu ada di bumi, atau berada di langit. Jika ia berada di langit, apakah surga itu surga tempat pembalasan, surga kekekalan ataukah surga lain?"

Abul Qasim al-Bulkhi dan Abu Muslim al-Ashbahani berpendapat bahwa surga tersebut berada di bumi. Ini pendapat pertama. Sedangkan, turunnya Adam dan Hawa darinya diinterpretasikan sebagai perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, sebagaimana firman Allah SWT,

"Pergilah kamu ke suatu kota" (al-Baqarah: 61)

Pendapat kedua adalah pendapat al-Jubbai bahwa surga itu berada di langit ketujuh. Dia mengatakan bahwa dalil untuk pendapat ini adalah firman Allah SWT, 'Turunlah (kalian semua)!' Al-Jubbai mengatakan bahwa peristiwa turun yang pertama adalah dari langit ketujuh ke langit pertama, dan peristiwa turun yang kedua adalah dari langit ke bumi.

Pendapat ketiga adalah pendapat mayoritas ulama yang semazhab dengan kami, bahwa surga itu adalah tempat menerima imbalan. Dalil atas pendapat ini adalah huruf alif dan laam pada lafal al-jannah (surga) tidak memberikan arti umum, sebab menempatkan Adam a.s. dalam semua surga adalah mustahil. Karena itu, pengertiannya harus dialihkan kepada makna yang lazim. Dan makna jannah yang dikenal di kalangan orang-orang muslim adalah tempat menerima imbalan. Maka, mau tidak mau lafal tersebut harus dikembalikan kepada makna ini.

Pendapat keempat adalah yang menyatakan bahwa segala sesuatu mungkin saja terjadi. Sedangkan dalil-dalil naqli yang ada, adalah lemah dan kontradiktif. Karena itu, kita harus menahan diri dan tidak menyatakan pendapat secara pasti. Mereka mengatakan, "Kami tidak mengikuti salah satu dari pendapat tadi, dan kami tidak bersandar kepada yang mereka sebutkan. Hanya dalil yang benar yang bisa menjadi pemutus bagi orang-orang yang berselisih pendapat."

Mereka juga mengatakan, "Kami telah berbicara cukup tentang hal ini. Adapun jawaban secara terperinci, maka kami akan berbicara berdasarkan dalil-dalil yang telah kalian sebutkan, dengan harapan dapat mengungkap kebenaran. Kalian telah menyebutkan sebuah dalil dari riwayat Abu Hurairah r.a. dan Hudzaifah r.a., yaitu tatkala manusia berkata, 'Wahai Adam, mintalah kepada Tuhan untuk membukakan surga bagi kami!' Lalu Adam a.s. menjawab, 'Kalian keluar dari surga adalah karena kesalahanku, bapak kalian.'Hadits ini tidak menunjukkan bahwa surga yang mereka minta untuk dibukakan adalah surga yang pernah ditempati Adam. Sebab jannah adalah nama untuk satu jenis, di mana setiap kebun juga dinamakan dengan jannah. Seperti firman Allah SWT,

'Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya di pagi hari.' (al-Qalam: 17)

'Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, (al-lsraa’: 90-91)

'Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di daratan tinggi.' (al-Baqarah: 265)

'Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggurdan Kami kelilingi keduanya dengan pohon-pohon korma....'

Hingga firman Allah,

'Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu 'Ma syaa Allaah, laa quwwata ilia billah' (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).' (al-Kahfi: 32-39)

Maka; sesungguhnya jannah adalah nama untuk jenis bukan nama benda tertentu. Saat manusia meminta Adam a.s. untuk memohon agar Tuhan membukakan pintu surga bagi mereka, Adam a.s. mengatakan bahwa ia tidak layak melakukan itu karena dia sendiri yang telah mengeluarkan dirinya dan keturunannya dari surga tersebut karena dosa dan kesalahannya. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Hadits tersebut dari sisi manapun tidak menunjukkan bahwa surga yang diminta manusia untuk dibukakan adalah surga yang pernah ditempati Adam dan ia dikeluarkan darinya. Seandainya hadits ini menujukkan kepada hal tersebut, maka kita wajib kembali kepada pengertian hadits itu, dan tidak boleh mengambil pendapat yang menyalahinya. Dan bukankah kita di sini hanya berbicara seputar maksud sabda Rasulullah saw.?"

Orang-orang yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. bukan surga abadi berkata lagi, "Adapun argumentasi kalian bahwa lafal 'al-hubuuth' berarti turun dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, maka jawabannya ada dua.

Pertama, Hubuuth terkadang mempunyai arti berpindah dari satu tempat di ke tempat lainnya bumi. Hal ini sebagaimana jika kita katakan, 'Habatha fulaan balad kadzaa wa kadzaa', Si Man pindah dari satu tempat ke tempat lain. Allah SWT juga telah berfirman,

'Pergilah kalian ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kalian minta/ (al-Baqarah: 61)

Hal ini banyak ditemukan dalam syair Arab seperti ungkapan di bawah ini,

'Engkau singgah di suatu negeri yang kaumnya bersenang-senang di bawah pohon rindang yang berduri.'

Abu Saleh meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa dia berkata, 'Sebagaimana orang Arab mengatakan, 'Si fulan pindah ke negeri ini dan sebagainya." Kedua, kami tidak menentang kalian bahwa 'turun' adalah sebuah makna hakiki sebagaimana yang telah kalian sebutkan. Akan tetapi, apa alasan kalian sehingga surga Adam itu berada di atas langit. Bukankah jika surga itu berada di atas bumi, maka benar juga perkataan bahwa dia turun dari surga, sebagaimana jatuhnya batu dari ketinggian gunung ke tempat rendah dan semisalnya? Adapun firman Allah SWT,

'Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.' (al-Baqarah: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa di dalam bumi tempat mereka diturunkan, merupakan kediaman dan tempat kesenangan hingga pada waktu tertentu. Dan, ini tidak menunjukkan bahwa mereka berada di surga yang tinggi, yang lebih tinggi daripada bumi tempat mereka diturunkan, yang karakternya berbeda dengan bumi, seperti pepohonan, kenikmatan dan keindahannya. Allah SWT telah menerangkan perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah lain di bumi ini dengan perbedaan yang sangat menonjol dan ini dapat disaksikan dengan pancaindera.

Jadi dari mana kalian mengetahui bahwa surga itu bukan surga yang berada di bumi, yang memiliki perbedaan dengan permukaan bumi yang lain? Lalu Adam dan istrinya diturunkan dari surga itu, ke bumi yang lain, yang merupakan tempat kelelahan, kerja keras, cobaan, dan ujian. Dan, ini adalah jawaban atas argumentasi kalian yang berdasarkan firman Allah SWT,

'Sesungguhnya kalian tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang.' (Thaahaa: 118)

Sampai kepada akhir argumentasi yang kalian sebutkan. Karena ketentuan yang ada dalam ayat di atas adalah tergantung pada suatu syarat, sedangkan syarat itu terwujud. Allah SWT menyebutkan hal itu setelah firman-Nya "Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini", dan firman-Nya, "Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang". Kalimat dalam ayat ini adalah kata-kata janji, yang terkait dengan kata-kata sebelumnya. Maknanya, jika kamu menjauhi pohon yang telah Aku larang memakannya dan kamu tidak mendekatinya, maka inilah janji-Ku untukmu. Sedangkan, ketentuan yang tergantung pada suatu syarat akan hilang apabila syarat itu tidak ada. Tatkala Adam memakan buah pohon itu, maka janji tersebut tidak terwujud."

Mereka juga berkata,' Adapun perkataan kalian bahwa seandainya surga itu ada di bumi, niscaya Adam a.s. mengetahui kebohongan iblis dalam ucapannya, 'Maukah kamu aku tunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang abadi?' Ini adalah asumsi yang tidak berdasar, karena tidak ada dalil yang kalian miliki yang mengatakan bahwa saat Allah SWT menciptakan Adam, Dia telah memberitahunya bahwa dunia ini akan binasa dan kerajaannya hanya sementara. Taruhlah misalnya Adam telah diberitahu tentang hal itu, maka perkataan iblis, 'Maukah kamu aku tunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang abadi,' tidak menunjukkan bahwa yang diinginkan Iblis dengan al-khuld adalah sesuatu yang tidak berakhir. Karena dalam bahasa Arab al-khuld adalah menempati sesuatu dalam jangka waktu lama. Misalnya ucapan orang-orang Arab, 'Ikatan mukhallad (yang kekal) dan tawanan mukhallad (abadi).' Allah SWT berfirman kepada kaum Tsamud,

"Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main dan kamu membuat benteng-benteng supaya kamu kekal di dunia?" (asy-Syu'araa: 128-129)

Demikian pula firman Allah SWT tentang kata-kata iblis, 'Dan kerajaan yang tidak binasa', yaitu kerajaan yang tetap langgeng.

Juga tidak ada alasan mentolerir ucapan iblis dengan terbuktinya kedustaan kata-katanya dan sumpah dustanya kepada Adam dan Hawa. Allah SWT telah memberitakan bahwa iblis bersumpah dan menipu keduanya. Ini menunjukkan bahwa mereka berdua tertipu oleh kata-kata dan janji iblis bahwa dia akan tinggal di tempat yang kekal dan kerajaan yang abadi. Maka berdasarkan hal di atas, dapat dikatakan bahwa argumentasi tentang surga yang ditempati Adam adalah surga yang abadi dan yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa adalah tidak jelas. Dan kami katakan juga, seandainya surga Adam itu adalah surga kekal yang kerajaannya tidak akan hancur, maka semua pepohonannya adalah pohon khuldi. Sehingga, tidak ada kekhususan bagi pohon khuldi dari pohon-pohon lain yang ada dalamnya. Adam pun akan mengolok iblis, karena dia sendiri mengetahui bahwa surga itu adalah yang abadi.

Jika kalian mengatakan bahwa mungkin saat itu Adam a.s. tidak mengetahui hal tersebut hingga iblis berhasil memperdaya dan menipunya bahwa pohon itu adalah satu-satunya pohon kekekalan, maka kami akan menjawab bahwa seandainya surga itu adalah surga dunia, maka Adam pasti mengetahui kebohongan iblis dalam hal ini, sebab perkataan iblis adalah tipu daya belaka. Maka, dengan segala kemungkinan yang ada, dalil kalian akan menjadi bantahan atas kalian sendiri. Wabillahi at-taufiq."

Mereka berkata kembali bahwa adapun ucapan kalian bahwa kisah Adam dalam surah al-Baqarah sangat jelas jika surga Adam itu berada di atas langit, maka sekarang kami meminta kalian menunjukkan hal ini, sedangkan kalian tidak ada cara untuk menetapkannya. Dan perkataan kalian bahwa Allah mengulang kata turun sebanyak dua kali, dan bahwa kata turun yang kedua maksudnya tidak sama dengan yang pertama {turun yang pertama adalah dari surga dan turun yang kedua adalah dari langit ke bumi), maka hal ini diperdebatkan kalangan ahli tafsir.

Satu golongan sependapat dengan apa yang kalian sebutkan, sedangkan kelompok lain, di antaranya adalah an-Nuqqasy, mengatakan bahwa turun yang kedua adalah dari surga ke langit dan yang pertama adalah dari langit ke bumi. Ini adalah peristiwa turun yang terakhir, meskipun ia disebutkan lebih awal. Dan kelompok yang lain mengatakan bahwa kata turun yang kedua merupakan penegasan atas yang pertama, seperti kalau Anda mengatakan kepada seseorang, "Keluar, keluar!" Akan tetapi pendapat-pendapat tadi adalah lemah, dan pendapat yang pertama sangat tampak kelemahannya dari beberapa aspek.

Pertama, pendapat tersebut adalah sekedar klaim tanpa landasan dalil, baik dalam lafalnya maupun riwayat yang dapat dijadikan dasar. Dan ayat-ayat Al-Qur'an tidak boleh diarahkan untuk mendukung pendapat ini.

Kedua, sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan iblis berdasarkan takdir-Nya tatkala enggan sujud kepada Adam a.s., sehingga iblis tidak bisa menghindar dari hal itu. Karena itu Allah SWT berfirman kepadanya,

"Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (al-A'raaf: 13)

"Keluarlah dari surga karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpa kamu sampai hari kiamat." (al-Hijr: 34-35)

"Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya." (al-A'raaf: 18)

Dalam ayat-ayat di atas tiada perbedaan apakah kata ganti ini kembali kepada sama' (langit) atau al-Jannah (surga). Ini jelas menunjukkan penurunan, pengusiran, laknat, dan penghinaan. Berdasarkan hal ini, seandainya surga itu berada di atas langit, maka iblis telah naik ke sana setelah ia dijatuhkan Allah SWT dari tempat itu. Meskipun hal ini bisa terjadi, tetapi ini sangat jauh dari hikmah Allah SWT, dan sama sekali tidak dimaksudkan oleh pemberitaan-Nya. Oleh karena itu, pendapat ini tidak patut diambil.

Sedangkan, empat hal yang kalian sebutkan tentang naiknya iblis ke surga untuk menyampaikan bisikannya kepada Adam, jika dihadapkan dengan perintah Allah SWT untuk turun, pengusiran-Nya, laknat-Nya dan penghinaan-Nya, maka semua yang kalian sebutkan sama sekali tidak berdasarkan dalil, baik dari lafal maupun dari riwayat yang bisa dijadikan pegangan. Jadi semua itu hanya perkiraan-perkiraan yang tidak berdalil sama sekali.

Ketiga, konteks kisah turunnya iblis atas perintah Allah SWT sangat jelas bahwa turunnya iblis adalah ke bumi, hal ini berdasarkan beberapa alasan,

a) Allah SWT menyebutkan hikmah diturunkannya iblis, yaitu karena ketakaburan yang mengharuskannya dinistakan, diusir, dan diperlakukan dengan cara yang bertentangan dengan keinginannya; dijatuhkan dari langit ke bumi. Hikmah Allah SWT tidak menghendaki iblis tetap berada di atas langit dalam keadaan sombong dan dengan sifat yang bertentangan dengan para malaikat.

b) Firman Allah SWT,

"Maka keluarlah dari surga. Sesungguhnya kamu itu terkutuk dan laknat-Ku kepadamu sampai hari kiamat." (Shaad: 77-78)

Maka, keberadaan iblis yang terlaknat dan terkutuk menafikan ia tetap di langit, di antara makhluk-makhluk suci yang dekat dengan Allah SWT.

c). Allah berfirman,

"Keluarlah dari surga dalam keadaan hina lagi terusir." (al-A'raaf: 18)

Sedangkan, alam langit tidak bisa dicapai oleh yang tercela dan terhina.

Pendapat kedua adalah sama dengan pendapat yang pertama, hanya saja ia memiliki tambahan yang kontek kalimatnya sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut. Yaitu, mendahulukan sesuatu yang kejadiannya terakhir dan mengakhirkan sesuatu yang terjadi lebih dahulu. Karena itu, pendapat ini dibantah dengan jawaban yang sama untuk pendapat terdahulu..

Sedangkan pendapat yang ketiga, yaitu bahwa pengulangan ini hanya untuk penegasan, apabila yang dimaksudkan hanyalah penegasan leksikal, maka hal seperti ini tidak terjadi dalam Al-Qur'an. Dan jika yang diinginkan adalah untuk menambah ketegasan dan pemantapan dengan berbagai faedah yang terkandung di dalamnya, maka itu bisa dibenarkan.

Adapun interpretasi yang benar bagi pengulangan tersebut adalah karena penurunan yang kedua dihubungkan dengan sesuatu di luar penurunan yang pertama. Ihbaath yang pertama adalah dikaitkan dengan ketetapan bahwa sebagian dari mereka saling bermusuhan dengan sebagian yang lainnya. Sebab itu Allah berfirman,

"Turunlah kamul Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain." (al-Baqarah: 36)

Kalimat dalam ayat di atas menjelaskan kondisi (al-hal) dari suatu hal. Dan menurut sebagian besar ulama, kalimat ini adalah kalimat ismiyyah (bentuk kalimat yang tersusun dari subyek dan predikat) karena ada kata ganti (dhamiir). Maka, makna ayat tersebut adalah 'Turunlah kalian dalam keadaan bermusuh-musuhan!' Sedangkan penurunan yang kedua, dikaitkan dengan dua ketetapan, yang pertama bahwa mereka semua harus turun, dan yang kedua adalah firman Allah SWT,

"Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati." (al-Baqarah: 38)

Seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Turunlah kalian dengan syarat ini, dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas syarat tersebut, meskipun datang kepada kalian petunjuk dari-Ku. Maka barangsiapa di antara kalian yang mengikut petunjuk-Ku, mereka tidak akan ketakutan dan merasa sedih."

Jadi penurunan pertama merupakan pemberitahuan tentang sanksi dan akibat dari kejahatan yang mereka lakukan. Sedangkan, penurunan kedua adalah menyampaikan berita baik dan menghibur dengan akibat baik dari penurunan ini bagi orang yang mengikuti petunjuk Allah SWT, dan mereka akan menuju kepada keselamatan dan kegembiraan, yang merupakan lawan dari ketakutan dan kesedihan. Maka, pertama Allah SWT membuat mereka sedih dengan penurunan pertama, dan Dia menghibur orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya dengan peristiwa turun yang kedua, sebagaimana kebiasaan dan kelembutan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebagaimana Dia telah membuat Adam a.s. bersedih dengan mengeluarkannya dari surga, kemudian menghiburnya dengan kata-kata yang disampaikan kepada Adam a.s., lalu Dia mengampuninya dan memberinya hidayah.

Barangsiapa merenungkan kelembutan dan kebaikan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang taat, serta hikmah-Nya dalam menimpakan kesusahan kepada mereka, lalu menghilangkan kesusahan itu; dan merenungkan bagaimana Dia menyusahkan mereka dengan berbagai bencana dan ujian, lalu menyembuhkannya dengan kesehatan dan kenikmatan, maka akan terbuka baginya pintu-pintu pengetahuan dan kecintaan kepada Allah SWT. Dia akan mengetahui bahwa Allah SWT lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dan, ia pun tahu bahwa kesusahan itu sendiri tidak lain adalah bentuk dari kasih sayang dan kebaikan Tuhannya, karena Allahlah yang paling tahu tentang kemaslahatan hamba-Nya.

Akan tetapi, karena kelemahan ilmu dan pengetahuan hamba terhadap Asmaa'ul-Husna dan sifat-sifat-Nya, maka mereka hampir tidak mengetahui hal ini. Keridhaan, kedekatan, kebahagiaan, dan kegembiraan karena berada di sisi yang dicintai tidak akan diperoleh kecuali dengan merendahkan dan menunjukkan kelemahan diri. Hanya dengan ini semua cinta dapat tumbuh dan kokoh, dan tidak ada jalan untuk sampai kepada yang tercinta kecuali dengan itu. Hal ini sebagaimana dikatakan seorang penyair,

"Merendahlah di sisi orang yang engkau cintai, agar engkau dekat dengannya Betapa banyak kemuliaan yang diperoleh seseorang karena merendahkan diri Jika yang kau cintai sangat mulia, dan engkau tidak merendahkan diri kepadanya Maka ucapkanlah selamat tinggal kepada hubunganmu dengannya."

Ada juga yang berkata,

"Tundukkan dan rendahkan dirimu kepada orang yang engkau cinta

karena dalam aturan cinta tiada kata rujuk yang dapat dilepas dan diikat

kembali."

Yang lain berkata,

"Tidak akan berbahagia orang yang mulia karena suatu hubungan karena kemuliaan itu tidak lain dari kerendahan dan kehinaannya."

Orang-orang yang mengatakan bahwa surga Adam a.s. bukan surga abadi berkata, "Jika diketahui bahwa iblis diusir dari surga setelah dia menolak dan enggan sujud kepada Adam a.s., maka pastilah bisikannya kepada Adam dan istrinya bukan di tempat asal dia diturunkan. Wa Allah wa'alam."

Orang-orang tersebut juga mengatakan, "Adapun pendapat kalian bahwa lafal jannah didefinitifkan dengan huruf alif dan laam, serta pengertiannya hanya mengarah kepada surga yang dikenal anak cucu Adam, maka hal itu memang tidak disangsikan. Akan tetapi, alif dan laam tersebut juga ada dalam firman Allah SWT kepada Adam a.s. agar ia menempati surga,

'Tinggallah kamu bersama istrimu di surga (al-Baqarah: 35)

Jadi surga itu adalah yang ditempati oleh Adam a.s.. Kemudian ketika Allah SWT memberitahu kita tentang surga tersebut, Dia menyebutnya secara definitif. Maka, kata al-jannah (surga itu) yang disebut secara definitif tersebut jelas mengarah kepada surga yang dibayangkan oleh otak manusia, yaitu surga yang telah ditempati Adam a.s.. Maka dalam hal ini, dari mana kita mengetahui hal yang menunjukkan ada atau tidaknya tempat dan posisi surga itu? Sedangkan, lafal al-jannah (surga) yang disebutkan dalam bentuk definitif adalah surga yang diberitakan para rasul kepada umat-umat mereka dan yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya secara gaib. Apabila kata surga ini disebutkan, maka otak manusia hanya akan membayangkan surga yang dijanjikan Tuhan tersebut. Dan, hal ini sudah mengakar dalam hati serta pikiran manusia. Dalam Al-Qur'an juga disebutkan kata jannah yang berarti sebuah kebun di muka bumi. Misalnya firman Allah,

'Sesunguhnya Kami telah mencobai mereka sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh memetik hasilnya di pagi hari.' (al-Qalam: 17)

Ayat di atas tidak mengarahkan pikiran kepada surga abadi, dan tidak pula kepada surga Adam a.s.."

Mereka juga berkata, "Pernyataan kalian bahwa Ahlussunnah wal-Jama'ah sepakat jika surga dan neraka itu sudah diciptakan, dan yang membantah itu adalah orang-orang yang berbuat bid'ah serta kesesatan, juga bahwa surga saat ini sudah ada, semua ini adalah benar. Kami tidak menentang kalian dalam hal ini, bahkan kami mempunyai dalil yang lebih banyak dari apa yang kalian sebutkan. Akan tetapi, apa hubungannya antara kenyataan surga abadi itu telah diciptakan dengan pernyataan bahwa surga itu adalah surga Adam a.s.? Seakan-akan kalian menganggap bahwa setiap orang yang mengatakan surga Adam a.s. itu ada di atas bumi, maka mereka juga berpendapat bahwa surga dan neraka belum diciptakan. Ini adalah sebuah kesalahan yang disebabkan anggapan bahwa setiap orang yang mengatakan surga itu belum diciptakan, maka mereka juga berpendapat bahwa surga Adam berada di atas bumi. Demikian pula sebaliknya, bahwa setiap orang yang mengatakan bahwa surga Adam itu di bumi, maka mereka juga mengatakan bahwa surga itu belum diciptakan.

Masalah pertama bahwa surga dan neraka telah diciptakan tidak diragukan lagi kebenarannya. Tapi masalah kedua adalah anggapan belaka, yang antara keduanya tidak ada hubungan sama sekali, baik menurut mazhab kami maupun menurut dalil yang ada. Kalian menggunakan dalil kalian untuk suatu kelompok yang kita sama-sama sepakat menolak dan membantahnya. Akan tetapi, dengan hal itu tidak musti pendapat bahwa surga Adam bukan surga abadi adalah salah, dan ini jelas.

Adapun pendapat kalian bahwa semua yang ditiadakan Allah SWT dari surga (seperti kesia-siaan, penderitaan dan segala cela yang sebagian berasal dari iblis), hanya akan terwujud kelak sesudah kiamat. Yaitu, di saat orang-orang mukmin memasukinya sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks kalimatnya. Maka bantahan atas pernyataan ini ada dua.

(1). Berita tersebut secara implisit mengarah kepada penafian semua cela secara mutlak, sesuai dengan firman Allah SWT,

"Tidak menimbulkan kata-kata yang tidak berfaedah dan tidak pula perbuatan dosa”(ath-Thuur: 23)

Dan firman Allah SWT,

"Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tak berguna." (al-Ghaasyiyah: 11)

Ini adalah peniadaan secara mutlak yang hanya bisa dikecualikan dengan dalil yang jelas dari Allah SWT. Allah SWT telah menetapkan bahwa surga itu adalah surga kekekalan secara mutlak, sehingga ia tidak dimasuki kecuali oleh yang kekal. Sebab itu, pengkhususan yang kalian buat bahwa surga yang kekal itu adalah surga yang ada sesudah kiamat, jelas menyalahi makna lahir ayat.

(2). Pendapat kalian bahwa surga yang kelak dimasuki mukmin adalah surga Adam a.s., bisa diyakini kebenarannya jika tidak ada dalil lain yang menentang dalil kalian. Sedangkan jika ada dalil lain yang menentang dan umat Islam tidak sepakat atas pendapat kalian, maka tidak dibenarkan keluar dari makna nash-nash yang sangat jelas. Wallahu a'lam."

Mereka juga berkata, "Adapun yang menunjukkan bahwa surga itu bukan surga abadi yang dijanjikan Allah SWT kepada orang-orang bertakwa adalah tatkala Allah SWT menciptakan Adam a.s. Dia memberitahukan kepadanya bahwa umurnya memiliki batas akhir dan dia tidak diciptakan untuk hidup kekal. Hal yang menunjang pendapat ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam bukunya al-Jami'. Dia mengatakan bahwa Muhammad bin Basyar meriwayatkan dari Shafwan bin Isa, dari al-Harits bin Abdurrahman bin Abu Ziyad, dari Sa'id bin Sa'id al-Maqburi dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,

" Tatkala Allah SWT menciptakan Adam dan meniupkan ruh ke dalamnya, Adam bersin. Lalu dia berkata, 'Albamdulillah ya Rab.'Allah SWT berkata kepadanya, 'Yarhamukallah ya Adam!' Lalu berfirman, 'Pergilah kepada sekelompok malaikat yang sedang duduk itu dan katakan kepada mereka, 'Assalaamu 'alaikum.' Lalu mereka menjawab, 'Wa 'alakas-salaam.' Kemudian dia kembali kepada Tuhannya, lalu Tuhannya berkata, 'Sesungguhnya itulah salammu dan salam anak-anakmu.

Allah SWT berfirman kepadanya dan Tangan-Nya tergenggam, 'Pilihlah salah satu yang engkau inginkan!' Dia menjawab, 'Saya memilih Tangan Kanan Tuhanku dan kedua Tangan Tuhanku adalah Tangan Kanan yangpenuh berkah.' Kemudian Allah SWT membentangkannya dan terlihatlah di dalamnya Adam dan anak cucunya. Adam berkata, 'Ya Tuhan, siapa mereka itu?' Allah SWT menjawab, 'Mereka itu adalah anak keturunanmu.' Maka setiap orang sudah ditentukan umurnya di depan kedua matanya.

Tiba-tiba muncul di Tangan-Nya terlihat orang yang paling bercahaya. Lalu Adam bertanya, 'Ya Tuhan, siapakah ini?' Allah SWT menjawab, 'Ini anakmu Daud dan telah Aku tetapkan umurnya empat puluh tahun.' Adam berkata, 'Tambahkan umurnya ya Tuhan!' Allah menjawab, 'Itulah yang telah Aku tetapkan untuknya.' Adam lalu berkata, 'Ya Tuhan aku serahkan enam puluh tahun dari umurku untuknya.' Allah SWT berfirman, 'Terserah kamu.” Kemudian Adam menempati surga sesuai kehendak Allah SWT, kemudian ia diturunkan dan surga itu. Adam pernah menghitung umurnya dan ketika itu Malakul-Maut mendatanginya. Lalu Adam berkata kepadanya, 'Engkau mempercepatnya! Bukankah telah ditetapkan untukku seribu tahun?' Malaikat itu menjawab, 'Ya, tapi engkau telah memberikan enam puluh tahun kepada anakmu, Daud.' Maka Adam mengingkarinya dan anak cucunya pun mengingkarinya. Adam lupa maka anak cucunya pun lupa. Sejak had itu penulisan dan saksi diperintahkan."

Hadits ini jelas sekali menunjukkan bahwa Adam a.s. tidak diciptakan dalam tempat yang kekal, di mana orang yang memasukinya tak akan mati. Akan tetapi, dia diciptakan di tempat yang fana, yang dijadikan batas akhir baginya dan bagi penghuninya, dan di sanalah Adam tinggal. Jika Adam sudah mengetahui bahwa dia memiliki batas umur dan tidak kekal, maka bagaimana dia tidak mendustakan iblis, padahal dia tahu kesalahan iblis ketika berkata,

"Apakah engkau mau aku tunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak binasa ?" (Thaahaa: 120)

Mengapa Adam justru mempercayai kata-kata iblis tersebut dan memakan pohon itu karena ingin hidup kekal? Maka jawabannya ada dua, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Boleh jadi yang dimaksud oleh iblis dengan kekekalan adalah menetap dalam kurun waktu yang lama, bukan untuk selamanya. Atau ketika iblis bersumpah kepadanya dan kepada istrinya, dia lupa bahwa dia mempunyai batas umur, sehingga dia tergoda dan tertipu dengan kekekalan di dalam surga. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi dasar bagi hal ini adalah firman Allah SWT,

"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi." ( al-Baqarah: 30)

Khalifah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Adam a.s., sebagaimana disepakati semua orang. Dan tatkala para malaikat merasa heran dengan penciptaan itu, mereka berkata,

- "Mengapa Engkau hendak menjadikan seorang khalifah di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau." (al-Baqarah: 30)

Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat bahwa khalifah yang akan Dia ciptakan di bumi tidak seperti yang mereka kira, yaitu suka berbuat kerusakan. Bahkan, Allah memberitahu mereka bahwa Adam a.s. memiliki pengetahuan yang tidak mereka miliki. Lalu Allah SWT mengajarkan kepada Adam semua nama-nama. Kemudian mengajukan pertanyaan kepada para malaikat tentang nama-nama tersebut dan mereka tidak. mengetahuinya.

Dan firman Allah,

"Mereka berkata, 'Maha Suci Engkau ya Allah. Kami tidak mengetahui kecuali apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.'" (al-Baqarah: 32)

Ini menunjukkan bahwa khalifah yang telah Allah SWT beritahukan kepada para malaikat dan telah Allah SWT perlihatkan keutamaan serta kemuliaannya kepada mereka, dan Allah telah mengajarkan kepadanya apa yang tidak para malaikat ketahui adalah khalifah yang diciptakan di atas bumi, bukan di atas langit.

Jika dikatakan bahwa firman Allah,

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al-Baqarah: 30)

Berarti bahwa Aku akan membuatnya tinggal di bumi karena itulah tempat tinggalnya dan tempat yang dia tuju. Maka, ini tidak menafikan keberadaan Adam dalam surga kekekalan di atas langit pada awal penciptaan. Kemudian dia berjalan menuju bumi untuk menjadi pemegang kekhilafahan. Dan isim fa'il (yang menunjukkan pelaku) dalam kata jaa 'Hun pada ayat ini memiliki makna masa mendatang. Karena itu, obyeknya di-nashab-kan (berharkat fathah).

Maka jawaban atas hal ini adalah, "Sesungguhnya Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat-Nya bahwa Dia menciptakan Adam untuk menjadi khalifah bumi, bukan untuk menempati surga yang abadi, dan perkataan Allah SWT adalah benar. Malaikat juga tahu bahwa itu adalah Adam. Seandainya Adam ditempatkan dalam surga abadi yang ada di atas langit, maka malaikat tidak akan bertanya, dan tidak ada pemberitahuan dari Allah SWT. Mereka juga tidak membutuhkan penjelasan tentang keutamaan, kemuliaan, dan pengetahuan Adam, sebagaimana terkandung dalam jawaban Allah SWT atas pertanyaan mereka,

'Apakah Engkau akan menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (al-Baqarah: 30)

Sesungguhnya para malaikat mengajukan pertanyaan ini adalah untuk khalifah yang dijadikan di bumi. Sedangkan, tentang orang yang berada di surga kekekalan di atas langit, maka tidak akan terbayang oleh malaikat bahwa mereka berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi. Juga tidak perlu adanya informasi tentang keutamaan, kemuliaan, dan pengetahuan Adam yang berada di atas langit, sebagai bantahan dan jawaban atas pertanyaan mereka. Tapi yang terjadi Allah SWT menjawab pertanyaan mereka dan menampakkan apa yang bertentangan dengan anggapan mereka, yaitu keutamaan dan kemuliaan Adam dalam kapasitasnya sebagai khalifah di bumi. Malaikat menyangka bahwa Adam hanya akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah. Dan, hal ini sangat jelas bagi orang yang merenungkannya. Adapun isimfa'ilja'ilun, meskipun ia menunjukkan hal mendatang, namun ini adalah informasi tentang apa yang akan dilakukan Tuhan di masa mendatang yaitu menciptakan khalifah di bumi, Allah SWT telah memenuhi janji-Nya dan telah terjadi apa yang Dia beritakan. Ini jelas bahwa dari pertama Allah SWT menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Sedangkan, penafsiran lain bahwa pada awalnya Allah SWT menempatkan Adam di langit kemudian menjadikannya khalifah di bumi. Meskipun ini tidak menafikan pengangkatan sebagai khalifah itu, tetapi lafal ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan hal itu, Bahkan, yang tersurat dari ayat tersebut bertentangan dengan hal itu. Oleh karena itu, penafsiran ini tidak dapat dibenarkan, kecuali ada dalil yang mengharuskan kita kembali kepada penafsiran tersebut. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa yang tidak ditentang oleh seorang muslim pun adalah bahwa Allah SWT menciptakan Adam dari tanah, dan tidak diragukan lagi bahwa tanah tersebut adalah tanah bumi ini. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab al-Jami' dari hadits Auf dari Qasamah bin Zuhair, dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda,

''Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari semua unsur bumi. Maka, lahirlah Adam sesuai dengan sifat bumi. Karena itu ada yang merah, putih, hitam, dan warna lain di antara warna-warna itu.' (HR Tirmidzi)

Ada juga yang lembut, keras, jahat dan baik."

Imam Tirmidzi berkata bahwa hadits ini adalah hadits hasan shahih. Imam Ahmad meriwayatkan hadits di atas dalam kitab al-Musnad dari berbagai jalur.

Allah juga telah memberitakan bahwa Adam diciptakan dari sari tanah (sulaalah) yang berasal dari tanah liat (thiin). Dia juga mengabarkan bahwa Adam diciptakan dari tanah keras (shalshaal) yang berasal dari lumpur hitam Qiamaa" masnun). Dikatakan bahwa shalshaal adalah tanah kering sebelum dimasak, yang jika dipukul mengeluarkan suara, dan setelah dimasak ia berubah menjadi fakhkhaar (tembikar). Dikatakan juga bahwa shalshaal adalah benda yang mengalami perubahan bau, yaitu dari bahasa Arab shalla, jika bau sesuatu berubah busuk. Dan al-hamaa" adalah tanah hitam yang berubah-rubah bentuk, dan al-masnuun adalah yang dituangkan, dari kata 'sanantu al-ma' artinya saya menuangkan air. Dan, dikatakan juga bahwa al-masnun berasal dari kata 'sanantu al-hajara 'alal-ardhi' artinya aku menggosokkan batu itu dengan tanah. Jika ada sesuatu yang keluar dari batu itu, maka yang itu disebut sanin dan zat yang keluar itu pasti berbau busuk.

Semuanya ini merupakan fase-fase tanah sebagai pembentukan awal manusia, sebagaimana Allah SWT menggambarkan tentang penciptaan keturunan Adam dari setetes air, segumpal darah dan segumpal daging. Dan ini adalah keadaan setetes air mani yang merupakan bahan dasar keturunan manusia. Allah tidak menyebutkan bahwa Dia mengangkat Adam dari bumi ke langit, baik sebelum maupun sesudah penciptaannya. Allah hanya menginformasikan tentang perintah-Nya kepada para malaikat untuk sujud kepada Adam, tentang keberadaan Adam di dalam surga serta peristiwa yang terjadi antara dia dan Iblis sesudah diciptakan. Maka, Allah memberitakan tiga hal dalam satu susunan yang saling terkait antara satu sama lainnya. Lalu di manakah dalil yang menunjukkan bahwa bahan penciptaan Adam dinaikan ke surga setelah diciptakan? Dalam hal ini kalian sama sekali tidak memiliki dalil, juga tidak ada kesimpulan dari firman Allah SWT yang dapat mendukung pendapat kalian.

Mereka mengatakan, "Sebagaimana diketahui bahwa apa yang ada di atas langit bukan tempat untuk tanah liat bumi yang berubah dan baunya menjadi busuk karena perubahan itu. Tempat materi seperti itu adalah bumi ini, yang merupakan tempat perubahan dan kerusakan. Sedangkan benda yang berada di atas langit tidak mengalami perubahan, berbau busuk, dan rusak. Dan, ini adalah hal yang tidak diragukan oleh orang-orang yang berakal."

Allah berfirman,

"Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya." (Huud: 108)

Dalam ayat di atas Allah memberitakan bahwa pemberian yang ada di dalam surga kekekalan tidak akan terputus. Sedangkan, apa yang Dia berikan kepada Adam a.s. telah terputus, maka surga Adam itu bukalah surga kekekalan.

Tidak diperdebatkan lagi bahwa Allah SWT menciptakan Adam di bumi. Dalam kisah penciptaan Adam, Allah SWT tidak menyebutkan bahwa Dia memindahkannya ke langit. Seandainya Allah SWT memindahkanya ke langit, maka hal itu lebih perlu untuk disebutkan. Karena, itu merupakan kenikmatan yang sangat agung, serta sebab keutamaan dan kemuliaannya yang sangat besar. Di samping itu, hal tersebut lebih mengena dalam menjelaskan tanda-tanda kekuasaan, rububiyyah, dan hikmah-Nya. Juga lebih tepat dalam menjelaskan akibat dari kemaksiatan, yaitu diturunkan dari langit, tempat tujuan dia diangkat sebelumnya, sebagaimana yang disebutkan Allah SWT mengenai iblis. Karena tidak satu huruf pun dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang menjelaskan bahwa dia dipindahkan dan diangkat ke langit setelah diciptakan di bumi, maka diketahui bahwa surga yang dia tempati bukan surga kekekalan yang berada di atas langit.

Mereka juga mengatakan, "Allah SWT telah memberitakan dalam Kitab-Nya bahwa Dia tidak menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sia-sia dan main-main, Dia juga membantah orang yang memiliki prasangka seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa anggapan tersebut bertentangan dengan hikmah-Nya. Seandainya surga Adam adalah surga kekekalan, maka manusia tentu telah diciptakan di tempat di mana mereka tidak diperintah dan dilarang. Dan hal ini adalah batil, sebagaimana firman Allah SWT,

'Apakah manusia mengira bahwa dia dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban).' (al-Qiyaamah: 36)

Imam Syafi'i dan ulama lain mengatakan, 'Secara sia-sia artinya tidak diperintah dan tidak dilarang.'

Allah SWT berfirman,

'Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja. (Al-Mukminun:115)

Jadi Allah SWT tidak menciptakan mereka secara main-main dan tidak membiarkan mereka tanpa tanggung jawab, padahal di dalam surga kekekalan tidak ada beban pertanggungjawaban."

Mereka mengatakan, "Allah menciptakan surga kekekalan sebagai pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya,

'Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.' (al-'Ankabuut: 58)

Dan surga adalah balasan bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT,

'Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa.' (an-Nahl: 30)

la juga tempat menerima pahala sesuai firman Allah,

'Sebagai pahala di sisi Allah (Al-'lmran:195)

Jadi tidak ada yang akan menempati surga kekekalan itu kecuali orang-orang beramal saleh dan orang-orang bertakwa, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka serta para bidadari. Secara umum dikatakan bahwa hikmah Allah menghendaki bahwa surga tidak akan diperoleh kecuali setelah melalui cobaan, ujian, kesabaran, perjuangan, dan berbagai ketaatan. Apabila ini adalah tuntutan hikmah Allah SWT, maka Allah tidak akan melakukan sesuatu kecuali apa yang sejalan dengan hikmah-Nya.

Allah menciptakan Adam di surga, dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Iblis menggodanya di tempat mana dia ditempatkan setelah iblis diturunkan dari langit. Allah SWT memberitahu para malaikat bahwa Dia akan menjadikan seorang khalifah di bumi. Didalam surga tidak ada ucapan sia-sia dan tidak ada dosa. Orang yang memasukinya selamanya tidak akan keluar dari sana. Orang yang memasukinya akan merasa bahagia dan tidak sengsara. la juga tidak akan merasa takut dan sedih. Allah mengharamkannya atas orang-orang kafir dan musuh Allah. Surga itu adalah tempat menerima nikmat, bukan tempat cobaan, ujian dan hal-hal yang bertentangan dengan sifat surga yang abadi yang berbeda dengan surga yang ditempati Adam. Jika semua pemberitaan Allah SWT dikumpulkan dan dianalisa secara sadar serta objektif, tanpa ada kecenderungan untuk membela pendapat tertentu, maka kebenaran akan nampak. Wallaahul-musta'an."

Adapun orang-orang yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. adalah surga kekalan, maka mereka mengatakan, "Menurut salaful-ummah dan para ulamanya, serta menurut Ahlussunnah wal-Jama'ah, surga tersebut adalah surga kekekalan. Sedangkan, orang yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah surga di dunia yang berada di India atau Jeddah atau selainnya, merupakan pendapat para filsuf, orang ateis dan Mu'tazilah atau para ulama kalam yang membuat-buat bid'ah. Pendapat tersebut dikatakan oleh para filsuf dan ulama Mu'tazilah, sedangkan Al-Qur" an membantah pendapat ini. Salaful-ummah dan para ulamanya menyepakati kesalahan pendapat ini." Allah berfirman,

"Dan ingatlah tatkala Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia enggan dan takabur. Dia itu adalah termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman, 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.' Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman/Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (al-Baqarah: 34-36)

Allah SWT telah memberitahukan bahwa Dia memerintahkan Adam, Hawa dan iblis untuk turun ke bumi, dan bahwa mereka akan hidup bermusuh-musuhan. Kemudian Allah berfirman, "Dan bagi kalian di bumi tempat kediaman dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Ini jelas bahwa sebelumnya mereka tidak berada di bumi, tetapi mereka diturunkan ke bumi. Karena itu seandainya mereka berada di bumi, lalu berpindah dari bumi itu ke bumi yang lain yang menjadi kediaman mereka hingga waktu tertentu, seperti kaum Nabi Musa a.s., maka ini adalah pendapat yang tidak benar.

Allah SWT-menceritakan tentang ucapan iblis,

"Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.' Allah berfirman, 'Turunlah kamu dari surga itu karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (al-A'raaf: 12-13)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan kekhususan surga yang ada di langit, yang berbeda dengan surga yang ada di bumi, dikarenakan iblis tidak dilarang takabur dalam surga dunia. Dan kata ganti dalam firman Allah SWT 'darinya', merujuk kepada surga yang sudah ketahui oleh semua orang, meskipun lafalnya tidak disebutkan, karena hal itu sudah dimaklumi bersama.

Ini berbeda dengan firman Allah SWT,

"Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta." (al-Baqarah: 12-13)

Di sini Allah SWT tidak menyebutkan tempat asal dari mana mereka turun (pergi). Dia hanya menyebutkan arah tujuan kepergian mereka. Ini berbeda dengan peristiwa turunnya iblis, di mana Allah SWT menyebutkan tempat asal turunnya, yaitu surga. Allah juga menyebutkan bahwa turunnya itu adalah dari atas ke bawah. Sedangkan, Bani Israel kala itu berada di atas bukit al-Surrat al-Musyarrafah di daerah Mesir yang merupakan tujuan kepergian mereka. Orang yang turun dari gunung ke lembah, dikatakan kepadanya, "Turunlah!" Jadi Bani Israel dulu datang dan pergi dari bukit tersebut.

Orang yang berjalan dan bepergian jika mendatangi suatu negeri dikatakan 'nazalafiha' (turun di sana), karena biasanya orang itu berkendaraan dalam perjalanan. Jika dia sampai di sana, maka dia turun dari tunggangannya. Dikatakan 'nazala al-'aduwwu bi ardhin kadza' (musuh itu turun ke negeri itu) dan 'nazala al-qaflu' (kafilah itu turun). Lafal nuzuul sama dengan lafal hubuuth. Karena itu, keduanya tidak pernah dipakai kecuali jika arahnya dari atas ke bawah. Allah SWT berfirman,

"Turunlah, sebagian dari kamu adalah musuh atas sebagian yang lain. Di bumi itu tempat kediaman kamu dan kesenangan sampai waktu tertentu."

Lalu Allah berfirman,

"Di dalamnya kamu hidup, mati dan darinya kamu keluar." (al-A'raaf: 25)

Ini merupakan dalil bahwa mereka sebelumnya tidak berada pada suatu tempat, di mana mereka hidup, mati, dan keluar. Dalam Al-Qur'an sangat jelas disebutkan bahwa mereka berada di tempat tersebut (bumi) setelah diturunkan.

Seandainya dalam masalah ini hanya ada kisah Adam a.s. dan Musa a.s., maka itu sudah cukup menjadi bukti pendapat kami. Dalam kisah tersebut Musa a.s. mengecam Adam a.s. karena kesusahan dan kesulitan yang menimpa keturunannya karena ia dikeluarkan dari surga. Seandainya surga Adam a.s. tersebut adalah sebuah taman di bumi, pasti Allah SWT akan menggantikannya dengan taman lain yang juga ada di bumi. Padahal tidak pantas bagi Musa a.s. jika ia mencela Adam a.s. hanya karena dia dan keturunannya di keluarkan dari sebuah taman di bumi.

Demikian juga ucapan Adam a.s. pada hari kiamat di saat manusia memintanya agar dia memohon Tuhan untuk membukakan pintu surga. Kala itu Adam a.s. berkata, "Bukankah kalian dikeluarkan darinya karena satu kesalahan bapak kalian ini?" Ini jelas bahwa surga itu adalah surga kekekalan. Adam merasa tidak layak memohon kepada Allah membukakan pintu surga itu kepada mereka. Karena dialah penyebab mereka dikeluarkan dari surga itu. Maka, ini merupakan dalil yang sangat jelas.

Orang-orang yang berpendapat bahwa surga Adam a.s. adalah di bumi mengatakan, "Adapun ucapan kalian bahwa orang yang mengatakan surga Adam itu ada di bumi adalah dari kalangan filsuf, ateis dan Mu'tazilah atau dari rekan-rekan mereka, maka kami mendapati orang-orang yang berkata demikian yang bukan dari golongan tersebut. Kesamaan pendapat pengikut pemikiran yang batil dengan pendapat orang mengikuti kebenaran, tidak menunjukkan kebatilan pendapat tersebut. Dan, dinisbatkannya suatu pendapat kepada orang-orang yang mengikuti kebatilan, tidak mengharuskan kesalahan pendapat itu, selama bukan hanya pendapat mereka. Jika yang kalian maksudkan adalah bahwa yang berpendapat seperti itu hanyalah mereka, maka itu keliru. Dan, jika yang kalian maksudkan adalah bahwa mereka itu termasuk orang yang berpendapat demikian, maka hal tersebut sama sekali tidak berguna bagi kalian.

Adapun perkataan kalian bahwa salaful-ummah sepakat atas kesalahan pendapat ini, maka kami meminta kalian untuk menunjukkan riwayat yang shahih dari salah seorang sahabat dan orang-orang setelah mereka tentang hal ini. Lebih bagus lagi jika menyebutkan tentang kesepakatan mereka. Dari kalangan sahabat, tabi'i dan tabi'it-tabi'in tidak didapatkan satu riwayat yang benar, baik yang jalan periwayatannya bersambung, syaadz (hadits yang diriwayatkan orang yang terpercaya namun bertentangan dengan riwayat orang yang lebih terpercaya), maupun yang masyhur(hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari tiga orang dalam setiap tingkat periwayatannya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda bahwa Allah SWT menempatkan Adam dalam surga kekekalan, yang menjadi tempat orang-orang bertakwa pada hari kiamat kelak."

Al-Qhadhi Mundzir bin Sa'id meriwayatkan dari beberapa kalangan salaful-ummah bahwa surga Adam a.s. itu bukan surga kekekalan. Lalu al-Qadhi Mundzir bin Sa'id berkata, "Kami katakan kepada kalian bahwa Abu Hanifah, faqih Irak, dan orang-orang yang sependapat dengannya pernah berkata bahwa surga Adam bukan surga kekekalan, dan mereka bukanlah orang-orang yang orang cacat reputasinya, bahkan mereka adalah para ulama yang ilmu-ilmunya memenuhi buku-buku." Kami juga telah menyebutkan pendapat Ibnu Uyainah tentang masalah ini. Ibnu Mazin dalam dalam tafsirnya mengatakan, "Saya pernah bertanya kepada Ibnu Nafi' tentang surga, apakah ia telah diciptakan? Ibnu Nafi' menjawab, 'Diam dalam hal ini adalah lebih baik.' Maka seandainya Ibnu Nafi' berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam adalah surga kekekalan, maka dia tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa surga telah diciptakan, ia juga tidak akan menahan diri untuk berpendapat dalam masalah ini."

Ibnu Qutaibah berkata dalam kitabnya Gharibul-Qur'an ketika berbicara tentang firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 38, "Dan Kami berfirman, 'Turunlah keduanya dari (surga itu!)' bahwa dalam riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas r.a. ia mengatakan bahwa arti ayat ini sebagaimana dikatakan habatha fulaan ardha kadza wa kadza (Si Fulan pindah dari daerah ini ke daerah ini)." Ibnu Qutaibah dalam kitabnya hanya menyebutkan pendapat ini. Maka manakah ijma' salaful-ummah tentang surga Adam a.s. itu? Adapun argumentasi kalian yang berdasarkan firman Allah SWT,

"Dan bagi kalian di bumi itu tempat kediaman." (al-A'raaf: 24)

Setelah firman-Nya "Turun!", maka ini tidak menunjukkan bahwa mereka sebelumnya tinggal di surga kekekalan, karena ada salah satu pendapat dalam permasalahan ini yang mengatakan bahwa surga tersebut ada di langit, bukan surga kekekalan. Ini sebagaimana disebutkan oleh al-Mawardi dalam tafsirnya yang telah kami paparkan sebelumnya. Dan firman Allah SWT, "Dan bagi kalian di bumi tempat kediaman," menunjukkan bahwa telah disediakan bagi mereka sampai pada waktu tertentu suatu kediaman di bumi yang terpisah dari surga, dan ini sudah pasti, karena surga juga memiliki bumi. Allah SWT berfirman tentang penduduk surga,

"Dan mereka mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi kepada kami tempat ini sedang kami diperkenankan menempati tempat di dalam surga di mana saja yang kami kehendaki. Maka, surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang beramal/" (az-Zumar: 74)

Ini menunjukkan bahwa maksud dari firman-Nya, "Dan bagi kalian di bumi ini tempat kediaman," adalah bumi yang kosong dari surga tersebut, bukannya segala sesuatu yang dinamakan bumi. Tempat kediaman mereka yang pertama adalah bumi sebuah surga. Kemudian mereka di pindah di bumi tempat cobaan dan ujian. Lalu pada hari pembalasan orang-orang mukmin juga akan berada di bumi surga. Maka ayat ini tidak menunjukkan bahwa surga Adam a.s. adalah surga kekekalan. Dan ini adalah jawaban atas argumentasi kalian yang berdasarkan firman Allah SWT,

"Allah berfirman, 'Di dalamnya kalian hidup, di dalamnya kalian mati dan dari situ kalian keluar.'" (al-A'raaf: 25)

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah bumi ke mana mereka diturunkan, dan dijadikan kediaman bagi mereka sebagai ganti surga itu. Ayat ini adalah penafsiran kata al-mustaqar yang disebutkan dalam surah al-Baqarah dengan disertai penjelasan tentang dikeluarkannya Adam dan Hawa dari surga. Adapun firman Allah SWT kepada iblis,

"Turun dari surga. Kamu tidak layak takabbur di dalamnya." (al-A'raaf: 13)

Pendapat kalian bahwa yang dimaksud ayat ini adalah surga yang ada di langit. Karena jika bukan, tentu iblis tidak akan dilarang takabbur di dalamnya. Maka ini adalah dalil yang mendukung pendapat kami, Karena surga kekekalan tidak bisa dimasuki iblis dan ia tidak boleh berlaku takabbur di dalamnya.

Allah SWT telah memberitakan bahwa iblis membisikkan godaan, membohongi, menipu, mengkhianati, menyombongkan diri, dan dengki kepada Adam dan istrinya. Ketika iblis melakukan itu semua. Adam dan Hawa berada di dalam surga. Maka, ini menunjukkan bahwa surga ini bukanlah surga kekekalan, dan mustahil bagi iblis untuk naik lagi ke surga sesudah diturunkan dan dikeluarkan darinya. Kata ganti (nya) dalam firman Allah SWT, "Turunlah darinya!", bisa saja kembali kepada langit, sebagaimana yang ada dalam salah satu pendapat. Atas dasar ini, maka Allah SWT telah menurunkan iblis dari langit setelah ia tidak mau sujud. Allah SWT juga memberitakan bahwa dia tidak boleh takabbur di dalamnya. Namun, kemudian dia takabbur, berbohong, dan mengkhianat di dalam surga. Ini menunjukkan bahwa surga Adam itu tidak berada di atas langit. Atau kata ganti (nya) ini kembali kepada surga, berdasarkan satu pendapat lain. Dan dari pendapat ini, surga di mana Adam diperdaya, ditipu, dan disumpah palsu oleh iblis, tidak harus surga yang dia dari sana. Akan tetapi, Al-Qurvan menunjukkan bahwa surga itu adalah surga yang lain, sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Berdasarkan dua taksiran ini, maka surga tempat peristiwa antara Adam dan iblis bukanlah surga kekekalan. Adapun perkataan kalian bahwa Bani Israel dulu berada di pegunungan as-Surrah al-Musyarrafah, yang mana mereka pergi, berpindah dan berangkat darinya, sehingga dikatakan kepada mereka ihbithu! (turunlah kalian!), maka penjelasan ini benar adanya, dan kami tidak membantah kalian dalam hal ini. Bahkan, penjelasan ini sendiri merupakan jawaban kami. Karena sesungguhnya kata al-hubuuth menunjukkan bahwa surga itu berada di tempat yang lebih tinggi dari bumi tempat mereka diturunkan. Sedangkan jika yang kalian maksud adalah surga kekekalan, maka kami tidak setuju.

Perbedaan antara firman Allah SWT "ihbithuu mishran" dengan "ihbithuu minha" adalah bahwa kalimat pertama menunjukkan akhir dan tujuan perjalanan. Sedangkan kalimat kedua menunjukkan asal dan awal perjalanan yang tidak ada pengaruhnya terhadap kondisi kita sekarang. Karena jika seseorang turun dari suatu tempat ke tempat lain, itu mengandung makna perpindahan dari suatu tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Maka, tentunya tidak ada pengaruh bagi permulaan dan akhir tujuan dalam penentuan tempat turun, bahwa surga itu adalah surga kekekalan?

Kisah Musa a.s. dan kecamannya terhadap Adam karena dia dikeluarkan dari surga, itu tidak menunjukkan bahwa surga tersebut adalah surga kekekalan. Dan, pendapat kalian bahwa tidak terlintas dalam benak seseorang jika Musa a.s. mengecam Adam a.s. hanya karena dia membuat dirinya dan anak-cucunya keluar dari sebuah taman yang ada di bumi, adalah suatu pelecehan yang tidak berguna sama sekali. Apakah kalian mengira bahwa itu adalah sebuah taman yang sama dengan taman-taman yang berpetak-petak yang menjadi tempat kerusakan, kelelahan, kerja keras, kehausan, pengolahan tanah, penyiraman, perkawinan tanaman, dan segala bentuk kerja yang berhubungan dengan pengolahan taman-taman ini?

Tidak diragukan bahwa Musa a.s. lebih tahu dan tidak layak baginya mengecam Adam a.s. hanya karena ia mengakibatkan dirinya dan keturunannya keluar dari sebuah taman yang keadaannya seperti ini. Akan tetapi jika surga tersebut tidak tersentuh kekurangan, tidak terputus buah-buahannya, tidak kering sungai

sungainya, penghuninya tidak merasa lapar dan dahaga, mereka tidak terkena sengatan panas matahari, tidak telanjang, tidak ditimpa kelelahan, tidak dituntut kerja keras, dan tidak menderita, maka orang yang menyebabkan dia dikeluarkan dari surga seperti itulah yang pantas mendapatkan celaan.

Adapun kata-kata Adam a.s. pada hari kiamat kepada orang-orang bahwa kesalahannya yang menyebabkan ia dikeluarkan dari surga sehingga ia tidak pantas meminta dibukakan pintu surga itu untuk mereka, maka ini tidak menjadi suatu kemestian bahwa surga itu adalah tempat asal dia dikeluarkan. Akan tetapi, apabila surga yang diminta orang-orang untuk dibukakan itu bukan surga asal Adam a.s. dikeluarkan, maka hal ini lebih tepat dan lebih mengena. Karena jika ia dikeluarkan dari surga selain surga kekekalan sebab suatu kesalahan, maka bagaimana ia pantas memohon dibukakan surga kekekalan dan memberi syafaat di dalamnya.

Demikianlah pendapat kedua golongan tersebut, dan itulah akhir dari argumenatsi-argumentasi yang mereka ajukan. Maka, barangsiapa yang memiliki keunggulan pengetahuan mengenai masalah ini, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam membahasnya, karena saat ini kesungguhan itu sangat dibutuhkan. Barangsiapa yang menyadari batas kemampuan dan kadar keilmuannya, maka hendaknya dia menyerahkan permasalahan ini kepada ahlinya dan hendaknya dia tidak membiarkan orang lain menghina dan meremehkannya. Hendaknya dia menjadi mata-mata dalam peperangan, jika dia tidak memiliki keahlian dalam berperang, menyerang, bertanding, dan memainkan senjata. Karena dalam medan ini para pemberani telah bertemu, pedang saling menusuk, dan ruang gerak sudah sempit.

"Jika orang-orang yang ksatria itu telah bertemu,

maka bagaimana nasib orang-orang lemah yang ada di tengah-tengah”

Inilah kumpulan dari argumentasi kedua kelompok yang melintas di depanmu dan digiring ke arahmu. Inilah barang dagangan para ulama yang mereka tawarkan di tengah pasar yang sepi, bukan di pasar yang laris. Barangsiapa yang sama sekali tidak memiliki piranti untuk menjelaskan dan menganalisa masalah ini, maka jangan sampai tidak membenarkan atau memberi maaf kepada orang yang telah mencurahkan usahanya dan menumpahkan kemampuannya. Hendaknya jangan sampai ia rela melihat dirinya mengalami nasib yang paling buruk dan paling rendah. Yaitu, pertama tidak mengetahui kebenaran dan wasilah-wasilahnya, kedua memusuhi pemilik dan pencari kebenaran tersebut. Jika keinginanmu terlalu sulit dan jarang, seperti sahabat yang mau memberi nasehat dan pandai, maka pergilah dengan cita-citamu di tengah orang-orang mati. Dan, kamu harus belajar dari Maha Gurunya Nabi Ibrahim. (Yang dimaksud dengan Mu'allim (Guru) Ibrahim adalah Tuhan Yang MahaTinggi di mana Syaikhnya pengarang, Ibnu Taimiyyah rahimahullah apabila menutup suatu masalah dia berkata, "Wahai Guru Ibrahim, ajarilah aku.")

Dalam pembahasan ini telah kami sebutkan riwayat-riwayat, dalil-dalil, dan poin-poin menarik, yang kemungkinan tidak didapatkan dalam buku-buku lainnya. Hanya para penulis unggul yang mengetahui nilai dari apa yang telah kami paparkan tadi.

Hanya kepada Allah SWT kami memohon pertolongan, bertawakal, dan bersandar. Sesungguhnya tidak akan merugi orang yang bertawakal kepada-Nya, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang berlindung serta menyerahkan urusannya kepada-Nya. Hanya Dialah Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung.

Wallahu ‘alam bishowab





 
Mencari Alternatif...

Pertanyaan Terkait Rahasia Allah dalam Menurunkan Adam ke Bumi

Berlangganan

Suka dengan Jawaban di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tidak puas dengan jawaban ini?, silahkan tambahkan Jawaban alternatif lain yang lebih tepat.