6/11/2012

Fenomena Kepercayaan tahayul dan syirik yang sulit dihilangkan

Memang dijaman modern ini masih saja banyak yang percaya tentang kesyirikan entah itu klenik-klenik, tahayul, mitos dan sebagainya. Bukannya semakin hilang kepercayaan syirik ini malah semakin merajalela. Salah satu hal yang perlu diwaspadai tentang persepsi masyarakat sekarang ini adalah pohon ini dan itu ada penunggunya dan sebagainya. Kita mempercayai hal itu termasuk syirik, apalagi sampai memberi sesajen / persembahan untuk pohon itu. Meskipun mengaku islam tapi memopercayai hal itu sudah dianggap tidak islam lagi atau musyrik. Salah satu contohnya adalah fenomena awan merapi yang berbentuk seperti anggota punakawan / petruk. Padahal hal itu hanya imajinasi orang saja, tetapi telah meningkat ke level musyrik ketika mempercayai awan itu mempunyai pengaruh ini dan itu.

Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober 2010 selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.
Mitos Mbah Petruk dikaitkan oleh masyarakat dengan pemuka jin. Ia bertugas memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Gunung Merapi, termasuk memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi. Di pundak jin inilah, menurut isu yang sempat beredar, keselamatan penduduk tergantung.

Namun, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menilai asap berbentuk Petruk itu tidak ada arti apa-apa. "Asap seperti itu bisa berbentuk apa saja. Kalau ada yang mengatakan itu pertanda akan ada letusan yang lebih besar saya rasa itu hanya mitos saja," ujar Subandriyo.
Ponimin (50) yang disebut-sebut "sakti" seperti Mbah Maridjan, punya penafsiran sendiri. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta. Permadi, seorang paranormal, dalam sebuah infotainmen di sebuah televisi swasta nasional memiliki pendapat yang hampir serupa dengan Ponimin.

Namun, Masyarakat Cepogo dan Selo yang menjadi "basis kerja" Mbah Petruk pada "masa lalu" justru memiliki versi yang cenderung berbeda. Dalam versi masyarakat Selo, Mbah Petruk seringkali disebut-sebut sebagai anak seorang pejabat atau versi lain Wedana. Pada era ini Selo merupakan wilayah dari kawedanan Ampel yang membawahi Ampel, Cepogo, Paras, dan Selo. Versi ini tidak bertentangan dengan versi cerita cerita warga Cepogo. Nama asli Mbah Petruk sebenarnya adalah Kyai Handoko Kusumo. Beliau ini merupakan penyebar Islam di Merapi pada sekitar era 1700-an.


Wilayah geraknya lebih banyak meliputi Cepogo bagian atas dan tidak menutup kemungkinan juga di wilayah yang lain. Dalam cerita tutur digambarkan bahwa ia memiliki bentuk badan yang agak bungkuk. Kyai Handoko Kusumo adalah seorang keturunan Arab. Bentuk hidungnya yang lebih mancung dari kebanyakan orang Jawa itu lah yang membuat dirinya dikenal dengan nama Mbah Petruk oleh Masyarakat setempat. Petruk dalam mitologi Jawa merupa kan tokoh wayang punakawan yang memiliki bentuk hidung sangat mancung. Tentu menurut mereka, menghubungkan “Mbah Petruk” dengan tokoh pewayangan Petruk jelas merupakan sebuah kekeliruan. “Mbah Petruk” yang ini adalah seorang ulama yang di mungkinkan merupakan murid generasi kedua dari Sunan Kalijaga.

Memang hal itulah yang harus kita waspadai. Syirik adalah perusak tauhid. Padahal tauhid itu kunci surga. Tidak dibilang islam jika percaya syirik meskipun sekecil apapun. Karena konsekuensi syahadat adalah merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik sekecil apapun. Mengapa masih percaya ini dan itu padahal Allah-lah pengatur segalanya. memang syirik itu lebih halus daripada langkah semut dimalam gelap.Oleh karena itu akidah tauhid adalah adalah ilmu paling utama dipelajari setiap muslim supaya terhindar dari yang demikian.

Terlepas dari berbagai persepsi maupun versi yang bermacam-macam di atas, tidak selayaknya umat muslim mempercayai segala hal yang berbau kesyirikan, ramal meramal, tathayyur atau tasya’um (menganggap sesuatu bisa mendatangkan bahaya atau manfaat), dan hal-hal yang berseberangan dengan akidah Islam. Rasulullah telah mewanti-wanti tentang hal itu. Satu hal yang wajib selalu kita imani, persepsikan segala kejadian dengan dasar berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam

Ref : majalah al-ibar



Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
 

Pertanyaan Terkait Fenomena Kepercayaan tahayul dan syirik yang sulit dihilangkan

Berlangganan

Suka dengan Jawaban di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Tidak puas dengan jawaban ini?, silahkan tambahkan Jawaban alternatif lain yang lebih tepat.