METODE IMAM IBNU KATSIR DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR’AN -->

Kategori Jawaban

Iklan Semua Halaman

METODE IMAM IBNU KATSIR DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR’AN

@FauziTMG
11/09/2011
Question/ Pertanyaan/ Soal:

METODE IMAM IBNU KATSIR DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR’AN?

Answer/ Kunci Jawaban:
Dewasa ini k ita banyak menemukan kitab-kitab tafsir al-Qur’an dengan berbagai metode. Metode-metode yang dianut oleh ahli tafsir akan mempe.... Baca selengkapnya di JAWABAN.xyz

Jelaskan tentang METODE IMAM IBNU KATSIR DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR’AN?

Penjelasan:
http://blogbintang.com/wp-content/uploads/2011/11/tafsir-ibnu-katsir.jpg
Dewasa ini kita banyak menemukan kitab-kitab tafsir al-Qur’an dengan berbagai metode. Metode-metode yang dianut oleh ahli tafsir akan mempengaruhi relevansi makna dengan al-Qur’an. Jika kita tidak berhati-hati memilih kitab tafsir sebagai khasanah pengetahuan kita maka dikhawatirkan akan tersesat (karena tafsiran justru melenceng dari makna yang sebenarnya), karena barangkali ada sebuah kitab tafsir yang tidak menganut metode yang benar alias menafsirkan al-Qur’an dengan kemauan sendiri atau dengan akal yang serba terbatas itu. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh penganut Liberalisme dan kaum shufiyyah. Maka saran dari penulis jika anda ingin membaca kitab tafsir yang maknanya paling otentik dimasa ini adalah kitab tafsir karya ulama ahlussunah Ibnu Katsir Rahimahulullah. Hal itu telah terbukti dari banyaknya ulama-ulama yang merujuk kepada kitab ini untuk menjelaskan suatu permasalahan, selain itu prinsip Ibnu Katsir adalah menjaga keotentikan makna al-Qur’an dan untuk lebih jelasnya kita akan bahas dibawah beberapa metode beliau dalam menafsirkan al-Qur’an.

Karakater karya seseorang tidak akan bisa dilepaskan dari kecondongan minat orang tersebut, kira-kira seperti itu jugalah tafsir ibnu katsir. Sosok Ibnu Katsir yang condong kepada kesahihan dan keontetikan makna al-Qur’an telah mewarnai karya-karyanya. Begitu juga hal ini tidak bisa lepas dari kondisi jaman saat itu, perhelatan aliran pemikiran pada abad ke 7/8 H memang sudah kompleks. Artinya telah banyak aliran pemikiran yang telah ikut mewarnai karakter seseorang.

Pemahaman yang orisinil untuk mempertahankan keauntetikan Qur`an dan sunnah terus dijaga. Inilah sebagian pewarnaan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Selain itu, kelompok-kelompok yang mengagungkan akal secara berlebihan dan thariqah-thariqah shufiyah telah beredar luas kala itu. Islam telah berkembang pesat dan banyak ‘agamawan’ yang masuk ke dalam Islam. Hal ini ikut pula mempengaruhi sekaligus mewarnai perkembangan wawasan pemikiran.

Ibnu Katsir yang telah ter-sibghah / terinspirasi dengan pola pikir gurunya (Ibnu Taymiyah) sangat terwarnai dalam metode karya-karyanya. Sehingga dengan jujur Ia berkata, bahwa metode tafsir yang ia gunakan persis sealur dan sejalur dengan gurunnya Ibnu Taymiyyah. Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa tafsir ibnu katsir telah menjadi rujukan kategori tafsir bil-ma’tsur. Yang tentunya hal ini tidak bisa dipisahkan dari metode beliau dalam karyanya.

Beberapa metode yang digunakan Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an adalah sebagai berikut :

1. Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Pendeknya, Ia menjelaskan satu ayat dengan ayat yang lain, karena dalam satu ayat di ungkapkan dengan abstrak (mutlak) maka pada ayat yang lain akan ada pengikatnya (muqayyad). Atau pada suatu ayat bertemakan umum (’âm) maka pada ayat yang lain di khususkan (khâsh). Ibnu Katsir menjadikan rujukan ini berdasarkan sebuah ungkapan, “bahwa cara yang paling baik dalam penafsiran, adalah menafsirkan ayat dengan ayat yang lain”. Pada contoh diatas yaitu surat al-Baqarah ayat 47, al-Baqaah ayat 210 serta an-Naba ayat 35, Ibnu Katsir menyitir ayat al-Qur’an ang lain untuk lebih jelas menafsirkannya.

2. Menafsirkan al-Qur`an dengan Sunnah (Hadits). Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai referensi kedua dalam penafsirannya. Bahkan dalam hal ini, Ibnu Katsir tidak tanggung-tanggung untuk menafsirkan suatu ayat dengan berpuluh-puluh hadits –bahkan mencapai 50 hadits – kasus ini bisa dilihat ketika menafsirkan surat al-Isrâ. Adapun pada contoh diatas terdapat pada surat al-Baqarah ayat 210.

3. Tafsir Qur`an dengan perkataan sahabat. Ibnu Katsir berkata, jika kamu tidak mendapati tafsir dari suatu ayat dari al-Qur`an dan Sunnah, maka jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan turunnya wahyu. Ia menjadikan konsep ini berdasarkan beberapa riwayat, di antaranya atas perkataan Ibnu Mas’ud: “demi Allah tidak suatu ayat itu turun kecuali aku tahu bagi siapa ayat itu turun dan di mana turunnya. Dan jika ada seseorang yang lebih mengetahui dariku mengenai kitab Allah, pastilah aku akan mendatanginya“. Juga riwayat yang lain mengenai didoakannya Ibnu Abbas oleh Rasululllah saw, “ya Allah fahamkanlah Ibnu Abbas dalam agama serta ajarkanlah ta’wil kepadanya“. Kita dapat melihat pada surat an-Naba ayat 31 beliau menukil perkataan Ibnu Abbas.

4. Menafsirkan dengan perkataan tabi’in. Cara ini adalah cara yang paling akhir dalam cara menafsirkan Al-Qur`an dalam metode bil-ma`tsur. Ibnu Katsir merujuk akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya, artinya, banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir. Seperti perkataan ibnu Ishaq yang telah menukil dari Mujahid, bahwa beliau memperlihatkan mushaf beberapa kali kepada Ibnu Abbas, dan ia menyetujuinya. Sufyan al-Tsauri berkata, “jika Mujahid menafsirkan ayat cukuplah ia bagimu”. Selain Mujahid, di antara ulama tabi’in adalah Sa’id bin Jabir, Ikrimah, Atha’ bin Rabah, Hasan al-Bashri, Masruq bin al-Ajdi, Sa’id bin Musayyab, Abu al-’aliyah, Rabi’ bin Anas, Qatadah, al-Dahhaak bin Muzaahim Radliyall^ahu ‘anhum[1]. Kita dapat melihat pada surat al-Baqarah ayat 47 beliau menukil perkataan Mujahid.

Nah, wahai kaum muslimin dan muslimat rahimahulullah semoga kajian diatas dapat menambah wawasan dan keimanan kita kepada Allah SWT Rabb Semesta Alam yang Maha Berilmu sehingga dengan kehendaknya kita mendapatkan Ilmu-Nya supaya menjadi penerang jalan kegelapan dikehidupan dunia ini, amien.

Wallahu ‘Alam



[1] Muhammad bin Shalih al –Utsaimin dan Nashiruddin al-Albani, Belajar mudah ilmu tafsir, terjemah Fariid Qusy, Jakarta : Daarus sunnah, 2005, hal. 67