belajar dari ulama : mengenal imam ahli hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim -->

Kategori Jawaban

Iklan Semua Halaman

belajar dari ulama : mengenal imam ahli hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim

@FauziTMG
11/02/2011
Question/ Pertanyaan/ Soal:

belajar dari ulama : mengenal imam ahli hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim?

Answer/ Kunci Jawaban:
1. Imam Bukhari, berhasil mengumpulkan 600.000 hadits Siapakah muslim yang tak kenal Imam Bukhari, dia adalah pengarang kitab pedoman kedua .... Baca selengkapnya di JAWABAN.xyz

Jelaskan tentang belajar dari ulama : mengenal imam ahli hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim?

Penjelasan:

1. Imam Bukhari, berhasil mengumpulkan 600.000 hadits
Siapakah muslim yang tak kenal Imam Bukhari, dia adalah pengarang kitab pedoman kedua (al-hadits) yang paling shahih dari yang pernah ada, yang kitabnya diberi nama kitab shahih bukhari dan karena keagungannya maka kitab ini dijadikan rujukan utama umat islam setelah kitab suci al-Qur’an. Dalam perjalanannnya mencari hadits Imam Bukhari banyak melawat ke tempat-tempat yang jauh untuk mengumpulkan dan mempelajari hadits Rasulullah saw. dan mengetahui latar belakang orang-orang yang meriwayatknnya. Daerah-daerah yang dikunjunginya adalah Syam (Suriah), Mesir dan Aljazair masing-masing dua kali, ke Basra empat kali, menetap di Makkah dan Madinah selama enam tahun, berulang kali ke Kufah dan Baghdad. Dari hasil kunjungannya tersebut Imam Bukhari berhasil mengumpulkan 600.000 hadits, dimana sebanyak 300.000 hadits berhasil dihafalnya di luar kepala, yang terdiri dari hadits shahih dan tidak shahih.

Dari begitu banyak karangannya yang paling terpenting dan terbesar adalah Kitab Al Jami’ As Shahih atau yang lebih dikenal sebagai Shahih Al Bukhari.
Imam Bukhari dilahirkan pada tahun 194 H di Bukhara dan wafat menjelang hari raya Idul Fitri tahun 256 H, dari seorang ayah yang saleh dan taat beribadah bernama Isma’il. Beliau banyak berguru pada para ustadz dan ahli hadits, salah seorang diantaranya bernama Ad Dakhili yang dianggapnya memiliki kemampuan menguasai ilmu hadits dengan baik. Sejak kecil Bukhari telah menunjukkan bakatnya yang luar biasa dalam menghafal dan memiliki kecerdasan diatas yang lain, disamping memiliki keberanian mengkoreksi kekeliruan periwayatan hadits dari guru atau ustadznya. Dalam menyusun kitab Al Jami’ as Shahih, beliau melibatkan lebih dari seribu orang yang terdiri dari para ahli hadits dan para perawi yang diajaknya berdiskusi untuk mencapai nilai originalitas tiap-tiap hadits.

Ketinggian kualitas, ketelitian dan kecermatan yang terkandung dalam kitab Shahih Bukhari baik dari segi materi maupun perawinya, mengangkat kitab tersebut pada peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadits yang muktabar. Selanjutnya diikuti kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah.
Imam Bukhari mengatakan bahwa dalam menyusun kitabnya tersebut beliau selalu melaksanakan shalat dua rakaat sebelum mencantumkan sebuah hadits sekalipun.
Meskipun sibuk dengan mempelajari dan menyusun hadits, beliau tidak melupakan olah raga kegemarannya yaitu memanah, dimana hampir semua anak panah yang pernah dilepaskan dari busur mengenai sasarannya; dia tidak pernah membanggakan prestasinya bahkan terus berlatih.
Pada saat berkunjung ke Baghdad Imam Bukhari didatangi beberapa orang ahli hadits yang sengaja bermaksud menguji kemampuannya. Mereka mengemukakan seratus hadits yang sengaja diputar balikkan matan (isi atau substansi hadits) dan sanad nya (rangkaian urutan perawi hadits). Sewaktu hadits tersebut dibacakan dihadapan Imam Bukhari, beliau menyatakan: “Aku tidak mengetahuinya!”. Berulang-ulang jawaban yang sama diberikan, sampai pada akhirnya dikatakannya: “Hadits yang kamu bacakan tadi sebenarnya adalah seperti ini (dan seterusnya)”, hingga semua riwayat dikembalikan pada sanad dan matannya semula yang benar. Berita atas peristiwa ini tersebar kemana-mana sehingga semakin banyak orang yang menghormati dan mengakui kelebihannya.
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui”.
(Surat An Nisa ayat 69 – 70).
Sebagaimana pada setiap mukmin, untuk mencapai keImanan dan kedudukan di sisi Allah yang lebih tinggi, Imam Bukhari mendapat ujian dan cobaan yang menuntut kesabaran dan keteguhan hati.
Atas permintaan gurunya yang bernama Az Zihli, beliau terpaksa meninggalkan Naisabur karena perselisihan paham dengan gurunya tersebut.
Sesampainya di kota kelahiran Bukhara, Imam Bukhari disambut hangat oleh penduduk dengan upacara yang meriah. Beliau menetap disana dan sempat mengajar ilmu hadits dikotanya tersebut untuk beberapa lama. Namun ujian berikutnya datang menerpa dimana Gubernur Bukhara yang bernama Khalid bin Ahmad ingin memiliki kitab Al Jami’ Ash Shahih dan At Tarikh Al Kubra. Keinginan ini tidak dipenuhi oleh Imam Bukhari, yang menyebabkan Gubernur marah sekali dan mengusir beliau dari kampung halamannya. Imam berdo’a dan menyerahkan permasalahan ini kepada Allah Yang Maha Adil. Beberapa hari kemudian Sultan Uzbekistan, Ibn Tahir menghukum Gubernur dan diharuskan menunggang keledai himar perempuan berkeliling kota dan akhirnya dihukum.
Melihat keadaan Imam Bukhari warga Samarkand tergerak hatinya, mereka mengundangnya untuk tinggal menetap dan mengajar disana. Permintaan ini dipenuhinya, tapi baru sampai di desa Khartand beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Akhirnya pada malam menjelang Idul Fitri 256 H beliau wafat pada usia 62 tahun dan jenazahnya dimakamkan sehabis dhuhur, sementara orang merayakan hari raya Idul Fitri.

2. Imam Muslim, Menyaring 300.000 hadits dalam 15 tahun.
Seorang muhaddis (ahli hadts) terkenal sesudah Imam Malik adalah Imam Muslim yang sempat berguru kepadanya selama menetap dan menyebarkan ilmu di Naisabur.
Kepribadian Imam Muslim yang diteladani oleh murid-muridnya adalah wara’ (menjauhi hal-hal yang syubhat atau meragukan), zuhud (tidak berorientasi pada kemegahan duniawi dan kekayaan bendawi), tawadhu’ dan ikhlas, yang didukung oleh kecerdasan luar biasa, ketekunan dan kemauan belajar yang kuat.
Beliau dilahirkan pada tahun 202 H di Naisabur dan wafat pada usia 59 tahun di kota yang sama. Sejak remaja pada usia 14 tahun, Imam Muslim yang nama lengkapnya Abu al Husain Muslim bin al Hajjal al Qusyairi an Naisaburi, sudah sering mengikuti pembahasan yang mengupas hadits-hadits Rasulullah saw. Keinginannya untuk mengembangkan ilmu dan memperluas wawasan, membawanya kenegeri-negeri Hedzjaz, Irak, Suriah dan Mesir.
Sebagaimana yang dilakukan Imam Bukhari, beliau juga menulis banyak kitab yang dijadikan sumber atau referensi penulis-penulis sesudahnya, dan yang paling terkenal adalah Kitab al Jami’ as Shahih Muslim yang lebih dikenal sebagai Shahih Muslim, yang menurut salah seorang Guru Besar Universitas Damsyik didalamnya termuat 3030 hadits tanpa pengulangan atau 10.000 hadits dengan pengulangan. Hadits sebanyak ini sudah merupakan saringan dari 300.000 hadits yang diperolehnya selama masa pengumpulan, dan untuk menyeleksinya Imam Muslim menghabiskan waktu selama lima belas tahun.
Metode penyeleksian yang digunakan kedua Imam hadits ini tidak jauh berbeda, antara lain rangkaian sanadnya tidak terputus hingga ke ujung sumber yakni Rasulullah saw., dimana para perawi adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas, dapat dipercaya atau siqat. Sedikit perbedaannya adalah syarat bagi perawi yang diterapkan Imam Muslim tidak seketat persyaratan Imam Bukhari dimana seorang perawi harus benar-benar bertemu dengan perawi sebelumnya.

Keistimewaan Imam Muslim dalam menyusun kitab haditsnya tersebut terletak pada ketelitiannya menggunakan lafal yang sama sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw. Sedangkan susunannya lebih sistimatis hingga mudah ditelusuri sesuai topik atau perihal yang dikehendaki.

“Engkau tidak berceritera kepada suatu kaum tentang sebuah cerita yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran mereka, melainkan cerita itu akan menjadi fitnah bagi sebagian golongan dari mereka”.
(HR. Imam Muslim).
Selama melakukan rihlah (perjalanan) dalam rangka memperkaya hasanah ilmu dan memperluas wawasan, Imam Muslim disamping mengunjungi berbagai negeri, beliau beberapa kali mendatangi para ahli hadits di Baghdad dan meriwayatkan hadits disana. Imam Muslim mendapat pengakuan sebagai Imam hadits yang paling terkemuka dan produktif serta memiliki keteladanan kepribadian yang terhormat.
Seorang ulama terkemuka kota Baghdad bernama Al Khatib Al Baghdadi mengatakan: “Sesungguhnya Imam Muslim mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Imam Bukhari”.
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah memberikan pemahaman yang baik tentang agama”.
(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Semoga Allah swt. melimpahkan rahmatNya kepada beliau berdua. Amin.