nasehat kepada muslimah : memilih calon suami -->

Kategori Jawaban

Iklan Semua Halaman

nasehat kepada muslimah : memilih calon suami

@FauziTMG
10/31/2011
Question/ Pertanyaan/ Soal:

nasehat kepada muslimah : memilih calon suami?

Answer/ Kunci Jawaban:
Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kita calon suami yang menjadi imam, yang akan membimbing kita pada kesempurnaaan iman da taqwa kepada All.... Baca selengkapnya di JAWABAN.xyz

Jelaskan tentang nasehat kepada muslimah : memilih calon suami?

Penjelasan:
http://www.imagelk.com/data/media/11/Blue-Heart-With-Wings-1.jpg

Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kita calon suami yang menjadi imam, yang akan membimbing kita pada kesempurnaaan iman da taqwa kepada Allah. Dan mudah-mudahan kita dihindarkan dari hadirnya seorang calon suami yang tidak mengerti tanggungjawab ”keimannanya”, sumber fitnah dan kesengsaraan batin bagi istri dan keluarga. Nauzdubillah….

Setelah doa dipanjatkan, ada ikhtiar yang harus kita lakukkan. Ada ilmu yang harus dipahami kemudian menjadinya sebagai keyakinan dalam hati. Ini mengenai calon suami. Ketika kita benar-benar memiliki kesiapan untuk menikah, hal yang apakah yang perlu diketahui?. Bagaimana menentukan calon suami yang baik, yang kelak bisa menjadi imam bagi istri dna anak-anaknya?.

Sulit tidaknya menentukan calon suami adalah perkara subyektif bagi masing-masing orang. Sebagian berasumsi mudah untuk mendapatkan suami yang cocok dengan yang diharapkan. Apalagi menurut yang sudah dikenal, sudah lama pacaran, luar dalamnya calon suami sudah diuji dengan matang. Tanggung jawab, penyayang, perhatian, mapan dan sedikit tampan. Begitu kira-kira hasil penilaian akhir yang kemudian memantapkan seorang wanita untuk menikah dengan sang pacar.

Anehnya, ukuran-ukuran yang sudah diuji beberapa kali dalam masa-masa interaksi sebelum menikah iku kadang dan bahkan sering meleset dari harapan. Tak sedikit perhatian dan ungkapan rasa cinta suami menjadi berubah menjadi asing dan ”mahal”. Ketika sudah berada dalam bingkai rumah tangga. Layaknya kelapa yang tinggal ampasnya. Tak ada manisnya lagi dalam interaksi, seakan-akan terus habis seiring perjalaanan usia. Bosan, tidak betah, puber kedua atau apalah istilahnya yang sering jadi alasan. Kenyataan tak sesuai harapan. Rumah sesalu terisi dengan kekecawaan, keluh kesah dan penyesalan. Bahkan sampai berujung pada perpecahan rumah tangga/perceraian.

Kenapa demikian?. Padahal dulu waktu pacaran katanya sudah mengenal luar dalam? naudzubillah, Hanya yang kita ketahui bersama, bahwa rumah tangga rusak itu disebabkan karena rumah tangga tidak barokah. Sedangkan penyebab ketidakbarokahan rumah tangga ada banyak. Yang paling besar adalah disebabkan kekeliruan dalam niat dan proses-proses sebelum menikah. Ada baiknya kita renungkan sabda Rasulullah berikut ini : ” Barang siapa yang menikahkan ( putrinya ) karena silau dengan akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarokahi!!” (HR. Thabrani).

Barokah itu ada dalam keluarga yang sakinah, aman dan tentram penuh kasing sayang. Dialah yang menentukan baik tidaknya perjalanan sebuah rumah tangga. Salah niat ketika menikah bisa mendatangkan ketidakbarokahan. Mungkin seorang wanita yang gila harta, tidak menikah karena harta calon suami, tapi apakah dia sudah memperhatikan AGAMA dan AKHLAKNYA?. Padahal buruknya agama dan akhlak seorang calon suami adalah AKAR dari KETIDAKBAROKAHAN.

Cara untuk belajar menjadi istri terbaik adalah hanya melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri, yang sebelum itu diikat olah tali pernikahan yang sah. Tidak bisa melalui pacaran. Pacaran hanya akan menjerumuskan kedalam perbuatan keji zina. Dan pacaran adalah termasuk perbuatan yang merupakan pintu terlebar mendekati zina.

MENENTUKAN CALON SUAMI

kita harus tahu bagaimana agamanya. Kita harus tahubagaimana mereka bersikap erhadap Allah dan Rasulnya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, bagaimana menentukan seorang laki-laki itu sudah baik agamanya atau tidak?

Sebelumnya, harus kita bedakan antara ”mengerti ilmu agama” dan ”paham beragama”. Yang pertama hanya berputar di wilayah pengetahuan. Bisa karena terkondisikan oleh lingkungan atau keturunan. Misalnya pernah mondok, kuliah di universitas Islam atau dari keturunan keluarga pintar agama. Tapi hal ini belum signifikan berkaitan dengan seseorang faham agama.

Yang dimaksudkan disini, adalah ”Faham dalam Beragama”. Agama seseorang diukur dari dua hal, yaitu hati dan perilakunya. Agama adalah kesatuan Iman dan Akhlak. Al-Islam atau keselamatan adlaah perwujudan iman dan amal shalih, dalam Al-Quran banyak disebutkan kata Iman yang bergandengan dengan Amal Shalih. Salah satunya berikut ini : ”Allah menjanjikan kepada orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(Al-Fath : 29)”.

Kita akan bisa melihat dari dua hal tersebut, hati dan akhlak. Tentang hati, tak ada yang bia mengetahui baik tidaknya. Hanya Allah dan si pemilik yang tahu. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu dibebani rasa keingintahuan terhadap kondisi hati atau kualitas keimana seseorang. Hanya saja, kondisi hati sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan cara seseorang mengambil tindakan. Hubungan keduanya, telah ditegaskan oleh Rasulullah , ”ketahuilah, sesungguhnya di dlam jasad terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruhnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruhnya. Dan itulah (yang dinamakan) hati”. (HR. Bukhori-Muslim)

Yang kedua akhlak. Kita bisa memperhatikan kefahaman agama seseorang melalui akhlaknya. Rasulullah bersabda : ”Kaum mukmini yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik kepada istri-istrinya. ”(HR. Tirmidzi)

Inilah yang harus menjadi perhatian kita terhadap lelaki yang melamar kita. Perhatikan bagaimana akhlaknya dalam keseharian. Akhlak yang baik akan membawa kesejaheraan runah tangga. Suami yang baik akhlaknya, akan bersikap baik kepada istrinya. Saat itulah, suami istri masing-masing bisa bertindak sebagai tiang penyangga. Saling mendukung, saling menyemangati dalam melakukkan ketaatan kepada Rabbnya. ”... Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(Q.S At-Taubah : 88)


Wallahu 'Alam